<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Arsitektur dan Fenomenologi</title>
	<atom:link href="http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com</link>
	<description>...memahami arsitektur dengan akal dan indrawi ternyata belum cukup...</description>
	<lastBuildDate>Fri, 09 Jan 2009 00:48:42 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='fenomenologiarsitektur.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/cad2495633153fc90086b1f76a90a82d?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Arsitektur dan Fenomenologi</title>
		<link>http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Mengenal Kunci-kunci Fenomenologi Husserl menurut Hamersma (1983)</title>
		<link>http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com/2009/01/09/mengenal-kunci-kunci-fenomenologi-husserl-menurut-hamersma-1983/</link>
		<comments>http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com/2009/01/09/mengenal-kunci-kunci-fenomenologi-husserl-menurut-hamersma-1983/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jan 2009 00:06:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djarotpurbadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsitektur]]></category>
		<category><![CDATA[Fenomenologi]]></category>
		<category><![CDATA[Husserl]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com/2009/01/09/mengenal-kunci-kunci-fenomenologi-husserl-menurut-hamersma-1983/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Djarot Purbadi, Sudaryono dan Achmad Djunaedi
Penulis lain yang membahas tentang fenomenologi Husserl adalah Harry Hamersma. Uraiannya tidak terlalu panjang atau mendalam, sebab tema yang digarap buku tersebut sangat luas, sehingga hanya sedikit kunci yang dapat ditemukan dalam bukunya. Menurut Hamersma (1983) ada tiga kunci yang harus dipahami untuk mengenal fenomenologi Husserl, yaitu (1) fenomenologi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fenomenologiarsitektur.wordpress.com&blog=5046214&post=52&subd=fenomenologiarsitektur&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh: Djarot Purbadi, Sudaryono dan Achmad Djunaedi</p>
<p>Penulis lain yang membahas tentang fenomenologi Husserl adalah Harry Hamersma. Uraiannya tidak terlalu panjang atau mendalam, sebab tema yang digarap buku tersebut sangat luas, sehingga hanya sedikit kunci yang dapat ditemukan dalam bukunya. Menurut Hamersma (1983) ada tiga kunci yang harus dipahami untuk mengenal fenomenologi Husserl, yaitu (1) fenomenologi transendental, (2) kesadaran dan intensionalitas, dan (3) tiga reduksi versi Husserl. Uraian Hamersma ini melengkapi pemahaman kita tentang fenomenologi Husserl yang sangat rumit. Berikut uraiannya tentang tiga kunci untuk memahami fenomenologi Husserl.</p>
<p>FENOMENOLOGI TRANSENDENTAL. Husserl yang terinspirasi Brentano pada awalnya mengenal Fenomenologi Psikologis, kemudian lebih mengembangkan Fenomenologi Transendental, bukan Fenomenologi Eksistensial Heidegger (Hamersma, 1983: 116- 117). Fenomenologi transendental Husserl dikembangkan setelah tahun 1908 (Hamersma, 1983: 116). Melalui deskripsi fenomenologis ingin ditemukan (diciptakan) hakekat obyek; sesuatu yang tidak berubah dari berbagai macam gejala- gejala (Hamersma, 1983: 116).</p>
<p>Uraian Hamersma pada alinea diatas ini menjelaskan perubahan pemikiran Husserl tentang fenomenologi yang dikembangkannya. Artinya, fenomenologi Husserl pada hakekatnya dikaitkan dengan logika transendental, bukan lagi dengan logika psikologis. Hamersma dalam bukunya tidak menjelaskan tentang transendentalitas dalam fenomenologi Husserl, maka seolah-olah menjadi tidak ada dasarnya menyebut fenomenologi Husserl adalah fenomenologi transendental. Namun, jika logika transendental yang menjadi landasan dari fenomenologi Husserl adalah seperti yang dipaparkan oleh van Peursen (1988), maka menjadi agak jelas bahwa fenomenologi transendental adalah fenomenologi yang berusaha meraih pemahaman tentang obyek-obyek melalui pengenalan yang terus menerus dan semakin mendalam.</p>
<p>Hamersma dalam uraiannya berusaha menunjukkan bahwa deskripsi fenomenologis merupakan sendi penting dalam fenomenologi Husserl, sebab dengan mendiskripsikan fenomena maka pemahaman mendalam tentang obyek yang diamati menjadi semakin jelas. Bahkan dikatakannya, dengan mendiskripsikan obyek secara fenomenologis maka obyek diciptakan, bukan sekedar dipaparkan. Artinya, pada saat pengamat melakukan deskripsi, maka hakekatnya ia sedang menciptakan obyek menurut kesadaran dan pengamatan yang dilakukannya.</p>
<p>Jika dikaitkan antara logika transendental dengan deskripsi fenomenologis, maka dapat dikatakan bahwa seseorang dapat mendiskripsikan obyek secara fenomenologi transendental sampai pada hakekatnya jika ada kedekatan yang terus-menerus dengan obyek yang diamati. Artinya, kedekatan dan pengamatan yang intensif menjadi syarat diraihnya hakekat obyek yang diamati. Bahkan, menurut Hamersma, mendiskripsikan obyek adalah menciptakan obyek sekaligus menjelaskan hakekat obyek, asalkan dilakukan dengan pengamatan yang intensif dengan kedekatan yang sangat erat.</p>
