Oleh: Djarot Purbadi, Sudaryono dan Achmad Djunaedi
Penulis lain yang membahas tentang fenomenologi Husserl adalah Harry Hamersma. Uraiannya tidak terlalu panjang atau mendalam, sebab tema yang digarap buku tersebut sangat luas, sehingga hanya sedikit kunci yang dapat ditemukan dalam bukunya. Menurut Hamersma (1983) ada tiga kunci yang harus dipahami untuk mengenal fenomenologi Husserl, yaitu (1) fenomenologi transendental, (2) kesadaran dan intensionalitas, dan (3) tiga reduksi versi Husserl. Uraian Hamersma ini melengkapi pemahaman kita tentang fenomenologi Husserl yang sangat rumit. Berikut uraiannya tentang tiga kunci untuk memahami fenomenologi Husserl.
FENOMENOLOGI TRANSENDENTAL. Husserl yang terinspirasi Brentano pada awalnya mengenal Fenomenologi Psikologis, kemudian lebih mengembangkan Fenomenologi Transendental, bukan Fenomenologi Eksistensial Heidegger (Hamersma, 1983: 116- 117). Fenomenologi transendental Husserl dikembangkan setelah tahun 1908 (Hamersma, 1983: 116). Melalui deskripsi fenomenologis ingin ditemukan (diciptakan) hakekat obyek; sesuatu yang tidak berubah dari berbagai macam gejala- gejala (Hamersma, 1983: 116).
Uraian Hamersma pada alinea diatas ini menjelaskan perubahan pemikiran Husserl tentang fenomenologi yang dikembangkannya. Artinya, fenomenologi Husserl pada hakekatnya dikaitkan dengan logika transendental, bukan lagi dengan logika psikologis. Hamersma dalam bukunya tidak menjelaskan tentang transendentalitas dalam fenomenologi Husserl, maka seolah-olah menjadi tidak ada dasarnya menyebut fenomenologi Husserl adalah fenomenologi transendental. Namun, jika logika transendental yang menjadi landasan dari fenomenologi Husserl adalah seperti yang dipaparkan oleh van Peursen (1988), maka menjadi agak jelas bahwa fenomenologi transendental adalah fenomenologi yang berusaha meraih pemahaman tentang obyek-obyek melalui pengenalan yang terus menerus dan semakin mendalam.
Hamersma dalam uraiannya berusaha menunjukkan bahwa deskripsi fenomenologis merupakan sendi penting dalam fenomenologi Husserl, sebab dengan mendiskripsikan fenomena maka pemahaman mendalam tentang obyek yang diamati menjadi semakin jelas. Bahkan dikatakannya, dengan mendiskripsikan obyek secara fenomenologis maka obyek diciptakan, bukan sekedar dipaparkan. Artinya, pada saat pengamat melakukan deskripsi, maka hakekatnya ia sedang menciptakan obyek menurut kesadaran dan pengamatan yang dilakukannya.
Jika dikaitkan antara logika transendental dengan deskripsi fenomenologis, maka dapat dikatakan bahwa seseorang dapat mendiskripsikan obyek secara fenomenologi transendental sampai pada hakekatnya jika ada kedekatan yang terus-menerus dengan obyek yang diamati. Artinya, kedekatan dan pengamatan yang intensif menjadi syarat diraihnya hakekat obyek yang diamati. Bahkan, menurut Hamersma, mendiskripsikan obyek adalah menciptakan obyek sekaligus menjelaskan hakekat obyek, asalkan dilakukan dengan pengamatan yang intensif dengan kedekatan yang sangat erat.
Jika kita menggunakan kunci pertama ini, segera jelas bahwa untuk bisa melakukan praktek fenomenologi Husserl yang bersifat transendental, maka kedekatan dan pengamatan yang intensif terhadap obyek merupakan langkah kunci pertama yang disyaratkan. Pengamat dari jarak pengamatan yang jauh hampir tidak mungkin mampu menemukan hakekat obyek secara mendalam. Kunci pertama ini menunjuk langsung pada pengertian, perjumpaan secara langsung dengan obyek yang diamati menjadi syarat mutlak yang harus dilakukan. Kata perjumpaan dalam uraian ini adalah perjumpaan yang sangat dekat sehingga pengamat mampu mengamati secara intensif; terus menerus dengan intensitas yang tinggi.
