Kemarin malam, Jumat 2 Maret 2007 dari pukul 19.30 s.d. 22.30 aku mengikuti acara BEDAH BUKU yang diadakan oleh para mahasiswa Jurusan Arsitektur – Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota dari UGM. Aku tahu ada kegiatan itu berkat sms dari Pak Sudaryono siang hari, khususnya tentang acara bedah buku itu. Aku memang berpikir, buku itu mau dibedah apalagi wong dulu pernah dibedah di Jakarta oleh para pakar yang piawai. Bahkan salah satu pembedahnya kala itu adalah DR Budi Hardiman, doktor filsafat lulusan Jerman dan pengajar Driyarkara, yang tahun 1995-an sama-sama aku mengurus bea siswa KAAD di Katedral Jakarta. Dia lolos aku macet !
Sms Pak Dar menyadarkan aku pada pemahaman dan pencerahan, bahwa ketika membaca teks selalu muncul teks baru di benak para pembacanya. Mumpung aku belum membacanya, maka kesempatan ini sangat bagus, sebab penulisnya juga hadir, ada harapan dapat memahami teks itu secara lebih mendalam, juga dibantu para pembahas. Ya benarlah, ilmu iku kelakone memang kanthi laku ! Bedah buku di Jakarta itu murni promosi sedangkan di Jogja malam ini murni refleksi kritis ! Itu kesanku, jadi aku harus ikut !
Kegiatan diskusi itu merupakan salah satu mata acara rangkaian kegiatan mahasiswa berjudul PLANO ZONE, yang dimeriahkan dengan suasana musik mahasiswa dan pameran foto mahasiswa, dilaksanakan di Beteng Vredeburg. Ini baru pertama kali mereka unjuk gigi di tengah kota, sebab tahun sebelumnya hanya pameran di kampus. Perjalanan ke tempat itu sempat memberi “pemanasan” tentang suasana kota Jogja terkini, sebab aku harus bersusah payah masuk jalan Malioboro yang ramai dan gerimis petang hari itu. Badan jalan Malioboro sudah menurun kualitasnya, jalan tidak mulus lagi melainkan banyak terasa jendhulan-jendulan. Bahkan ada polisi tidur di jalan Malioboro, jadi sudah turun statusnya menjadi jalan kampung ! atau jalan perumahan yang dijaga polisi sambil tiduran leyeh-leyeh ! Ooooh jalan Malioboro, riwayatmu kini …… Oooo kampung Malioboro…..!!!
Jadilah aku datang dan parkir kendaraan di area depan beteng kuno itu dengan leluasa. Ketika memasuki gerbang beteng aku merasa seperti mau memasuki suasana retret. Saat itu rasanya mirip suasana masuk ke tempat sepi di tengah suasana ramai. Mungkin karena bangunan kuno itu terkesan seperti biara atau karena memang tidak terlalu bising di tempat itu. Suasana remang-remang dan sepi di dalam kompleks beteng memang memberi masukan timbulnya kesan retret. Dari pintu gerbang hingga dekat ruang diskusi aku hanya berjalan sendirian, tidak bertemu dengan orang lain.
Area diskusi ada di dalam bangunan yang terletak di sisi selatan beteng. Di depannya ada area yang terbuka menghadap ke selatan, sehingga orang dapat menikmati suasana ruang luar sambil leluasa memandang siluet gedung Bank BNI 1946 malam hari yang tampak klasik dan angkuh. Pada saat ditempat itu, aku jadi ingat ketika sekolah di SMP PL jaman tahun 1971 dan 1972. Waktu itu dari selasar depan kelas kami selalu ke utara dan melihat beteng. Nah pada tembok beteng sisi selatan itu selalu ada banyak orang yang melihat kearah kami. Konon mereka adalah para napi PKI yang dijinakkan di dalam beteng, sebab kala itu beteng adalah markas tentara. Sekarang bahkan dari tempat di beteng itu SMP PL tidak tampak lagi, sebab telah ditutupi bangunan megah nan angkuh Bank BNI 1946. Oooooo…SMP ku yang malang…….