<p>Jika kita menggunakan kunci pertama ini, segera jelas bahwa untuk bisa melakukan praktek fenomenologi Husserl yang bersifat transendental, maka kedekatan dan pengamatan yang intensif terhadap obyek merupakan langkah kunci pertama yang disyaratkan. Pengamat dari jarak pengamatan yang jauh hampir tidak mungkin mampu menemukan hakekat obyek secara mendalam. Kunci pertama ini menunjuk langsung pada pengertian, perjumpaan secara langsung dengan obyek yang diamati menjadi syarat mutlak yang harus dilakukan. Kata perjumpaan dalam uraian ini adalah perjumpaan yang sangat dekat sehingga pengamat mampu mengamati secara intensif; terus menerus dengan intensitas yang tinggi.</p>
<p>Langkah kunci yang kedua adalah melakukan deskripsi fenomenologis tentang obyek yang diamati disertai kesadaran bahwa ketika mendiskripsikan obyek maka sang pengamat sedang menciptakan obyek menurut kedekatan yang digunakannya. Artinya, kemampuan mendekati dan mendiskripsikan obyek menjadi syarat kunci yang sangat menentukan ditemukannya hakekat obyek yang diamati. Dengan demikian, pencapaian hakekat obyek sangat tergantung pada kemampuan pengamat dalam melakukan pendekatan, pengamatan dan pendiskripsian tentang obyek yang diamatinya. Beberapa orang yang mengamati obyek yang sama akan menemukan bermacam-macam hahekat dari obyek yang sama, dan hal itu menurut Hamersma ditentukan oleh kedekatan, intensitas pengamatan dan deskripsi fenomenologis yang dikerjakan oleh para pengamat.</p>
<p>Praktek dengan pengertian fenomenologi tansendental seperti ini dapat dilakukan untuk melihat obyek ruang kota di jalan Malioboro. Pengamat harus berusaha memiliki relasi yang sangat dekat dengan ruang Malioboro. Ia juga harus melakukan pengamatan yang intensif terhadap ruang Malioboro. Kedua langkah tersebut akan menentukan bagaimana deskripsi pengamat tentang ruang Malioboro. Ketika mendiskripsikan itulah hakekat ruang Malioboro berhasil diciptakan dan ditemukan. Dengan demikian, esensi hakekat tentang ruang Malioboro dekat dengan pengetahuan subyektif, bukan pengetahuan obyektif.</p>
<p>Persoalan pengetahuan subyektif ini sebenarnya tidak menjadi masalah besar, sebab pengetahuan subyektif yang diperoleh dapat disikapi sebagai pengetahuan ”sementara” yang menemukan ”sepotong profil” dari sisi tertentu dalam kerangka proses konstitusi obyek dalam kesadaran pengamat (Bertens, 1990). Jika kita sepakat dengan Hamersma dan Bertens, maka menemukan hakekat obyek memerlukan kedekatan, pengamatan intensif, kesadaran subyektivitas merupakan bagian dari proses konstitusi yang menciptakan obyek di dalam kesadaran pengamat. Subyektivitas dapat ditekan menuju kepada obyektivitas jika terjadi proses dialog – intersubyektif dengan pengamat yang lain, sebab di dalam proses dialog terjadi proses konstitusi kolektif (istilah kami) tentang obyek yang sama dan akhirnya menghasilkan temuan hakekat obyek yang relatif mendekati obyektif dalam lorong inter-subyektivitas.</p>
<p>KESADARAN DAN INTENSIONALITAS. Kesadaran bukanlah bagian dari kenyataan melainkan asal dari kenyataan; kesadaran tidak menemukan obyek-obyek melainkan menciptakannya (Hamersma, 1983: 116). Kesadaran selalu terkait dengan sesuatu yang disadari karena ada subyek, subyek terbuka pada obyek, dan ada obyek (Hamersma, 1983: 117). Kesadaran selalu terarah kepada obyek-obyek; kesadaran intensional. Kesadaran tidak pernah pasif melulu karena menyadari sesuatu selalu berarti mengubah sesuatu (Hamersma, 1983: 117). Kesadaran (noesis) selalu berinteraksi dengan obyek kesadaran (noema) dan akhirnya menciptakan obyek yang disadari (noema)( Hamersma, 1983: 117).</p>
<p>Sama dengan Bertens, Hamersma menekankan pada pentingnya kesadaran dan intensionalitas. Bahkan menurut Hamersma, kesadaran adalah asal-muasal realitas yang menciptakan realitas itu sendiri. Kesadaran dalam fenomenologi Husserl adalah kesadaran yang aktif dan selalu terbuka serta terarah kepada obyek-obyek yang diamati. Ada interaksi aktif antara kesadaran aktif pengamat dengan obyek yang diamati. Alinea ini menegaskan bahwa pengamat yang menggunakan fenomenologi adalah pengamat yang menggunakan kesadaran aktifnya untuk menciptakan realitas yang diamatinya. Pengamat secara aktif menciptakan realitas melalui pengamatan yang menggunakan kesadaran aktifnya.</p>
<p>Pengamat yang sedang mengamati ruang Malioboro, misalnya, harus selalu aktif melakukan pengamatan sehingga aktif menciptakan relitas dalam kesadarannya. Ia harus mampu mengarahkan pengamatannya yang dituntun dengan kesadaran aktif untuk menciptakan realitas ruang Malioboro. Kesadarannya yang aktif akan menuntunnya untuk menyentuh semua aspek yang menciptakan realitas ruang Malioboro. Pengamatan menyeluruh yang dituntun oleh kesadaran aktif akan menjadi syarat kunci terciptanya realitas ruang Malioboro. Jelas bahwa dalam uraiannya, Hamersma melihat bahwa kesadaran aktif merupakan kunci penting dalam menjalankan fenomenologi transendental Husserl.</p>
<p>TIGA REDUKSI. Agar mencapai hakekat obyek, diperlukan tiga tahap reduksi yang fungsinya adalah menyingkirkan semua hal pengganggu (Hamersma, 1983: 117). Reduksi pertama, menyingkirkan semua hal yang subyektif; reduksi kedua menyingkirkan seluruh pengetahuan yang diperoleh dari sumber lain (semua teori dan hipotesis yang ada); dan reduksi ketiga menyingkirkan seluruh tradisi pengetahuan (Hamersma, 1983: 117). Ketiga reduksi akan menghasilkan gejala yang menampakkan diri; fenomin (Hamersma, 1983: 117).</p>
