Salam Sejahtera bagi Kita Semua,
Blog ini dimaksudkan untuk menjadi wahana komunikasi lintas disiplin, khususnya yang berminat dalam bidang arsitektur dan fenomenologi. Harapannya, semoga dapat dikumpulkan berbagai pengalaman para pihak yang meminati arsitektur dan/atau fenomenologi sebagai dua dunia yang saling berdialog. Komunikasi dua disiplin ini menarik untuk dikumpulkan supaya terjadi proses pembelajaran dan pengembangan pada kedua bidang tersebut yang saling memperkaya dan akhirnya akan menyumbang bagi kualitas kehidupan manusia secara mendalam.
Selamat bergabung dan menikmati informasi dalam blog ini,
Salam,
Djarot Purbadi
bagus sekali pak
Oleh: tinus on Oktober 6, 2008
at 8:10 am
Terima kasih ya Dik Tinus, atas dorongan semangat yang kau berikan.
Oleh: djarotpurbadi on Oktober 6, 2008
at 10:22 pm
Dengan Hormat ,
Saya mendapatkan tugas untuk mendeskripsikan sebuah objek secara fenomenologis dari dosen saya , dan terus terang saya mengalami kesulitan untuk mendeskripsikannya , misalnya fenomenologi : CINTA ( dilihat dari sisi fenomenologi nya ) , SEPATU , dan KERTAS , saya sudah mencoba membuat deskripsi menegnai ketiga hal tersebut dan nilai saya D , mohon penserahan dari anda bagaimana saya seharusnya mendeskripsikan ketiga hal tersebut secara jelas singkat dan padat dari sisi fenomenologi , terus terang saya sangat bingung sekali dan fenomenoogi iniadalah sesuatu yang baru bagi saya . terima kasih atas perhatiannya .
regards
chris
Oleh: chris on Oktober 11, 2008
at 7:59 am
Dear Chris, terima kasih atas tanggapannya. Sebenarnya penjelasan saya belum selesai tentang Husserl, sebab ada butir penting lain yang saya temukan pada pustaka lain. Sebentar lagi akan saya lengkapi fenomenologi Husserl menurut van Peursen, yang menurut saya lebih praktis. Dari Bertens kita belajar filsafat fenomenologi Husserl dan dari van Peursen kita bisa belajar praktek yang lebih membumi.
Menurut saya, harus ditetapkan lebih dahulu fenomenologi versi siapa yang akan digunakan, sebab ada beberapa versi sesuai dengan tokoh yang menciptakannya. Pencipta awalnya Husserl, kemudian ada Heidegger, Marleau Ponty, dsb. Mereka punya filosofi yang berbeda tentang fenomenologi yang mereka gunakan.
Setelah ditetapkan, pelajari secara mendalam, bagaimana filosofi dari fenomenologi tersebut, kemudian stelah dipahami akan ditemukan bagaimana cara melihat yang pas dengan fenomenologi aliran yang dipilih itu. Selanjutnya praktekkan.
Kalau kita mengikuti Husserl, kita harus memahami apa filsafat pengamatan fenomenologis yang dikembangkannya, dan setelah itu kiat baru bisa mempraktekkannya. Husserl menggunakan logika transenden, ada unsur penyeberangan dari fenomena yang kita lihat. Kalau kita melihat tampak depan rumah maka kita sudah mengandaikan ada tampak belakangnya, meskipun saat itu tidak kelihatan.
Salam,
Djarot
Oleh: djarotpurbadi on Oktober 13, 2008
at 7:51 am
sangat menarik, apa beda Husserl dan Heideger, kenapa Husserl lebih populer dibanding Heideger, ada kespesifikan tersediri untuk studi2 yang dilakukan ?
Oleh: ahda mulyati on Oktober 26, 2009
at 6:10 pm
makasih ya pa Djarot, sedikit demi sedikit saya belajar memahami fenomenologi Husserl, saya akan coba menerapkan pada penelitian-penelitian saya, salam hormat, tapi kayaknya masih harus banyak belajar dari bapa, semoga pada acara kemisan2 selanjutnya kami yang baru2 semakin mengerti dengan era fenomenologi ini.
Oleh: ahda mulyati on Oktober 26, 2009
at 6:31 pm