Pilihan para mahasiswa PWK Arsitektur UGM ini tidak salah sebab sangat baguslah membicarakan kota di tengah kota, bahkan di sebuah bangunan bersejarah, bukan di sebuah hotel mewah yang jauh dari realitas nyata sehari-hari. Ya, sebuah pilihan yang cerdas, merefleksikan tentang kota di tengah kota ! Tentu ini berbeda dengan momen merefleksikan kampusku di Bandungan atau Tawangmangu…..
Seorang mahasiswa menjelaskan bahwa kegiatan ini diadakan dalam rangka mempertanggung-jawabkan aktivitas kuliah kerja lapangan yang telah mereka lakukan Nopember 2006 dalam wujud nyata. Mereka sebelumnya melakukan kunjungan lapangan ke Surabaya dan Bali selama enam hari kerja termasuk perjalanan. Kunjungannya singkat-singkat saja namun menghasilkan pameran foto yang sangat menarik. Saat itu aku ingat pada guru imajinerku Levi Strauss yang memamerkan foto-foto etnik dan pernik-pernik etnik yang dikumpulkannya dari suku-suku Indian yang tinggal di hutan Amazone. Ia memamerkan kepada dunia barat bahwa di hutan Amazone ada kehidupan yang unik. Barangkali pameran foto mahasiswa itu maunya begitu juga, bahwa ditempat yang mereka kunjungi ada peristiwa yang unik juga !
Mengapa pameran foto mereka menarik ? Ya, foto-foto yang mereka pamerkan itu mengungkapkan keprihatinan dan kepekaan mereka terhadap kehidupan nyata, relasi manusia dan ruang hidupnya. Mahasiswa memang makhluk yang sedang belajar mengasah kepekaannya terhadap sisi-sisi detil kehidupan. Acara itu termasuk sebuah model yang smart ! Jikalau selama ini orang seolah-olah hanya terpancang pada semacam konvensi bahwa sebuah perjalanan mesti diakhiri dengan pembuatan laporan berwujud buku, mereka maunya berbeda. Dari sisi dosen ada gagasan, sangatlah membebani jika para mahasiswa diminta membuat tulisan laporan yang biasanya ketat. Sebab membuat tulisan laporan perjalanan itu lebih berat daripada pameran foto ….. yang penting dosen melihat bahwa mereka telah mengalami dan mampu menceriterakan pengalamannya itu kepada orang lain dengan media yang komunikatif ! Substansinya bukan bentuknya !
Kegiatan semacam ini betul-betul smart sebab mengajak mahasiswa dan khalayak warga kota untuk ikut mencicipi dan berbincang tentang kota dalam forum yang diskusif. Mereka mengundang warga kota, jadi terbuka untuk umum. Mereka ingin melaporkan perjalanan dulu itu secara lain, yaitu dengan cara memamerkan substansinya melalui pameran foto. Orang diajak langsung memahami spot-spot yang dikunjungi melalui foto-foto tematik yang diungkapkan dengan selera estetika lumayan ! Foto tidak sekadar mengungkapkan estetika melainkan ingin menukik langsung pada substansinya yang sarat dengan pesan, kesan, refleksi dan tantangan bagi kalangan perencana kota !
Foto tentang panorama di sekitar lumpur Lapindo Brantas, misalnya, ditampilkan secara estetik untuk menantang rasa kemanusiaan siapapun bahwa dibalik estetika fotografis itu tersimpan diam membisu segala penderitaan rakyat kecil yang tak berdaya ketika kampung halamannya digenangi lumpur pekat panas. Ketidakberdayaan mereka semakin menggunung ketika negara-pun tidak berdaya memberikan jalan keluar ! Lengkap lah penderitaan mereka, digenangi lumpur dan dikungkung negara yang rontok kekuatannya dibawah telapak kaki kepentingan yang tidak pro-people. Pilihan yang masih tersisa hanyalah menerima nasib atau takdir.