<p>Uraian pada alinea diatas ini memperjelas bagaimana cara kerja kesadaran aktif, yaitu pengamatan secara aktif adalah melakukan tiga tahapan reduksi. Reduksi pertama adalah penggunaan kesadaran aktif untuk melihat bahwa unsur subyektif harus dilepaskan dari pengamatan terhadap obyek. Husserl tampaknya mencurigai bahwa subyektivitas manusia potensial mengaburkan pengamatan. Artinya, hal-hal yang subyektif perlu dilepaskan supaya obyek menampakkan diri sejujur-jujurnya. Husserl secara tegas menunjukkan bahwa kecenderungan pribadi perlu disikapi secara kritis. Dengan demikian menjadi jelas, kesadaran aktif tertuju kepada dua arah, yaitu aktif melakukan penciptaan obyek (orientasi ke luar) dan aktif melakukan kontrol terhadap subyektivitas pribadi (orientasi ke dalam).</p>
<p>Reduksi kedua menegaskan bahwa pengamatan fenomenologis harus murni dan tidak tercemari oleh pengetahuan yang ada dalam pikiran pengamat, sebab pengetahuan tersebut akan mengganggu terciptanya obyek secara apa adanya. Kecurigaan Husserl yang kedua adalah terhadap peran pengetahuan yang telah mengendap dalam benak pengamat sepanjang hidupnya. Kecurigaan ini sejalan dengan pemikirannya bahwa pengamatan harus dilakukan secara murni, yang artinya pengamat dapat mengontrol dirinya secara sadar terhadap pengaruh dari pengetahuan yang sudah dimilikinya.</p>
<p>Reduksi ketiga semakin ekstrim sebab Husserl mencoba melakukan pembersihan kesadaran pengamat dari seluruh tradisi pengetahuan. Orang diharuskan memurnikan dirinya sendiri ketika melakukan pengamatan fenomenologis sebab yang ingin dicapai adalah pengetahuan yang murni. Bagi Husserl sangat penting bahwa selama proses pengamatan tidak boleh ada hal-hal yang mengganggu supaya pengetahuan yang dihasilkan tentang obyek bersifat murni.</p>
<p>Dengan demikian, reduksi mirip proses mengupas bawang merah, selapis demi selapis hingga akhirnya sampai kepada inti paling dalam yaitu hakekat obyek. Selain itu, Husserl dengan reduksi juga menegaskan bahwa pengetahuan murni tentang realitas hanya dimungkinkan jika manusia juga melakukannya dengan kesadaran murni, yang tidak dicemari oleh subyektivitas dirinya, pengetahuan yang pernah dimilikinya, dan seluruh tradisi pengetahuan yang pernah ada. Proses reduksi, selain menunjukkan proses aktifnya kesadaran juga menjelaskan sikap Husserl yang paling dasar yaitu pengetahuan yang murni hanya dapat diperoleh melalui pengamatan yang murni, bebas dari pengaruh subyektivitas manusia dan pengetahuan yang pernah dimilikinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin:2.8pt 0 5.65pt;">Sumber: Hamersma, Harry, 1983, Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern, Jakarta: Gramedia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:2.8pt 0 5.65pt;">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fenomenologiarsitektur.wordpress.com&blog=5046214&post=52&subd=fenomenologiarsitektur&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com/2009/01/09/mengenal-kunci-kunci-fenomenologi-husserl-menurut-hamersma-1983/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9eaa45ba147dc871c0f03f703cd3059?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">djarotpurbadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengenal Kunci-kunci Fenomenologi Husserl menurut van Peursen (1988).</title>
		<link>http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com/2008/10/25/mengenal-kunci-kunci-fenomenologi-husserl-menurut-van-peursen-1988/</link>
		<comments>http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com/2008/10/25/mengenal-kunci-kunci-fenomenologi-husserl-menurut-van-peursen-1988/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Oct 2008 03:57:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djarotpurbadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsitektur]]></category>
		<category><![CDATA[Fenomenologi]]></category>
		<category><![CDATA[Husserl]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com/2008/10/25/mengenal-kunci-kunci-fenomenologi-husserl-menurut-van-peursen-1988/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Djarot Purbadi, Sudaryono dan Achmad Djunaedi
Dari tulisannya, terlihat jelas bahwa cara Van Peursen melihat fenomenologi berbeda jika dibandingkan dengan Bertens (1990). Selain itu, elemen-elemen yang dibahas juga berbeda. Dalam membahas fenomenologi Husserl, Van Peursen menekankan relasi yang khas antara obyek yang diamati dengan subyek yang melihat. Adapun kunci-kunci fenomenologi Husserl menurut Van Peursen adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fenomenologiarsitektur.wordpress.com&blog=5046214&post=29&subd=fenomenologiarsitektur&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal">Oleh: Djarot Purbadi, Sudaryono dan Achmad Djunaedi</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:2.8pt 0 5.65pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Dari tulisannya, terlihat jelas bahwa cara Van Peursen melihat fenomenologi berbeda jika dibandingkan dengan Bertens (1990). Selain itu, elemen-elemen yang dibahas juga berbeda. Dalam membahas fenomenologi Husserl, Van Peursen menekankan relasi yang khas antara obyek yang diamati dengan subyek yang melihat. Adapun kunci-kunci fenomenologi Husserl menurut Van Peursen adalah (1) relasi subyek dan obyek, (2) transendensi, (3) pemahaman melalui pengamatan bertahap, dan (4) horison-horison, (5) logika transendental, dan (6) cakrawala kenyataan. Bagaimanapun juga, pandangan van Peursen melengkapi gambaran kita tentang fenomenologi versi Husserl yang dikupas oleh Bertens (1990).