Oleh: Djarot Purbadi, Sudaryono dan Achmad Djunaedi
Dari tulisannya, terlihat jelas bahwa cara Van Peursen melihat fenomenologi berbeda jika dibandingkan dengan Bertens (1990). Selain itu, elemen-elemen yang dibahas juga berbeda. Dalam membahas fenomenologi Husserl, Van Peursen menekankan relasi yang khas antara obyek yang diamati dengan subyek yang melihat. Adapun kunci-kunci fenomenologi Husserl menurut Van Peursen adalah (1) relasi subyek dan obyek, (2) transendensi, (3) pemahaman melalui pengamatan bertahap, dan (4) horison-horison, (5) logika transendental, dan (6) cakrawala kenyataan. Bagaimanapun juga, pandangan van Peursen melengkapi gambaran kita tentang fenomenologi versi Husserl yang dikupas oleh Bertens (1990).
Menurut an Peursen (1988: 59) fenomenologi adalah meneliti data menurut bentuk penampakannya, sebab setiap fenomen menunjuk sesuatu di luar dirinya. Van Peursen tidak menjelaskan secara detil dan formal tentang pengertian fenomen seperti yang dilakukan oleh Bertens (1990), yang memberikan pengertian fenomen – noumen menurut Kant dan Husserl yang berbeda. Ia lebih melihat fenomen dalam kaitan dengan relasi subyek-obyek, yaitu data. Bagi van Peursen, fenomen adalah sesuatu yang di luar subyek, yaitu dunia obyek-obyek. Tampaknya van Peursen ingin mendekati fenomenologi dengan cara yang praktis dan tidak terjebak pada definisi yang ketat (filosofis), meskipun menyadari adanya resiko atas sikapnya itu.
Kunci pertama, relasi subyek dan obyek. Relasi SUBYEK – OBYEK mendapat tekanan khusus pada Husserl, khususnya struktur subyek yang mengetahui (Peursen, 1988: 59). Dalam penjelasannya, van Peursen menekankan aspek relasi yang khas subyek dengan obyek dan mengacu pada pandangan bahwa subyek memiliki struktur pengamatan yang unik. Subyek memiliki cara tertentu dalam menangkap dan memahami obyek, dan obyek-pun memiliki hakekat yang khas berkaitan dengan semesta realitas. Bagi van Peursen (1988: 59) obyek tidak sekedar dirinya sendiri, melainkan ia mewakili kelompok obyek yang lain. Artinya, jika kita melihat sebuah obyek, maka sebenarnya kita melihat ”dunia obyek sejenis” yang lebih luas. Jika ia menghadapi seorang tukang becak yang sedang berceritera tentang kehidupan pribadinya, tidak berhenti di situ. Menurut van Peursen kita melihat dunia kehidupan tukang becak yang lebih luas. Dalam hal ini ada pandangan bahwa bagian mewakili keseluruhan di dalam proses pengamatan, meskipun pengetahuan nir-kasat mata itu dianggap sebagai kenyataan sementara. Nah, pengertian nir-kasat mata ini tidak ditemukan dalam penjelasan Bertens (1990).
Seorang arsitek yang mengamati obyek tertentu, misalnya fenomena ruang Malioboro, ia memasuki suatu relasi yang erat antara dirinya (subyek = pengamat) dengan obyek ruang Malioboro (obyek = yang diamati). Ruang Malioboro tidak sekedar mengungkapkan dirinya, melainkan ia mewakili ruang-ruang kota sejenis. Ia juga memberi penjelasan beberapa hal pokok tentang ruang sejenis, yang ada di tempat lain. Artinya, mengetahui Malioboro sebenarnya juga mengetahui ruang kota yang sejenis dengan Malioboro di lain tempat (kota-kota lain). Ketika kita melihat tugu atau alun-alun, maka kita sebenarnya juga melihat ”dunia tugu dan alun-alun” yang lebih luas.
Kunci kedua, penyeberangan atau transendensi. Menurut van Peursen, manusia mengamati sebuah benda dalam ruang, maka hanya salah satu aspeknya yang tertangkap; misalnya melihat sisi atas, samping atau depan (Abschatung)( Peursen, 1988: 59). Setiap melihat salah satu sisi kubus, misalnya, sebenarnya pengamat juga “melihat” sisi bawah yang berupa segi empat (sudah diandaikan), maka dalam situasi ini terkandung aspek penyeberangan (transendensi)( Peursen, 1988: 60). Van Peursen menjelaskan bahwa menurut Husserl, di dalam pengamatan “obyek khusus” terkandung juga “obyek pada umumnya”; jadi muncul juga pengetahuan tersirat yang lebih banyak (Peursen, 1988: 60). Jika manusia mengamati sebuah kubus, maka ia juga mengetahui kubus pada umumnya, atau jika mengamati warna merah pada suatu benda maka juga mengetahui warna merah pada umumnya. Artinya, yang bersifat umum (eidos) tidak berdiri di luar, melainkan terkandung di dalam pengamatan benda kongkrit yang dihadapi. Jadi sambil mengamati obyek tertentu, pengamat telah melangkah lebih jauh. Jika seorang pengamat menemukan tugu sebagai salah satu ujung jalan Malioboro, maka secara otomatis ia sudah mengandaikan bahwa ada ujung lain dari obyek yang diamatinya itu. Kebetulan saja di lapangan ditemukan adanya panggung Krapyak sebagai ujung yang lain itu. Artinya, jika kita sudah memegang sebuah titik dari fenomena yang kita amati, maka di dalam benak kita ada titik lain yang menjadi pasangannya. Jadi pengamatan yang bersifat transendensi ini memacu timbulnya gagasan atau hipotesis baru tentang pasangan dari obyek yang kita amati.