Foto arsitektur memang dapat mengundang refleksi dan kontemplasi untuk menangkap pesan – pesan kemanusiaan yang disergap oleh sang fotografer. Ia bukan sekedar berbicara fakta, melainkan sesuatu di belakang fakta itu, yang hampir selalu mampu menyentuh hati nurani yang peka pada sentuhan-sentuhan nilai kemanusiaan ! Ya, fotografi arsitektur menantang hati dan logika transenden kita untuk mampu membacanya secara transenden pula …..
Buku yang dibedah adalah “Menyasati Kota Tanpa Warga”, ditulis oleh Jo Santoso, seorang doktor lulusan Jerman (Fakultas Arsitektur di Hochschule der Kunste, Berlin) dan saat ini sedang menjabat sebagai Ketua Program Magister Pengembangan Kota dan Real Estate di Universitas Tarumanegara, Jakarta. Konon, belajar di Jerman konotasinya adalah ”kontinental” dan berbeda dengan belajar di USA yang berkonotasi ”the new world”. Belajar di lingkungan kontinental cenderung mencari hal-hal yang dasariah dan filsafati, sedangkan di lingkungan new world cenderung pada hal-hal yang dianggap lawannya alias serba baru. Bahkan dalam khasanah filsafat, dikenal bahwa filsafat pragmatisme berkembang di Amerika. Kontinentalism memang terlihat jelas pada bukunya Pak Jo (baca: Pak Yo) tersebut. Dia berusaha menawarkan diagnosa penyakit kota bertolak dari dalam tubuh kota itu sendiri, tidak menggunakan model-model ideal dan romantis yang tersebar ratusan jumlahnya dalam khasanah ilmu perencanaan ! Ada kebutuhan untuk mengenali apa yang ada di dalam kota itu secara historikal dan kritis sebelum menyimpulkan penyakitnya apa, obatnya yang mana serta bagaimana prosesnya. Ia memang seorang yang idealis namun praktis, disitu posisinya dalam khasanah ilmu perencanaan, begitu kata Pak Retno Widodo tentang Pak Jo pada akhir diskusi itu.
Diskusi dimulai dengan paparan Pak Leks (Leksono Probosubanu) yang menjelaskan kesannya tentang buku tersebut. Katanya, ini buku yang laris karena membicarakan kota di Indonesia dalam bahasa Indonesia, sebab jarang ada buku semacam ini sampai saat ini. Ia bahkan menegaskan, bahwa buku tersebut harus menjadi bacaan wajib bagi setiap mahasiswa atau siapapun yang ingin belajar tentang perencanaan kota di Indonesia. Pak Leks mengatakan juga bahwa hampir 100% ia setuju dengan apa yang dipaparkan Pak Jo dalam bukunya itu. Katanya, belum ketemu yang ia tidak setuju !
Pak Leks juga bilang, kalangan perencana sampai saat ini kurang peka terhadap fenomena kampung (kuarter, key world dalam buku itu), bahkan semua kampung dianggap sama. Ini celaka sebab ternyata setiap kampung itu unik. Kampung adalah enclave orang-orang yang sesama jenis, ada kampung Musikanan bagi para pemusik kraton, ada kampung yang didasarkan jenis pekerjaan atau patron-klien. Ia adalah struktur yang otokthon, menurut bukunya Pak Jo. Masalahnya, seringkali unsur-unsur asli yang membentuk keunikan kampung luput dari mata para perencana !
Aku jadi ingat kata teman milisku, bagaimana Bas Suebu dulu berkampanye untuk jabatan gubernur Papua yang sekarang setelah dia menjadi doktor. Slogannya bilang ”Kak Bas pulang kampung”, yang diartikan bahwa Bas Suebu ingin membangun Papua dari membangun kampung – kampung ! Ia tidak memulai dari kota, melainkan dari kampung-kampung. Wah apakah ini trend mode dalam dunia ilmiah dan dunia praktisi yang kebetulan bertemu ? Diskusi kami di milis itu meluas, ternyata kampung di Indonesia Timur bahkan merupakan agregasi suku-suku, seperti yang aku temui di Kaenbaun, Timor. Jaringan kekerabatan di kampung sangat sarat, boleh dikatakan orang sangat mengenal silsilah kekerabatannya secara sangat lekat dan detil. Ya, sebab kekerabatan berperan setiap hari dalam kehidupan sehari-hari, ia bukan sesuatu yang berada di luar kemanusiaan mereka.