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:2.8pt 0 5.65pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Menurut an Peursen (1988: 59) fenomenologi adalah meneliti data menurut bentuk penampakannya, sebab setiap fenomen menunjuk sesuatu di luar dirinya. Van Peursen tidak menjelaskan secara detil dan formal tentang pengertian fenomen seperti yang dilakukan oleh Bertens (1990), yang memberikan pengertian fenomen – noumen menurut Kant dan Husserl yang berbeda. Ia lebih melihat fenomen dalam kaitan dengan relasi subyek-obyek, yaitu data. Bagi van Peursen, fenomen adalah sesuatu yang di luar subyek, yaitu dunia obyek-obyek. Tampaknya van Peursen ingin mendekati fenomenologi dengan cara yang praktis dan tidak terjebak pada definisi yang ketat (filosofis), meskipun menyadari adanya resiko atas sikapnya itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:2.8pt 0 5.65pt;"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Kunci pertama, relasi subyek dan obyek</span></strong><span style="font-family:&quot;" lang="SV">. Relasi SUBYEK &#8211; OBYEK mendapat tekanan khusus pada Husserl, khususnya struktur subyek yang mengetahui (Peursen, 1988: 59). Dalam penjelasannya, van Peursen menekankan aspek relasi yang khas subyek dengan obyek dan mengacu pada pandangan bahwa subyek memiliki struktur pengamatan yang unik. Subyek memiliki cara tertentu dalam menangkap dan memahami obyek, dan obyek-pun memiliki hakekat yang khas berkaitan dengan semesta realitas. Bagi van Peursen (1988: 59) obyek tidak sekedar dirinya sendiri, melainkan ia mewakili kelompok obyek yang lain. Artinya, jika kita melihat sebuah obyek, maka sebenarnya kita melihat ”dunia obyek sejenis” yang lebih luas. Jika ia menghadapi seorang tukang becak yang sedang berceritera tentang kehidupan pribadinya, tidak berhenti di situ. Menurut van Peursen kita melihat dunia kehidupan tukang becak yang lebih luas. Dalam hal ini ada pandangan bahwa bagian mewakili keseluruhan di dalam proses pengamatan, meskipun pengetahuan nir-kasat mata itu dianggap sebagai kenyataan sementara. Nah, pengertian nir-kasat mata ini tidak ditemukan dalam penjelasan Bertens (1990).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:2.8pt 0 5.65pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Seorang arsitek yang mengamati obyek tertentu, misalnya fenomena ruang Malioboro, ia memasuki suatu relasi yang erat antara dirinya (subyek = pengamat) dengan obyek ruang Malioboro (obyek = yang diamati). Ruang Malioboro tidak sekedar mengungkapkan dirinya, melainkan ia mewakili ruang-ruang kota sejenis. Ia juga memberi penjelasan beberapa hal pokok tentang ruang sejenis, yang ada di tempat lain. Artinya, mengetahui Malioboro sebenarnya juga mengetahui ruang kota yang sejenis dengan Malioboro di lain tempat (kota-kota lain). Ketika kita melihat tugu atau alun-alun, maka kita sebenarnya juga melihat ”dunia tugu dan alun-alun” yang lebih luas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:2.8pt 0 5.65pt;"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Kunci kedua, penyeberangan atau transendensi.</span></strong><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> Menurut van Peursen, manusia mengamati sebuah benda dalam ruang, maka hanya salah satu aspeknya yang tertangkap; misalnya melihat sisi atas, samping atau depan (<em>Abschatung</em>)( Peursen, 1988: 59). Setiap melihat salah satu sisi kubus, misalnya, sebenarnya pengamat juga &#8220;melihat&#8221; sisi bawah yang berupa segi empat (sudah diandaikan), maka dalam situasi ini terkandung aspek penyeberangan (transendensi)( Peursen, 1988: 60). Van Peursen menjelaskan bahwa menurut Husserl, di dalam pengamatan &#8220;obyek khusus&#8221; terkandung juga &#8220;obyek pada umumnya&#8221;; jadi muncul juga pengetahuan tersirat yang lebih banyak (Peursen, 1988: 60). Jika manusia mengamati sebuah kubus, maka ia juga mengetahui kubus pada umumnya, atau jika mengamati warna merah pada suatu benda maka juga mengetahui warna merah pada umumnya. Artinya, yang bersifat umum (<em>eidos</em>) tidak berdiri di luar, melainkan terkandung di dalam pengamatan benda kongkrit yang dihadapi. Jadi sambil mengamati obyek tertentu, pengamat telah melangkah lebih jauh. Jika seorang pengamat menemukan tugu sebagai salah satu ujung jalan Malioboro, maka secara otomatis ia sudah mengandaikan bahwa ada ujung lain dari obyek yang diamatinya itu. Kebetulan saja di lapangan ditemukan adanya panggung Krapyak sebagai ujung yang lain itu. Artinya, jika kita sudah memegang sebuah titik dari fenomena yang kita amati, maka di dalam benak kita ada titik lain yang menjadi pasangannya. Jadi pengamatan yang bersifat transendensi ini memacu timbulnya gagasan atau hipotesis baru tentang pasangan dari obyek yang kita amati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:2.8pt 0 5.65pt;"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Kunci ketiga, pemahaman melalui pengamatan bertahap.