Langkah kunci yang kedua adalah melakukan deskripsi fenomenologis tentang obyek yang diamati disertai kesadaran bahwa ketika mendiskripsikan obyek maka sang pengamat sedang menciptakan obyek menurut kedekatan yang digunakannya. Artinya, kemampuan mendekati dan mendiskripsikan obyek menjadi syarat kunci yang sangat menentukan ditemukannya hakekat obyek yang diamati. Dengan demikian, pencapaian hakekat obyek sangat tergantung pada kemampuan pengamat dalam melakukan pendekatan, pengamatan dan pendiskripsian tentang obyek yang diamatinya. Beberapa orang yang mengamati obyek yang sama akan menemukan bermacam-macam hahekat dari obyek yang sama, dan hal itu menurut Hamersma ditentukan oleh kedekatan, intensitas pengamatan dan deskripsi fenomenologis yang dikerjakan oleh para pengamat.
Praktek dengan pengertian fenomenologi tansendental seperti ini dapat dilakukan untuk melihat obyek ruang kota di jalan Malioboro. Pengamat harus berusaha memiliki relasi yang sangat dekat dengan ruang Malioboro. Ia juga harus melakukan pengamatan yang intensif terhadap ruang Malioboro. Kedua langkah tersebut akan menentukan bagaimana deskripsi pengamat tentang ruang Malioboro. Ketika mendiskripsikan itulah hakekat ruang Malioboro berhasil diciptakan dan ditemukan. Dengan demikian, esensi hakekat tentang ruang Malioboro dekat dengan pengetahuan subyektif, bukan pengetahuan obyektif.
Persoalan pengetahuan subyektif ini sebenarnya tidak menjadi masalah besar, sebab pengetahuan subyektif yang diperoleh dapat disikapi sebagai pengetahuan ”sementara” yang menemukan ”sepotong profil” dari sisi tertentu dalam kerangka proses konstitusi obyek dalam kesadaran pengamat (Bertens, 1990). Jika kita sepakat dengan Hamersma dan Bertens, maka menemukan hakekat obyek memerlukan kedekatan, pengamatan intensif, kesadaran subyektivitas merupakan bagian dari proses konstitusi yang menciptakan obyek di dalam kesadaran pengamat. Subyektivitas dapat ditekan menuju kepada obyektivitas jika terjadi proses dialog – intersubyektif dengan pengamat yang lain, sebab di dalam proses dialog terjadi proses konstitusi kolektif (istilah kami) tentang obyek yang sama dan akhirnya menghasilkan temuan hakekat obyek yang relatif mendekati obyektif dalam lorong inter-subyektivitas.
KESADARAN DAN INTENSIONALITAS. Kesadaran bukanlah bagian dari kenyataan melainkan asal dari kenyataan; kesadaran tidak menemukan obyek-obyek melainkan menciptakannya (Hamersma, 1983: 116). Kesadaran selalu terkait dengan sesuatu yang disadari karena ada subyek, subyek terbuka pada obyek, dan ada obyek (Hamersma, 1983: 117). Kesadaran selalu terarah kepada obyek-obyek; kesadaran intensional. Kesadaran tidak pernah pasif melulu karena menyadari sesuatu selalu berarti mengubah sesuatu (Hamersma, 1983: 117). Kesadaran (noesis) selalu berinteraksi dengan obyek kesadaran (noema) dan akhirnya menciptakan obyek yang disadari (noema)( Hamersma, 1983: 117).
Sama dengan Bertens, Hamersma menekankan pada pentingnya kesadaran dan intensionalitas. Bahkan menurut Hamersma, kesadaran adalah asal-muasal realitas yang menciptakan realitas itu sendiri. Kesadaran dalam fenomenologi Husserl adalah kesadaran yang aktif dan selalu terbuka serta terarah kepada obyek-obyek yang diamati. Ada interaksi aktif antara kesadaran aktif pengamat dengan obyek yang diamati. Alinea ini menegaskan bahwa pengamat yang menggunakan fenomenologi adalah pengamat yang menggunakan kesadaran aktifnya untuk menciptakan realitas yang diamatinya. Pengamat secara aktif menciptakan realitas melalui pengamatan yang menggunakan kesadaran aktifnya.