Pak Leks juga mengatakan bahwa kota-kota di Indonesia saat ini dalam masa transisi, berada di tengah tradisionalisme dan modernisme. Tidak modern juga tidak tradisional, gojag-gajeg alias pancaroba, padahal menurut para orang tua jaman dulu musim pancaroba itu penuh dengan penyakit. Ada situasi dualisme yang mengikat keseharian setiap warga kota, cara berpikirnya campuran tradisional dan modern. Hal itu menarik, sebab bisa saja keduanya sejalan tetapi bisa juga konflik. Dia mencontohkan, masa kecil dulu di halaman rumahnya ada pohon mangga yang enak dan lebat buahnya. Setiap kali para tetangganya dengan seenaknya mengambil buah mangga itu bak milik bersama. Tetapi kakeknya yang pendeta dan bertradisi holland spreken sangat keras melarang para tetangga itu mengambili mangga. Apa yang terjadi ? Para tetangga dilarang sang Kakek, bahkan salah satu kakaknya terkenal sebagai orang yang rajin menghalau tetangga ! Isinya apa ? Para tetangga itu menggunakan cara pikir tradisional, bahwa mangga itu milik komunal, sementara sang kakek menghayati cara pikir barat yang rasional (mengedepankan kepemilikan privat). Hal-hal semacam itu banyak terjadi di lingkungan kota, di dekat keseharian kita. Artinya, kota atau negara maunya modern tetapi masyarakatnya masih tradisional. Padahal, banyak kejadian yang menunjukkan bahwa kita ini cerdas menggunakan modernitas atau tradisionalitas kita dalam rangka berkelit untuk memperoleh keuntungan dari situasi yang mengelilingi diri kita …..
Pandangan Pak Leks itu bermuara pada sebuah pertanyaan besar: apakah kita bisa merekayasa budaya sehingga kota-kota kita lantas menjadi lebih tangguh, seperti dikatakan Pak Jo itu ? Ya merekayasa budaya, sebab wadahnya akan berubah jika isinya berubah, mungkin begitu logika yang digunakan. Lantas, berapa lama hal itu bisa terjadi ? Pada akhir paparannya, Pak Leks mengatakan bahwa paparannya yang membahas buku Pak Jo itu ia beri judul ”Membina Kota Bersama Warga”. Tampaknya gagasan Pak Jo dan Pak Leks sejalan.
Pembahas berikutnya muncul dari Pak Bambang yang ada di wilayah antropologi dan dunia LSM. Ia mengatakan, menjadi pembahas saat ini merupakan sebuah cobaan. Mengapa ? Ya sebab ia merasa berhadapan dengan komunitas yang berbeda. Sebagai antropolog ia terlatih untuk selalu berpikir ragu-ragu, menemukan kebenaran selalu disikapi sebagai hal tentatif atau relatif. Nah, kini ia berhadapan dengan para perencana yang selalu berpikir serba pasti, jika dibeginikan akan terjadi seperti ini. Bagi dia, itu sikap yang terlalu berani, dan ini menarik untuk dipertemukan dalam diskusi, antara si peragu dengan si serba-pasti !
Bagi dia, Pak Jo ini sangat berani sebab menantang bahkan melawan paradigma elitis yang disetir kapitalisme, modernisme dll. Ia melihat bahwa pembangunan kota lebih bersifat partisipatif. Ia mengatakan, Pak Jo sedang menyindir pembangunan kota yang elitis dan non-partisipatif. Padahal kota berkembang karena kekuatan dan keunikan warganya, tidak semata-mata dari gagasan ideal para perencananya yang sarat dengan kepentingan tertentu.