</span></strong><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> Menurut van Peursen, pengamatan terjadi secara bertahap dan terus menerus dari berbagai sisi, maka pengetahuan tentang obyek dikembangkan dan disempurnakan. Dalam proses pengamatan bertahap itulah SUBYEK hadir pula; subyek dan obyek hadir bersama-sama. Van Peursen tidak menjelaskan secara rinci tahapan-tahapan dalam proses pengamatan bertahap ini. Tekanannya bahwa di dalam proses pemahaman dan pengamatan bertahap itulah subyek dan obyek hadir secara semakin tegas dan bersama-sama. Tekanan relasi yang erat subyek-obyek ini memang menonjol dalam pikiran van Peursen, namun proses pengamatan bertahap justru jelas pada gambaran Bertens yang menggunakan konsep konstitusi. Menurut Bertens, pemahaman lengkap dan absolut diperoleh melalui proses konstitusi atas profil-profil obyek.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:2.8pt 0 5.65pt;"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Kunci keempat, horison-horison</span></strong><span style="font-family:&quot;" lang="SV">. Menurut van Peursen, Husserl berpendapat bahwa setiap obyek selalu didekati dengan horison tertentu, sehingga ia selalu berada dalam jalinan dengan sesuatu di luar dirinya. Sebuah obyek tidak pernah dalam keadaan terisolir (Peursen, 1988: 60). Melihat sebuah rumah terkait dengan kesadaran bahwa ia terletak di suatu jalan, di sebuah kota; ada horison lahiriah (Peursen, 1988: 60). Rumah tersebut juga terkait dengan kesadaran akan waktu (umurnya, dsb); ada horison waktu (Peursen, 1988: 60). Jadi pada waktu mengamati rumah seperti ada dimensi-dimensi yang tidak terlihat namun dialami dan terkandung dalam proses pengamatan. Dimensi-dimensi itu terbentang ke berbagai arah. Pengamatan terhadap sebuah obyek juga selalu terkait dengan pengamat-pengamat lain; ada dimensi intersubyektif (Peursen, 1988: 61). Proses pengamatan ternyata tidak sederhana, sebab melibatkan horison-horison dan pengamat-pengamat lain. Kepekaan dan kekritisan terhadap situasi pengamatan yang rumit semacam ini akan menolong pemahaman yang semakin dalam terhadap obyek yang diamati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:2.8pt 0 5.65pt;"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Kunci kelima, logika transendental</span></strong><span style="font-family:&quot;" lang="SV">. Menurut van Peusen, fenomenologi Husserl mengandung logika transendental. Segala sesuatu (obyek) selalu menunjuk sesuatu di luar dirinya, baik cakrawala-cakrawala maupun subyek-subyek, maka setiap pengamatan selalu mengenal lebih banyak (tidak hanya yang dilihat). Kata van Peursen, kebenaran tak dapat dipetik demikian saja bagaikan buah- buah jambu, sebab jumlah relasi yang terkandung di dalam suatu obyek tak ada batasnya (Peursen, 1988: 61). Kebenaran adalah sebuah ide yang cakrawalanya tidak kunjung teraih. Proses mengetahui selalu menghadirkan subyek-obyek secara bersama-sama dan di dalam lingkungan cakrawala-cakrawala yang terus-menerus menampakkan diri. Subyek dan obyek saling berkaitan dan saling menentukan, obyek dibentuk melalui proses pengamatan yang terus menerus: obyek semakin lama semakin dikenal (Peursen, 1988: 62). Dengan demikian, pengamatan tidak berhenti pada proses sekali jalan melainkan proses-proses lain yang lebih rumit. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:2.8pt 0 5.65pt;"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Kunci keenam, cakrawala kenyataan</span></strong><span style="font-family:&quot;" lang="SV">. Van Peursen menyatakan bahwa cakrawala pengamat (subyek) selalu berada dalam kaitan dengan lingkungan kebudayaan (Peursen, 1988: 62). Artinya, cakrawala seseorang dipengaruhi oleh lingkungan kebudayaannya. Ada kebudayaan yang memandang warna putih sebagai tanda kesedihan, atau warna jingga sebagai warna sakral (Budhis). Hal itu berarti bahwa fakta tidak pernah obyektif semata-mata, karena selalu diteropong oleh subyek yang menduduki tempat tertentu, hidup di jaman tertentu, di dalam lingkungan budaya tertentu, sambil berkontak dengan pengamat-pengamat lain. Meskipun demikian, subyek- subyek tidak terjebak di dalam cakrawala masing- masing, sebab selalu terjadi dialog dalam hubungan intersubyektivitas untuk menghasilkan penilaian bersama. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:2.8pt 0 5.65pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Kunci keenam ini menuntun pada pemahaman bagaimana peran penting dari lingkungan kebudayaan di dalam proses pengamatan. Orang tidak dapat lepas bebas dari hal-hal yang melingkupi kehidupannya selama hidupnya dalam menjalankan proses pengamatan. Atas dasar kunci-kunci fenomenologi Husserl menurut van Peursen tersebut tampak dengan jelas bahwa proses memahami melalui pengamatan fenomenologis itu rumit, khususnya melibatkan kerumitan pada subyek pengamat maupun obyek yang diamatinya. Akibatnya, proses penampakan obyek terhadap subyek dapat sangat bervariasi, meskipun tidak jarang terjadi pemahaman yang sama (overlapping) antara pengamat yang satu terhadap yang lain. Pemahaman yang sama tersebut muncul dari proses pemahaman intersubyektif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:2.8pt 0 5.65pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Sumber: Peursen, C.A. van., 1988, Orientasi di Alam Filsafat, terjm. Dick Hartoko, Jakarta: Gramedia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:2.8pt 0 5.65pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:2.8pt 0 5.65pt;">