Pengamat yang sedang mengamati ruang Malioboro, misalnya, harus selalu aktif melakukan pengamatan sehingga aktif menciptakan relitas dalam kesadarannya. Ia harus mampu mengarahkan pengamatannya yang dituntun dengan kesadaran aktif untuk menciptakan realitas ruang Malioboro. Kesadarannya yang aktif akan menuntunnya untuk menyentuh semua aspek yang menciptakan realitas ruang Malioboro. Pengamatan menyeluruh yang dituntun oleh kesadaran aktif akan menjadi syarat kunci terciptanya realitas ruang Malioboro. Jelas bahwa dalam uraiannya, Hamersma melihat bahwa kesadaran aktif merupakan kunci penting dalam menjalankan fenomenologi transendental Husserl.
TIGA REDUKSI. Agar mencapai hakekat obyek, diperlukan tiga tahap reduksi yang fungsinya adalah menyingkirkan semua hal pengganggu (Hamersma, 1983: 117). Reduksi pertama, menyingkirkan semua hal yang subyektif; reduksi kedua menyingkirkan seluruh pengetahuan yang diperoleh dari sumber lain (semua teori dan hipotesis yang ada); dan reduksi ketiga menyingkirkan seluruh tradisi pengetahuan (Hamersma, 1983: 117). Ketiga reduksi akan menghasilkan gejala yang menampakkan diri; fenomin (Hamersma, 1983: 117).
Uraian pada alinea diatas ini memperjelas bagaimana cara kerja kesadaran aktif, yaitu pengamatan secara aktif adalah melakukan tiga tahapan reduksi. Reduksi pertama adalah penggunaan kesadaran aktif untuk melihat bahwa unsur subyektif harus dilepaskan dari pengamatan terhadap obyek. Husserl tampaknya mencurigai bahwa subyektivitas manusia potensial mengaburkan pengamatan. Artinya, hal-hal yang subyektif perlu dilepaskan supaya obyek menampakkan diri sejujur-jujurnya. Husserl secara tegas menunjukkan bahwa kecenderungan pribadi perlu disikapi secara kritis. Dengan demikian menjadi jelas, kesadaran aktif tertuju kepada dua arah, yaitu aktif melakukan penciptaan obyek (orientasi ke luar) dan aktif melakukan kontrol terhadap subyektivitas pribadi (orientasi ke dalam).
Reduksi kedua menegaskan bahwa pengamatan fenomenologis harus murni dan tidak tercemari oleh pengetahuan yang ada dalam pikiran pengamat, sebab pengetahuan tersebut akan mengganggu terciptanya obyek secara apa adanya. Kecurigaan Husserl yang kedua adalah terhadap peran pengetahuan yang telah mengendap dalam benak pengamat sepanjang hidupnya. Kecurigaan ini sejalan dengan pemikirannya bahwa pengamatan harus dilakukan secara murni, yang artinya pengamat dapat mengontrol dirinya secara sadar terhadap pengaruh dari pengetahuan yang sudah dimilikinya.
Reduksi ketiga semakin ekstrim sebab Husserl mencoba melakukan pembersihan kesadaran pengamat dari seluruh tradisi pengetahuan. Orang diharuskan memurnikan dirinya sendiri ketika melakukan pengamatan fenomenologis sebab yang ingin dicapai adalah pengetahuan yang murni. Bagi Husserl sangat penting bahwa selama proses pengamatan tidak boleh ada hal-hal yang mengganggu supaya pengetahuan yang dihasilkan tentang obyek bersifat murni.
Dengan demikian, reduksi mirip proses mengupas bawang merah, selapis demi selapis hingga akhirnya sampai kepada inti paling dalam yaitu hakekat obyek. Selain itu, Husserl dengan reduksi juga menegaskan bahwa pengetahuan murni tentang realitas hanya dimungkinkan jika manusia juga melakukannya dengan kesadaran murni, yang tidak dicemari oleh subyektivitas dirinya, pengetahuan yang pernah dimilikinya, dan seluruh tradisi pengetahuan yang pernah ada. Proses reduksi, selain menunjukkan proses aktifnya kesadaran juga menjelaskan sikap Husserl yang paling dasar yaitu pengetahuan yang murni hanya dapat diperoleh melalui pengamatan yang murni, bebas dari pengaruh subyektivitas manusia dan pengetahuan yang pernah dimilikinya.
Sumber: Hamersma, Harry, 1983, Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern, Jakarta: Gramedia.