Bagi Pak Bambang, Oikos sebagai konsep kunci dan generator pengembangan kota yang disebut Pak Jo itu romantis banget namun perlu dikritisi juga. Sebab setiap peradaban selalu ada yang dikorbankan dan yang menjadi korban selalu mereka yang paling lemah ! Jakarta itu megah tetapi ia parasit bagi kawasan sekitarnya, semua tersedot ke Jakarta. Jakarta megah tetapi sebagian besar warganya miskin. Kemegahan Borobudur yang dikagumi dunia itu menyimpan ceritera tersembunyi tentang berapa banyak korban manusia telah dilupakan. Jika batu-batu candi itu bisa berbicara maka mereka akan berceritera sangat banyak, tinta sebanyak lautan tidak cukup untuk menuliskan. Ceriteranya bisa lebih panjang dari epos Ramayana dan Maha Bharata sekaligus. Ingat, selalu ada piramida korban manusia !
Aku juga ingat pelajaran sejarah di SMP, bagaimana kaisar Chin Shih Huangti dan para kaisar Cina lainnya bertahun-tahun lamanya berhasil mengorbankan ribuan rakyatnya untuk menjadi tumbal keberhasilan pembangunan the Great Wall of China itu. Masa kini, kita bisa berwisata ria ke tempat neraka itu dengan membawa pulang sertifikat; yang menandai bahwa aku pernah disitu. Bahkan Pak Sas (kok Pak Sas maneh ya ?) dalam sebuah artikel KR pernah mengingatkan, ketertiban kota Yogyakarta yang berhati nyaman dan ingin diwujudkan setiap pemerintah kota janganlah dengan fondasi bertumbal darah di kalangan PKL, yang berdarah-darah sampai habis untuk membangun kemegahan Malioboro ! Nah, apakah Singapura yang tertib dan kita kagumi hingga hari ini juga tanpa korban ? Tragis sekaligus ironis !
Cara pikir perencana itu berbeda dengan cara pikir warga kota. Ia mencontohkan, bahwa ada sekelompok orang sekitar 100 an orang dari Bantul yang berangkat ke Jakarta ketika Jakarta kebanjiran baru-baru ini. Kenapa ? Mereka mengatakan, inilah saat yang tepat bagi kami ke Jakarta ! Untuk apa ? Jualan Teplok ! Lho kok ? Ya, teplok kami akan sangat berguna bagi rakyat kecil yang tidak kebagian jatah listrik ! Kelompok kami yang lain sudah di Jakarta, ada sekian puluh orang ! Hal ini juga pernah terjadi saat Jogja digoyang gempa Mei 2006 lalu. Pada akhir paparannya, pak Bambang menyimpulkan, kota tidak harus kaya tetapi haruslah manusiawi. Lho yang bagaimana toh manusiawi itu Pak ?
Berikutnya tampil sang penulis buku, Pak Jo. Beliau mengatakan bahwa benar yang dikatakan Pak Leks, pembangunan kota yang diusulkan buku itu adalah mulai dari apa yang kita punya. Disitulah bedanya manusia dengan macan. Lho kok manusia versus macan ? Ya, seekor macan tidak mempunyai memori untuk hidupnya, maka ketika ia bangun pagi ia merasa dialah macan pertama hari itu di tempat itu. Kekemarinan hilang bersama terbukanya hari dan merekahnya sinar matahari. Hewan bukan makhluk historikal, yang memahami di dalam memorinya bahwa apapun yang ada hari ini selalu ada proses sebelumnya, begitu catatanku. Kata Pak Jo, manusia itu beda, ia memiliki memori dan bisa belajar dari masa lalu untuk memperbaiki hidupnya. Jadi, punya kita mesti dikenali agar bisa memperbaiki kota-kota kita yang semakin rusak !
Menurut Pak Jo, telah banyak model ideal selama ratusan tahun ini dimunculkan dalam khasanah pengetahuan perencanaan, bahkan model-model itu sudah dicoba, namun semuanya kandas alias mengalami kegagalan. Keprihatinan Pak Jo, ternyata model-model ideal itu tidak berhasil. Model teoritis semacam itu tetap perlu dan ada gunanya. Alhasil, sebenarnya Pak Jo sudah tidak percaya lagi pada model-model ideal semacam itu jika akan digunakan untuk mengobati penyakit kota-kota di Indonesia. Lantas menggunakan apa ? Katanya, mundur sedikit dan kenalilah jatidiri kota yang sakit ! Jadi mulai dari kondisi nyata namun disikapi secara kritis, begitu barangkali.
Katanya lagi, kita harus mengenali value dari milik kita itu. Pembangunan kota akan berhasil jika value tersebut menjadi kebutuhan semua orang, sehingga dapat diterima maka didukung. Setiap perjuangan akan berhasil jika semua memperjuangkan value yang telah diterima itu. Riset tentang peradaban urban mengerucut pada ujung kesimpulan bahwa perubahan yang signifikan pada pembangunan kota hanya berhasil jikalau didukung oleh warganya ! Wah ini pelajaran penting juga…..
Soal dualisme yang disinggung Pak Leks, dikatakannya, itu memang ada. Urban itu rasional dan rural itu relasi-relasi yang kadang tidak rasional. Kontradiksi kita berlapis-lapis. Orang kita menyatukan antara bekerja dan tinggal di satu wadah. Bagaimana itu dapat dibayangkan akan terjadi di seribu rumah susun yang akan dibangun pemerintah sekarang (lihat foto Kompas hari ini yang memuat Presiden dan Wapres berdiri di depan maket rumah susun). Pembangunan semacam itu sarat dengan interest pribadi untuk menarik simpati populis. Tebar Pesona ? Apakah terkait dengan pemilu yang akan datang ? Ya nggak tahulah ! Bahkan Pak Leksono menambahkan, rumah susun yang digagas pemerintah itu mau dinamai Rumah Rakyat !
Pak Leks meneruskan, masyarakat kita itu aneh. Kita dapat bertoleransi ketika jalan Kaliurang ditutupi separohnya dengan tenda untuk mantenan, karena pikiran kita juga dihinggapi kontradiksi itu. Prinsip apa yang kamu buat akan dikenakan padamu juga ternyata berjalan dengan baik. Siapa yang belum pernah melanggar lampu merah angkat tangan ! Ternyata tidak ada satupun peserta forum malam itu yang mengangkat tangan. Artinya semua pernah melanggar lampu merah. Kenapa perlu berhenti saat lampu merah lalu lintas menyala, sementara jalan sepi dan tidak ada polisi. Ya jalan aja, toh peraturan untuk manusia, bukan untuk peraturan itu sendiri. Nah kita menggunakan kontradiksi untuk kepentingan kita, begitu katanya.
Pak Jo meneruskan. Kita harus mulai dari cirikhas kita, bukan membebek orang lain, mulai dengan orijinalitas kita ! Jangan jadi peniru ! Kita tidak mulai dari nol, sebab warisan-warisan budaya urban kita harus dikenali. Kota yang tangguh perlu mulai dari membangun keunggulan ekonomi dengan basis warganya memiliki keunggulan ekonomi juga. Jadi perlu penelitian tentang heritages kita secara serius. Sebab apa yang kita punya itu mengandung local values dan hasil dari proses historis, maka bernilai. Saat itu aku jadi ingat perdebatan dalam ilmu hukum yang terus berlangsung yaitu persoalan INTENSI ORISINAL, yang kadang dibelokkan menjadi INTENSI BIAS oleh kepentingan-kepentingan lain dalam proses LEGAL DRAFTING. Apakah dunia arsitektur dan perencanaan juga mengalami hal yang sama ? Pasti ada, tinggal kita peka atau tidak dalam melihatnya !
Pak Jo meneruskan. Coba lihat, elemen-elemen kota digunakan untuk kampanye pilpres atau pilkada dengan kebijakan yang tampaknya pro people ! Tebar Pesona, begitu kata Megawati ! Jangan begitulah, kata Pak Jo. Kita perlu mundur sedikit dan mendalami values dari peradaban urban di Indonesia khususnya keunikan konsepnya. Cek dengan dokumen dan telusuri di lapangan orisinalitas peradaban urban kita. Menurut penelitian Pak Jo, tradisi urban di Indonesia hanya sampai level neighborhood, nggak nyampai ke kota. Ooo begitu ya, gumamku, jadi hanya ada setingkat kampung, maka pantaslah Pak Jo menjuduli bukunya ”kota tanpa warga” ! Lha Iya lah, kota sebagai wadah memang ada tetapi peradaban urbannya hanya sampai neighborhood ! Ada gap disitu !
Pak Jo bereaksi terhadap reaksinya Pak Leks soal membangun budaya untuk membangun kota. Aku kaget sekali atas jawaban Pak Jo ini. Ada perencana yang mengatakan bahwa untuk membangun kota yang baru perlu berangkat dari NOL. Caranya, babat habis semua permukiman tradisional, lalu bangun dengan tangan besi. Contohnya Beijing dan Singapur telah melakukan mekanisme tebang habis itu ! Hasilnya bisa disaksikan hari ini. Weleh-weleh, ternyata Singapur yang tertiiiiiiib sekali dan dibanggakan oleh beberapa temanku jebul menyimpan ceritera menyedihkan dengan membabat habis masa lalu ! Bayangkan ! Ketertiban Singapur dengan mekanisme denda yang dibanggakan itu ternyata sebuah contoh sejarah yang berdarah-darah dalam perencanaan kota ! Apakah dengan adanya kognisi denda di dalam kepala ala Singapur itu membuat hidup menjadi penuh dengan sukacita ? Apakah Malioboro yang tertib seperti Singapur akan menjadi kebanggaan, sementara sisi gelapnya yang berdarah-darah serta mematikan dilupakan ? Ya kita memang bangsa yang cenderung pelupa …… eee pemaaf kok …. bersyukurlah …..
Pak Jo meneruskan, mereka (Singapur dan Beijing) bilang bahwa cirikhas baru harus dibangun dengan konsep baru. Katanya lagi, ada penguasa Vietnam yang begitu (Lon Nol ?): membangun negara harus mulai dari nol. Orang yang lebih kaya dibunuh, orang yang lebih pintar dibunuh, supaya semua mulai dari NOL. Terjadilah pembunuhan para industriawan, para pemilik modal, dan tragisnya juga para ilmuwan termasuk pembakaran buku-bukunya ! Semua harus start dari kondisi yang sama….sama-sama nol puthul ! Padahal yang terjadi adalah, setelah membuang semua jatidiri lantas menjadi pengikut setia dari modernisasi. Menjadi pembebek model pembangunan yang ditawarkan oleh budaya lain !
Nah ini, membebek itu selalu tidak ada dalam kamus Pak Jo, kita harus selalu ingin unggul. Pak Yoyok nambahi, bahwa kita orang Jawa itu nggak punya keinginan untuk menjadi nomer satu. Coba lihat saat ini, siapa yang berani atau mau duduk di deretan kursi nomer satu. Lihat juga setiap kali kita kuliah, adakah yang mau duduk di deretan kursi paling depan ? Ooo begitu ya, itu fenomena yang mengungkapkan sikap batin toh …. minderwardigkeit ya …. Padahal aku biasanya presensi nomer satu, seperti juga waktu bedah buku ini aku datang nomer satu, itu kadang hanya karena kesadaran protokoler saja jeee ….. wah sokurlah kalau begitu, mentalitasku nggak salah-salah banget untuk masuk ke era globalisasi ….. tetapi barangkali nggak tepat lagi untuk tetap hidup di dalam budaya Jawa yang adiluhung itu …. Apakah merekayasa budaya harus mulai dengan memaknai ”duduk di nomer satu” kemudian mempaktekkan secara konsisten …. seperti itu ? Bisa jadi iya ! Ooo jadi kalau orang nggak mau duduk di deretan depan itu indikasi kalau nggak siap maju … gitu kah ?
Intinya adalah menghormati jaditiri kita secara kritis, begitu kira-kira kata Pak Jo. Perlu ada usaha untuk mencari, mengenali dan menghormati jatidiri itu supaya the originals muncul dan menjadi basis bagi pengembangan atau mengobati kota kita yang sakit. Pada akhir uraiannya Pak Jo mengatakan, kita ini baru sampai tahap MENGKOTA dan belum tiba pada BERKOTA. Lho kenapa ? Iya, bakat hidup menjadi warga kota tidak berasal dari rahim ibu, orang harus berlatih dan belajar untuk menjadi warga kota ! Kita harus berubah dari mengkota menjadi berkota ! Bahkan, dalam BERKOTA sebenarnya kita membangun BERKITA ! Keberkitaan kita menjadi dasar keberkotaan kita !
Waaah gongnya hebat banget ! plok plok plok tepuk tangan meriah ……
Secara spontan, sejak awal diskusi, sebenarnya pikiranku melayang-layang jauh menuju kepada komunitas Fakultas Teknik UAJY. Bolak – balik sampai benak ini panas (rambut brodol) ! Banyak gagasan ku yang muncul dipicu oleh paparan dan diskusi hari ini ! Soal kontradiksi, misalnya, kita seringkali menyatukan dalam praktek keseharian kita. Soal membangun FT mulai dari jatidiri kita, terus menggaung di dalam benakku, mulai dari nol dengan tangan besi tentu amat ditentang, tetapi harus mulai dari mana ? Ada harapan, kita bisa mulai dari ”belajar kembali” untuk membangun Keberkitaan kita dengan menghormati keunikan jatidiri kita ! Yah, bakat hidup di dalam komunitas Fakultas Teknik tidak ada dari rahim ibu, tetapi berkat memori dan jatidiri sebagai manusia yang bisa belajar dari masa lalu, keberkitaan kita akan menjadi landasan untuk membangun FT yang semakin berkembang ….. kita perlu belajar berkita ….. ooohh ini hanya letupan-letupan pikiran yang spontan saja ….. membangun seperti Singapur atau Beijing atau yang berbasis warga ?
Oh ya ….. Tadi ada kritik soal welfare state yang sangat mencekam. Konon dalam sebuah welfare state itu rakyat tahu bahwa negara selalu menyediakan apapun bagi rakyatnya. Rakyat bak dimanja oleh negara, sampai-sampai …….. orang miskin di depan mata kita-pun secara spontan dilihat sebagai INI URUSAN NEGARA ! Lanjutannya, JADI BUKAN URUSANKU ! Rasa kemanusiaan kita kalah oleh kognisi modernitas kita yang mengunggulkan keadidayaan negara yang keropos !
Payung welfare state seperti itu tidak cocok untuk kondisi Indonesia seperti saat ini. Ide Welfare state seperti itu mematikan peluang rakyat untuk belajar menjadi manusia yang aktif dan berkepedulian pada persoalan ideal yang muncul pada persoalan sehari-hari secara kasat mata. Mengapa ? Ya, di dalam benak selalu tergiang gagasan-gagasan: negara akan urus itu ! Pemerintah akan urus itu ! Para pejabat akan urus itu ! Itu bukan urusan hati nuraniku! Bukan urusan rasa sosialku ! Bahkan relijiusitasku !!!!!
Salam,
Djarot
Wah Pak Djarot, saya kaget membaca tulisan-tulisan ini. Kemurnian yang sudah jarang sekali terlihat, hanya sisa-sisa peninggalan lama. Sisa-sisa generasi yang terlahir di era dengan budaya dan hati yang kuat.
Salam,
Adi (Wasnadipta)
Oleh: Narotama on November 22, 2010
at 8:12 pm