<p class="MsoNormal">Ir. Y. Djarot Purbadi, MT, kandidat doktor Arsitektur pada Program Pasca-sarjana Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada</p>
<p class="MsoNormal">Ir. Sudaryono, M.Eng.PhD, asisten profesor pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada</p>
<p class="MsoNormal">Ir. Achmad Djunaedi, MUP, Ph.D, profesor pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:2.8pt 0 5.65pt;">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fenomenologiarsitektur.wordpress.com&blog=5046214&post=29&subd=fenomenologiarsitektur&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com/2008/10/25/mengenal-kunci-kunci-fenomenologi-husserl-menurut-van-peursen-1988/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9eaa45ba147dc871c0f03f703cd3059?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">djarotpurbadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengenal Kunci-kunci Fenomenologi Husserl menurut Bertens (1990).</title>
		<link>http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com/2008/10/04/mengenal-kunci-kunci-fenomenologi-husserl-menurut-bertens-1990/</link>
		<comments>http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com/2008/10/04/mengenal-kunci-kunci-fenomenologi-husserl-menurut-bertens-1990/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Oct 2008 15:35:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djarotpurbadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsitektur]]></category>
		<category><![CDATA[Fenomenologi]]></category>
		<category><![CDATA[Husserl]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Djarot Purbadi, Sudaryono dan Achmad Djunaedi
Minimal ada enam kunci penting untuk memahami fenomenologi versi Husserl yang dapat ditemukan dalam tulisan Bertens (1990), yaitu: (1) pemahaman terhadap obyek mengikuti proses tertentu yang tidak bersifat garis lurus, (2) fenomenologi mempelajari apa yang tampak oleh kesadaran manusia dan itu adalah realitas, bukan kabut atau tirai realitas, (3) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fenomenologiarsitektur.wordpress.com&blog=5046214&post=17&subd=fenomenologiarsitektur&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal">Oleh: Djarot Purbadi, Sudaryono dan Achmad Djunaedi</p>
<p class="MsoNormal" style="margin:2.8pt 0 5.65pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Minimal ada enam kunci penting untuk memahami fenomenologi versi Husserl yang dapat ditemukan dalam tulisan Bertens (1990), yaitu: (1) pemahaman terhadap obyek mengikuti proses tertentu yang tidak bersifat garis lurus, (2) fenomenologi mempelajari apa yang tampak oleh kesadaran manusia dan itu adalah realitas, bukan kabut atau tirai realitas, (3) penampakan obyek melalui proses konstitusi oleh kesadaran yang intensional dan aktif, (4) pemahaman yang sungguh-sungguh tentang obyek dapat diperoleh secara mendalam jika melibatkan aspek proses terbentuknya obyek, (5) sikap fenomenologi sangat berhati-hati terhadap profil-profil penampakan sebagai bagian dari penampakan obyek yang total dan absolut, dan (6) dunia (realitas) selalu terkait dengan kesadaran, maka kesadaran selalu intensional, terarah kepada sesuatu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:2.8pt 0 5.65pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">PEMULA ABADI &#8220;<em>ein ewige Anfaenger</em>&#8221; adalah sebutan untuk Husserl dirinya sendiri, maksudnya: jika ia terbentur kesulitan baru, ia tidak membuang pemikiran sebelumnya melainkan seluruh permasalahan diselidiki kembali secara lebih mendalam (Bertens, 1990: 100). Dengan ungkapannya itu ingin dikatakan bahwa bagi Husserl proses memahami obyek bukan berjalan menurut garis lurus (seperti faham Descartes), melainkan memiliki proses yang berbeda. Gagasan Husserl ini tampaknya terkait dengan proses konstitusi dalam menemukan pemahaman yang erat kaitannya dengan cara penampakan obyek kepada subyek lewat profil-profil. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:2.8pt 0 5.65pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Dalam praktek, jika ingin mengetahui sungguh-sungguh tentang obyek arsitektur, misalnya, realitas ruang di Jalan Malioboro, pengamat tidak dapat hanya melakukan proses pengamatan ”sekali jalan” melainkan harus dilakukan proses-proses pengamatan yang berkali-kali dan berulang (<em>iteratif</em>). Dalam strategi tertentu, dapat dilakukan proses pengamatan secara menjelajah (<em>grandtour</em>) yang dipadukan secara intensif dengan proses pengamatan terfokus (<em>minitour</em>). Jadi tidak berjalan dengan pola proses garis lurus melainkan iteratif dengan strategi tertentu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:2.8pt 0 5.65pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">FENOMENOLOGI adalah ilmu yang mempelajari apa yang tampak atau apa yang menampakkan diri (fenomena)(Bertens, 1990: 100). Tetapi perlu dipahami bahwa fenomena versi Husserl berbeda dari fenomena versi Kant. FENOMENA menurut Kant, manusia hanya mengenal FENOMENON bukan NOUMENON (realitas), manusia hanya mengenal fenomen-fenomen dan bukan realitas itu sendiri. Bagi Kant, yang tampak ialah semacam tirai selubung realitas, jadi bukan realitas itu sendiri (Bertens, 1990: 100). Manusia hanya mengenal pengalaman batinnya sendiri yang diakibatkan