Oleh: djarotpurbadi | Oktober 4, 2008

Mengenal Kunci-kunci Fenomenologi Husserl menurut Bertens (1990).

Oleh: Djarot Purbadi, Sudaryono dan Achmad Djunaedi

Minimal ada enam kunci penting untuk memahami fenomenologi versi Husserl yang dapat ditemukan dalam tulisan Bertens (1990), yaitu: (1) pemahaman terhadap obyek mengikuti proses tertentu yang tidak bersifat garis lurus, (2) fenomenologi mempelajari apa yang tampak oleh kesadaran manusia dan itu adalah realitas, bukan kabut atau tirai realitas, (3) penampakan obyek melalui proses konstitusi oleh kesadaran yang intensional dan aktif, (4) pemahaman yang sungguh-sungguh tentang obyek dapat diperoleh secara mendalam jika melibatkan aspek proses terbentuknya obyek, (5) sikap fenomenologi sangat berhati-hati terhadap profil-profil penampakan sebagai bagian dari penampakan obyek yang total dan absolut, dan (6) dunia (realitas) selalu terkait dengan kesadaran, maka kesadaran selalu intensional, terarah kepada sesuatu.

PEMULA ABADI “ein ewige Anfaenger” adalah sebutan untuk Husserl dirinya sendiri, maksudnya: jika ia terbentur kesulitan baru, ia tidak membuang pemikiran sebelumnya melainkan seluruh permasalahan diselidiki kembali secara lebih mendalam (Bertens, 1990: 100). Dengan ungkapannya itu ingin dikatakan bahwa bagi Husserl proses memahami obyek bukan berjalan menurut garis lurus (seperti faham Descartes), melainkan memiliki proses yang berbeda. Gagasan Husserl ini tampaknya terkait dengan proses konstitusi dalam menemukan pemahaman yang erat kaitannya dengan cara penampakan obyek kepada subyek lewat profil-profil.

Dalam praktek, jika ingin mengetahui sungguh-sungguh tentang obyek arsitektur, misalnya, realitas ruang di Jalan Malioboro, pengamat tidak dapat hanya melakukan proses pengamatan ”sekali jalan” melainkan harus dilakukan proses-proses pengamatan yang berkali-kali dan berulang (iteratif). Dalam strategi tertentu, dapat dilakukan proses pengamatan secara menjelajah (grandtour) yang dipadukan secara intensif dengan proses pengamatan terfokus (minitour). Jadi tidak berjalan dengan pola proses garis lurus melainkan iteratif dengan strategi tertentu.

FENOMENOLOGI adalah ilmu yang mempelajari apa yang tampak atau apa yang menampakkan diri (fenomena)(Bertens, 1990: 100). Tetapi perlu dipahami bahwa fenomena versi Husserl berbeda dari fenomena versi Kant. FENOMENA menurut Kant, manusia hanya mengenal FENOMENON bukan NOUMENON (realitas), manusia hanya mengenal fenomen-fenomen dan bukan realitas itu sendiri. Bagi Kant, yang tampak ialah semacam tirai selubung realitas, jadi bukan realitas itu sendiri (Bertens, 1990: 100). Manusia hanya mengenal pengalaman batinnya sendiri yang diakibatkan oleh realitas, bukan realitas itu sendiri (ibid). Fenomena bukanlah realitas (noumena). Fenomena menurut Husserl adalah realitas itu sendiri yang tampak, sebab tidak ada selubung atau tirai yang memisahkan manusia dari realitas (Bertens, 1990: 101). Kesadaran manusia selalu terarah kepada realitas, maka bersifat intensional, jadi “kesadaran akan sesuatu” (ibid). Pengalaman estetis selalu terkait dengan obyek estetis (ibid) di dalam kesadaran pengamat.

Jika menerapkan kunci ini, pengamat harus bersikap tegas bahwa apa yang ditemui di lapangan adalah realitas yang dijumpai. Artinya, tidak ada realitas lain di luar apa yang diamati dan dijumpai di lapangan. Ketika pengamat menjumpai bahwa di Malioboro banyak pedagang kaki lima, maka harus disimpulkan bahwa realitas PKL memang sungguh ada di Malioboro.

KONSTITUSI adalah proses tampaknya fenomen-fenomen kepada kesadaran, jadi suatu aktivitas kesadaran yang memungkinkan tampaknya fenomena (Bertens, 1990: 101); dunia real dikonstitusi oleh kesadaran (ibid). Kesadaran harus ada di dunia supaya penampakan dunia dapat berlangsung (Bertens, 1990: 102). Kesadaran bersifat aktif. Proses persepsi dapat menjelaskan arti konstitusi yang dimaksudkan oleh Husserl (102). Bagi persepsi, gunung yang saya lihat adalah sintesis semua perspektif (pandangan atau penampakan dari segala arah), maka gunung itu telah mengalami konstitusi (ibid).