Kunci ketiga, pemahaman melalui pengamatan bertahap. Menurut van Peursen, pengamatan terjadi secara bertahap dan terus menerus dari berbagai sisi, maka pengetahuan tentang obyek dikembangkan dan disempurnakan. Dalam proses pengamatan bertahap itulah SUBYEK hadir pula; subyek dan obyek hadir bersama-sama. Van Peursen tidak menjelaskan secara rinci tahapan-tahapan dalam proses pengamatan bertahap ini. Tekanannya bahwa di dalam proses pemahaman dan pengamatan bertahap itulah subyek dan obyek hadir secara semakin tegas dan bersama-sama. Tekanan relasi yang erat subyek-obyek ini memang menonjol dalam pikiran van Peursen, namun proses pengamatan bertahap justru jelas pada gambaran Bertens yang menggunakan konsep konstitusi. Menurut Bertens, pemahaman lengkap dan absolut diperoleh melalui proses konstitusi atas profil-profil obyek.
Kunci keempat, horison-horison. Menurut van Peursen, Husserl berpendapat bahwa setiap obyek selalu didekati dengan horison tertentu, sehingga ia selalu berada dalam jalinan dengan sesuatu di luar dirinya. Sebuah obyek tidak pernah dalam keadaan terisolir (Peursen, 1988: 60). Melihat sebuah rumah terkait dengan kesadaran bahwa ia terletak di suatu jalan, di sebuah kota; ada horison lahiriah (Peursen, 1988: 60). Rumah tersebut juga terkait dengan kesadaran akan waktu (umurnya, dsb); ada horison waktu (Peursen, 1988: 60). Jadi pada waktu mengamati rumah seperti ada dimensi-dimensi yang tidak terlihat namun dialami dan terkandung dalam proses pengamatan. Dimensi-dimensi itu terbentang ke berbagai arah. Pengamatan terhadap sebuah obyek juga selalu terkait dengan pengamat-pengamat lain; ada dimensi intersubyektif (Peursen, 1988: 61). Proses pengamatan ternyata tidak sederhana, sebab melibatkan horison-horison dan pengamat-pengamat lain. Kepekaan dan kekritisan terhadap situasi pengamatan yang rumit semacam ini akan menolong pemahaman yang semakin dalam terhadap obyek yang diamati.
Kunci kelima, logika transendental. Menurut van Peusen, fenomenologi Husserl mengandung logika transendental. Segala sesuatu (obyek) selalu menunjuk sesuatu di luar dirinya, baik cakrawala-cakrawala maupun subyek-subyek, maka setiap pengamatan selalu mengenal lebih banyak (tidak hanya yang dilihat). Kata van Peursen, kebenaran tak dapat dipetik demikian saja bagaikan buah- buah jambu, sebab jumlah relasi yang terkandung di dalam suatu obyek tak ada batasnya (Peursen, 1988: 61). Kebenaran adalah sebuah ide yang cakrawalanya tidak kunjung teraih. Proses mengetahui selalu menghadirkan subyek-obyek secara bersama-sama dan di dalam lingkungan cakrawala-cakrawala yang terus-menerus menampakkan diri. Subyek dan obyek saling berkaitan dan saling menentukan, obyek dibentuk melalui proses pengamatan yang terus menerus: obyek semakin lama semakin dikenal (Peursen, 1988: 62). Dengan demikian, pengamatan tidak berhenti pada proses sekali jalan melainkan proses-proses lain yang lebih rumit.
Kunci keenam, cakrawala kenyataan. Van Peursen menyatakan bahwa cakrawala pengamat (subyek) selalu berada dalam kaitan dengan lingkungan kebudayaan (Peursen, 1988: 62). Artinya, cakrawala seseorang dipengaruhi oleh lingkungan kebudayaannya. Ada kebudayaan yang memandang warna putih sebagai tanda kesedihan, atau warna jingga sebagai warna sakral (Budhis). Hal itu berarti bahwa fakta tidak pernah obyektif semata-mata, karena selalu diteropong oleh subyek yang menduduki tempat tertentu, hidup di jaman tertentu, di dalam lingkungan budaya tertentu, sambil berkontak dengan pengamat-pengamat lain. Meskipun demikian, subyek- subyek tidak terjebak di dalam cakrawala masing- masing, sebab selalu terjadi dialog dalam hubungan intersubyektivitas untuk menghasilkan penilaian bersama.
Kunci keenam ini menuntun pada pemahaman bagaimana peran penting dari lingkungan kebudayaan di dalam proses pengamatan. Orang tidak dapat lepas bebas dari hal-hal yang melingkupi kehidupannya selama hidupnya dalam menjalankan proses pengamatan. Atas dasar kunci-kunci fenomenologi Husserl menurut van Peursen tersebut tampak dengan jelas bahwa proses memahami melalui pengamatan fenomenologis itu rumit, khususnya melibatkan kerumitan pada subyek pengamat maupun obyek yang diamatinya. Akibatnya, proses penampakan obyek terhadap subyek dapat sangat bervariasi, meskipun tidak jarang terjadi pemahaman yang sama (overlapping) antara pengamat yang satu terhadap yang lain. Pemahaman yang sama tersebut muncul dari proses pemahaman intersubyektif.
Sumber: Peursen, C.A. van., 1988, Orientasi di Alam Filsafat, terjm. Dick Hartoko, Jakarta: Gramedia.
———–
Ir. Y. Djarot Purbadi, MT, kandidat doktor Arsitektur pada Program Pasca-sarjana Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada
Ir. Sudaryono, M.Eng.PhD, asisten profesor pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada
Ir. Achmad Djunaedi, MUP, Ph.D, profesor pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada