15 Desember 2010
Seharian tadi ikut meramaikan diskusi di Studium Generale di Pascasarjana Universitas Sanata Dharma tentang “Penelitian Fenomenologi dalam Ilmu-ilmu Sosial Humaniora”. Menarik banget diskusinya, bintangnya pak St. Sunardi (mantan pastur) yang mendongeng sejarah dan keunikan fenomenologi dan kemudian menjalar kemana-mana. Diskusinya inspiratif, menambah knowledge dan memantapkannya.
Pidato Romo Rektor USD sangat menarik: berfenomenologi bagi USD adalah meneruskan rintisan Romo Dijkstra, yaiitu menelusuri-menemukan fenomena kehidupan yang amat kaya (dulu kasus kehidupan petani), kemudian diteruskan ke arah transformasi kehidupan. Berfenomenologi adalah bertransformasi bagi penelitinya, dan penerapan temuannya dalam praktek mendorong transformasi kehidupan masyarakat.
St. Sunardi mengatakan, Husserl “menciptakan” fenomenologi memang bermaksud membangun ilmu baru. Mengapa? Pada waktu itu, ilmu-ilmu sosial-humaniora di Eropa mengalami krisis, dan yang dituduhnya menjadi sumber bencana adalah karena dasar keilmuannya diambil dari positivisme. Bagi Husserl, fenomenologi menggarap “fenomena mental”, sedangkan fenomena alam, psikis, sosial ada sudah ilmunya masing-masing !!!
Pak Sunardi bercerita, Husserl itu doktor matematika yang akhirnya menemukan-merumuskan filsafat fenomenologi. Ia mengamati fenomena kehidupan sehari-hari, akhirnya berkesimpulan, matematika lahir dari kehidupan sehari-hari. Artinya, kehidupan sehari-hari hakekatnya melahirkan cara berpikir matematika. Melalui bukunya “Logical Investigation” itulah Husserl membidani lahirnya filsafat fenomenologi.
Ceritanya dari Husserl lalu pindah ke Heidegger, yang berbasis pada konsep ADA (Sein), sebagai cara beradanya manusia. Benda-benda (meja,kursi, TV dll) dan manusia itu ADA (SEIN), dan keberadaan manusia berbeda dengan keberadaan benda-benda. Manusia ada dengan dunianya, itulah uniknya. Manusia lahir langsung terletak di dalam dunia tertentu yg unik, dan itu disebut berada, DASEIN (istilah kunci ciptaan Heidegger).
Ketika dogeng sejarah fenomenologi sampai Heidegger dan konsep DASEIN (ADA) sebagai kuncinya, aku jadi teringat pak Galih WP yang datang Kamis minggu lalu. Dia mengingatkan kaitan ilmu arsitektur dengan huruf Jawa. Alfabet Jawa dimulai dengan HANA yang artinya ADA. Aku membayangkan, tampaknya orang Jawa sejak memiliki huruf Jawa sudah merasuk filsafat Heidegger, bahkan sebelum filsafat itu dirumuskan di Eropa !!!
Ada contoh mengesankan dari pak Sunardi tentang filsafat Heidegger dalam budaya Jawa. Ungkapan “menungso nggendong luput” yang muncul setiap silaturahmi di bulan Ramadhan tidak muncul tiba-tiba, melainkan memiliki akar dalam konteks kehidupan. Itu artinya, orang Jawa mendefinisikan kemanusiaan dirinya dengan dan melalui pengalaman kehidupan sehari-hari. Artinya lagi, manusia Jawa hakekatnya Heidegger banget deh !!!
Dari Heidegger berlanjut ke Merleau Ponti. Konon, deskripsi fenomenologis Husserl dianggap sangat esoteris, sedangkan Heidegger melayang di awang-awang, lha Ponti dianggap lebih membumi (bau tanah, bau badan). Ponti berbasis pada pemahaman subyek yang bisa mempersepsi, maka dia cenderung filsuf yang “to rediscover the perceived world”. Filsafat fenomenologi Ponti adalah tentang dunia persepsi manusia.
Ada penanya ingin tahu apa itu filsafat yang berbau tanah. Pak Sunardi menjelaskan dengan contoh: panasnya wedus gembel itu 900 derajat C. Siapa pernah mengukurnya? Alatnya apa? Bagaimana mengukurnya? Nah itulah, manusia membuat ungkapan “panas 900 derajat C” melalui pembandingan dengan kehidupan sehari-hari atau peristiwa, misalnya ditemukan tubuh manusia yang hangus jadi arang di sungai Gendol.
Ketika cerita sampai Merleau Ponti ini, aku teringat pada Romo Mangunwijaya dan bukunya Wastu Citra. Romo memulai paparannya buku monumental itu dengan menulis “Buku ini ditulis untuk menghormati para tukang dan karyawan/ti lapangan, … guru dan mahaguru bagiku”. Artinya, Romo dituntun pandangan Ponti: pengalaman sehari-hari adalah mahaguru bagi para arsitek !!!
Landasan filosofis Romo Mangun yang Ponti banget muncul pada tema Bahasa Ungkapan. Ia mengutip Metz: “agar menjadi roh manusiawi yang sempurna, ia (manusia) harus semakin menjadi badan”, lalu diteruskan ke Serat Dewa Ruci. Dari Ponti ia menulis: tubuh dalam arti mulia adalah ruang yang mengungkapkan diri. Ungkapan ini jelas-jelas diambil dari A. Merleau Ponty (hal. 13, edisi baru/2009).
Menurut pak Sunardi, jejak fenomenologi di Indonesia ditemukan pada Driyarkara (bukunya Percikan Filsafat). Ia dinilainya sudah menjalankan tugas Husserl dengan merumuskan “Ilmu Jiwa Agama” (sebuah fenomenologi agama). Artinya, fenomenologi Husserl sudah eksis sejak tahun 1960-an di Indonesia melalui kehadiran pemikiran Romo Driyarkara !!!
Saat sampai Driyarkara aku membayangkan rantai fenomenologi dalam arsitektur. Husserl masuk ke dalam pemikiran Driyarkara, dan Driyarkara minimal menginspirasi Mangunwijaya & Sindhunata. Aku ingat, sampul buku disertasi Profesor Sudaryono diberi gambar “gerbang permukiman Code” di dekat jembatan, beliau suka cerita tulisan Sindhunata. Artinya, Prof Sudaryono menerima inspirasi dari Mangunwijaya dan Sindhunata !!!
Pak Sunardi mengungkapkan konsep-konsep kunci fenomenologi: erlebnis, lebenswelt, kesadaran intensional, epoche, deskripsi fenomenologis, metoda reduksi dalam fenomenologi (hanya 2 yang dijelaskan, padahal ada tiga). Dari diskusi yang aku ikuti sampai selesai, tampaknya penelitian berbasis fenomenologi di USD masih awal, padahal di arsitektur UGM sudah ada minimal 6 disertasi berbasis fenomenologi !!!
Catatan dibuat oleh: Djarot Purbadi
Bahagia Pak…..Sungguh bahagia……..menemukan blog panjenengan ini. Alasan pertama blog ini membangun “kenangan” dibimbing oleh Prof. Sudaryono saat kuliah S2 di MPKD kemarin……Mengenal Fenomenologi mjd media mengasah akal budi kita.
Alhamdulillah, tesis kemarin mengantar saya ke Eropa (Rumusan tesis: Panggon Srawung : Konsepsi Perubahan Sosial, Ekonomi dan Spasial Masyarakat Nelayan Sadeng, Gunung Kidul).
Saat ini saya sedang studi S3 di Portugal (beasiswa Erasmus Mundus)….Mesq di bidang Geografi, Insya Allah pendekatan fenomenologi akan sangat bermanfaat bagi saya pribadi. Salam dan sungkem untuk Prof. Sudaryono.
Oleh: agung budiono on Maret 15, 2011
at 3:19 am
Mas Agung, jika ada kesempatan pulang ke Jogya, mampir di posko APRF ya, weblognya bisa dikunjungi di http://forumriset.wordpress.com. Selamat berjuang, tetap semangat dan GBU !!!
Oleh: djarotpurbadi on April 4, 2011
at 10:40 pm
betul pak jarot….kl di bidang desain dan arsitektur fenomenologi adalah ‘suatu yang biasa dilakukan tp gak terlalu disadari’…jadi bukan merupakan hal baru….karena saat kita mendesain aspek teknis fungsional, struktural dan estetik adalah hal yang selalu menyertai dan terintegrasi…..
saya ikut juga dalam seminar ini dan tertarik dg uraian pak jarot pada even tsb
Oleh: yolanda on April 8, 2011
at 3:36 pm
Mbak Yolanda, jika tertarik bisa hadir di diskusi mahasiswa S3 Arsitektur UGM, khususnya jika ada sesi yang membicarakan paradigma fenomenologi. Silahkan berkenalan dengan kami di http://forumriset.wordpress.com, tentu kita dapat saling belajar bersama. Kami biasa mengumumkan acara pertemuan-diskusi di weblog ini. Terima kasih, kehadirannya ditunggu lho.
Oleh: djarotpurbadi on April 10, 2011
at 6:10 am