Pengamat yang menerapkan kunci ini sangat sadar bahwa fenomena kehidupan di Jalan Malioboro harus diamati berkali-kali dan dari berbagai sudut pengamatan. Jika mengikuti kunci ini, maka proses grandtour dapat dilakukan berkali-kali, demikian juga proses minitour. Pengamat akan melakukan proses pengamatan menjelajah berkali-kali untuk mendapatkan hasil atau gambaran kehidupan di Malioboro yang bersifat garis besar. Nah, proses pengamatan berkali-kali juga dapat dan perlu dilakukan juga pada proses minitour, yaitu mengamati berkali-kali obyek tertentu, misalnya: parkir, toko kain, toko obat, atau lainnya yang dibatasi spesifikasinya.

PROSES HISTORIS atau KESADARAN SEJARAH merupakan kunci terakhir dalam pemikiran Husserl tentang fenomenologi, yaitu bahwa segala hal yang tampak saat ini hanya dapat dipahami sungguh-sungguh jika dikaitkan dengan sejarah terbentuknya (Bertens, 1990: 102). Terbentuknya suatu kota atau desa hanya dapat diterangkan dengan menyelidiki perkembangannya (ibid).

Jika pengamat ingin menerapkan kunci ini, maka perlu digali informasi yang mendalam tentang proses terjadinya obyek. Fenomena ruang kota di jalan Maliboro saat ini dilihat lebih cermat dengan informasi tentang proses terjadinya elemen-elemen di dalamnya. Keberadaan pedagang makan lesehan di Malioboro yang sekarang terkenal dapat dipahami dengan sungguh-sungguh jika dapat diperoleh informasi yang ditelusuri menembus waktu sejarah. Artinya, informasi tentang proses terbentuknya suatu obyek di jalan Malioboro perlu digali dengan proses iteratif sehingga diperoleh tingkat kemantapan informasi yang kokoh.

REDUKSI FENOMENOLOGIS atau REDUKSI TRANSENDENTAL (Bertens, 1990: 103). Reduksi merupakan batu sendi bagi seluruh filsafat Husserl. Ia membedakan adanya sikap natural dan sikap fenomenologis. Sikap natural adalah meyakini bahwa dunia sungguh-sungguh ada sebagaimana diamati dan dijumpai, sedangkan sikap fenomenologis ”menetralkan” (bukan menyangsikan, seperti Descartes) keberadaan dunia yang diyakini oleh sikap natural. Husserl tidak mempercayai keberadaan dunia jika sekedar apa yang diamati dan dijumpai sebab ia punya keyakinan bahwa setiap penampakan selalu bersifat profil-profil. Ia yakin bahwa cara penampakan obyek selalu bersifat sepotong-sepotong, sehingga diperlukan proses pengamatan yang berkeluasan dalam ruang. Setiap penampakan kepada subyek tidak pernah menurut semua profilnya, secara total dan absolut.

Pengamat yang mempraktekkan kunci ini akan berusaha tenang dan kritis terhadap apapun yang ditemui di lapangan. Jika yang diperoleh adalah informasi verbal, misalnya tentang sejarah PKL di Malioboro, maka ia akan berhati-hati. Informasi dari seorang informan akan diletakkan sebagai sepotong informasi yang perlu dilihat kaitannya dengan informasi dari informan lain. Sikap ini lahir dari pemikiran, bahwa yang dilihat atau didengar adalah ”profil-profil” realitas yang masih perlu ”dikonstitusi” oleh kesadaran pengamat. Informasi itu bukan realitas yang total dan absolut, melainkan informasi sebagian-sebagian yang masih perlu dijahit (dikonstitusi) oleh ksadaran pengamat yang akhirnya akan membentuk realitas yang utuh.

INTENSIONALITAS KESADARAN merupakan konsep kunci dalam fenomenologi Husserl (Bertens, 1990: 104). Kesadaran selalu terarah kepada dunia, sebagai intensional. Dunia dalam pandangan Husserl selalu terkait dengan kesadaran manusia, sebab dunia selalu merupakan korelat bagi kesadaran; dunia sebagai fenomen. Pengamat yang menerapkan kunci ini selalu sadar bahwa obyek yang diamati adalah obyek yang dikenai kesadarannya, sedangkan obyek yang luput dari kesadarannya tidak termasuk dalam fenomena yang diamatinya.

Dalam praktek di lapangan, sebuah obyek akan digali informasinya jika masuk dalam bidang kesadaran pengamat. Misalnya, pengamat mengarahkan kesadarannya pada fenomena lesehan di Malioboro, maka hanya obyek itulah yang tampak dan digali informasinya. Obyek lain barangkali untuk sementara disimpan dan akan menjadi sasaran penggalian informasi jika kesadaran diarahkan kepadanya.

Pustaka: Bertens, K., 1990, Filsafat Barat Abad XX Inggris-Jerman, Jakarta: PT Gramedia

————–

Ir. Y. Djarot Purbadi, MT, kandidat doktor Arsitektur pada Program Pasca-sarjana Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada

Ir. Sudaryono, M.Eng.PhD, asisten profesor pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada

Ir. Achmad Djunaedi, MUP, Ph.D, profesor pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada


Tanggapan

  1. thanks ya.. lg cari artikel ttg awareness nih.. pusing.. lumayan kebantu.. thnks gbu


Beri tanggapan

Your response:

Kategori