oleh realitas, bukan realitas itu sendiri (ibid). Fenomena bukanlah realitas (noumena). Fenomena menurut Husserl adalah realitas itu sendiri yang tampak, sebab tidak ada selubung atau tirai yang memisahkan manusia dari realitas (Bertens, 1990: 101). Kesadaran manusia selalu terarah kepada realitas, maka bersifat intensional, jadi &#8220;kesadaran akan sesuatu&#8221; (ibid). Pengalaman estetis selalu terkait dengan obyek estetis (ibid) di dalam kesadaran pengamat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:2.8pt 0 5.65pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Jika menerapkan kunci ini, pengamat harus bersikap tegas bahwa apa yang ditemui di lapangan adalah realitas yang dijumpai. Artinya, tidak ada realitas lain di luar apa yang diamati dan dijumpai di lapangan. Ketika pengamat menjumpai bahwa di Malioboro banyak pedagang kaki lima, maka harus disimpulkan bahwa realitas PKL memang sungguh ada di Malioboro. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:2.8pt 0 5.65pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">KONSTITUSI adalah proses tampaknya fenomen-fenomen kepada kesadaran, jadi suatu aktivitas kesadaran yang memungkinkan tampaknya fenomena (Bertens, 1990: 101); dunia real dikonstitusi oleh kesadaran (ibid). Kesadaran harus ada di dunia supaya penampakan dunia dapat berlangsung (Bertens, 1990: 102). Kesadaran bersifat aktif. Proses persepsi dapat menjelaskan arti konstitusi yang dimaksudkan oleh Husserl (102). Bagi persepsi, gunung yang saya lihat adalah sintesis semua perspektif (pandangan atau penampakan dari segala arah), maka gunung itu telah mengalami konstitusi (ibid). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:2.8pt 0 5.65pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Pengamat yang menerapkan kunci ini sangat sadar bahwa fenomena kehidupan di Jalan Malioboro harus diamati berkali-kali dan dari berbagai sudut pengamatan. Jika mengikuti kunci ini, maka proses grandtour dapat dilakukan berkali-kali, demikian juga proses minitour. Pengamat akan melakukan proses pengamatan menjelajah berkali-kali untuk mendapatkan hasil atau gambaran kehidupan di Malioboro yang bersifat garis besar. Nah, proses pengamatan berkali-kali juga dapat dan perlu dilakukan juga pada proses minitour, yaitu mengamati berkali-kali obyek tertentu, misalnya: parkir, toko kain, toko obat, atau lainnya yang dibatasi spesifikasinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:2.8pt 0 5.65pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">PROSES HISTORIS atau KESADARAN SEJARAH merupakan kunci terakhir dalam pemikiran Husserl tentang fenomenologi, yaitu bahwa segala hal yang tampak saat ini hanya dapat dipahami sungguh-sungguh jika dikaitkan dengan sejarah terbentuknya (Bertens, 1990: 102). Terbentuknya suatu kota atau desa hanya dapat diterangkan dengan menyelidiki perkembangannya (ibid). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:2.8pt 0 5.65pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Jika pengamat ingin menerapkan kunci ini, maka perlu digali informasi yang mendalam tentang proses terjadinya obyek. Fenomena ruang kota di jalan Maliboro saat ini dilihat lebih cermat dengan informasi tentang proses terjadinya elemen-elemen di dalamnya. Keberadaan pedagang makan lesehan di Malioboro yang sekarang terkenal dapat dipahami dengan sungguh-sungguh jika dapat diperoleh informasi yang ditelusuri menembus waktu sejarah. Artinya, informasi tentang proses terbentuknya suatu obyek di jalan Malioboro perlu digali dengan proses iteratif sehingga diperoleh tingkat kemantapan informasi yang kokoh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:2.8pt 0 5.65pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">REDUKSI FENOMENOLOGIS atau REDUKSI TRANSENDENTAL (Bertens, 1990: 103). Reduksi merupakan batu sendi bagi seluruh filsafat Husserl. Ia membedakan adanya sikap natural dan sikap fenomenologis. Sikap natural adalah meyakini bahwa dunia sungguh-sungguh ada sebagaimana diamati dan dijumpai, sedangkan sikap fenomenologis ”menetralkan” (bukan menyangsikan, seperti Descartes) keberadaan dunia yang diyakini oleh sikap natural. Husserl tidak mempercayai keberadaan dunia jika sekedar apa yang diamati dan dijumpai sebab ia punya keyakinan bahwa setiap penampakan selalu bersifat profil-profil. Ia yakin bahwa cara penampakan obyek selalu bersifat sepotong-sepotong, sehingga diperlukan proses pengamatan yang berkeluasan dalam ruang. Setiap penampakan kepada subyek tidak pernah menurut semua profilnya, secara total dan absolut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:2.8pt 0 5.65pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Pengamat yang mempraktekkan kunci ini akan berusaha tenang dan kritis terhadap apapun yang ditemui di lapangan. Jika yang diperoleh adalah informasi verbal, misalnya tentang sejarah PKL di Malioboro, maka ia akan berhati-hati. Informasi dari seorang informan akan diletakkan sebagai sepotong informasi yang perlu dilihat kaitannya dengan informasi dari informan lain. Sikap ini lahir dari pemikiran, bahwa yang dilihat atau didengar adalah ”profil-profil” realitas yang masih perlu ”dikonstitusi” oleh kesadaran pengamat. Informasi itu bukan realitas yang total dan absolut, melainkan informasi sebagian-sebagian yang masih perlu dijahit (dikonstitusi) oleh ksadaran pengamat yang akhirnya akan membentuk realitas yang utuh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:2.8pt 0 5.65pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">INTENSIONALITAS KESADARAN merupakan konsep kunci dalam fenomenologi Husserl (Bertens, 1990: 104). Kesadaran selalu terarah kepada dunia, sebagai intensional. Dunia dalam pandangan Husserl selalu terkait dengan kesadaran manusia, sebab dunia selalu merupakan korelat bagi kesadaran; dunia sebagai fenomen. Pengamat yang menerapkan kunci ini selalu sadar bahwa obyek yang diamati adalah obyek yang dikenai kesadarannya, sedangkan obyek yang luput dari kesadarannya tidak termasuk dalam fenomena yang diamatinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:2.8pt 0 5.65pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Dalam praktek di lapangan, sebuah obyek akan digali informasinya jika masuk dalam bidang kesadaran pengamat. Misalnya, pengamat mengarahkan kesadarannya pada fenomena lesehan di Malioboro, maka hanya obyek itulah yang tampak dan digali informasinya. Obyek lain barangkali untuk sementara disimpan dan akan menjadi sasaran penggalian informasi jika kesadaran diarahkan kepadanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:2.8pt 0 5.65pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:2.8pt 0 5.65pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Pustaka: Bertens, K., 1990, Filsafat Barat Abad XX Inggris-Jerman, Jakarta: PT Gramedia</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:2.8pt 0 5.65pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:2.8pt 0 5.65pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:2.8pt 0 5.65pt;">
<p class="MsoNormal">Ir. Y. Djarot Purbadi, MT, kandidat doktor Arsitektur pada Program Pasca-sarjana Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada</p>
<p class="MsoNormal">Ir. Sudaryono, M.Eng.PhD, asisten profesor pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada</p>
<p class="MsoNormal">Ir. Achmad Djunaedi, MUP, Ph.D, profesor pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fenomenologiarsitektur.wordpress.com&blog=5046214&post=17&subd=fenomenologiarsitektur&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com/2008/10/04/mengenal-kunci-kunci-fenomenologi-husserl-menurut-bertens-1990/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9eaa45ba147dc871c0f03f703cd3059?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">djarotpurbadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penelitian dan Publikasi Arsitektur dalam Perspektif Fenomenologi</title>
		<link>http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com/2008/10/03/penelitian-dan-publikasi-arsitektur-dalam-perspektif-fenomenologi/</link>
		<comments>http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com/2008/10/03/penelitian-dan-publikasi-arsitektur-dalam-perspektif-fenomenologi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Oct 2008 16:42:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djarotpurbadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsitektur]]></category>
		<category><![CDATA[Fenomenologi]]></category>
		<category><![CDATA[Dimensi Visual]]></category>
		<category><![CDATA[Husserl]]></category>
		<category><![CDATA[Ruang Arsitektur]]></category>
		<category><![CDATA[Transenden]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Salam Sejahtera,
Blog ini secara khusus ingin menghimpun dan menyajikan berbagai kajian tentang arsitektur yang didekati dengan cara kerja para fenomenolog. Dalam pandangan kami, fenomena arsitektur pada skala mikro (bangunan) maupun meso (kelompok bangunan) merupakan realitas kehidupan yang sangat kaya dimensi. Ia bukan sekedar fenomena visual, melainkan fenomena yang memiliki berbagai dimensi yang melekat dalam kehidupan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fenomenologiarsitektur.wordpress.com&blog=5046214&post=9&subd=fenomenologiarsitektur&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Salam Sejahtera,</p>
<p>Blog ini secara khusus ingin menghimpun dan menyajikan berbagai kajian tentang arsitektur yang didekati dengan cara kerja para fenomenolog. Dalam pandangan kami, fenomena arsitektur pada skala mikro (bangunan) maupun meso (kelompok bangunan) merupakan realitas kehidupan yang sangat kaya dimensi. Ia bukan sekedar fenomena visual, melainkan fenomena yang memiliki berbagai dimensi yang melekat dalam kehidupan dan kemanusiaan secara mendalam. Rentangnya dari dimensi visual hingga transenden, yang menyentuh aspek nilai-nilai kehidupan yang mendalam.</p>
<p>Oleh karenanya, pendekatan dengan pancaindra yang terbatas pada kemampuan mata mengamati tidaklah mencukupi untuk memahaminya secara mendalam. Jika ingin mendapatkan &#8220;pengalaman&#8221; menghayati dan kemudian dapat menceriterakan kekayaan pengalaman tentang ruang arsitektural, salah satu cara yang digunakan adalah dengan pengamatan khusus. Bukan dengan pengamatan biasa, melainkan dengan sikap fenomenologis. Salah satu cara pendekatan yang memungkinkan kita memahami secara mendalam fenomena dan realitas arsitektur adalah dengan meminjam cara pengamatan dari kalangan fenomenologi, khususnya bisa belajar dari Husserl.</p>
<p>Salam,<br />
Djarot Purbadi</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fenomenologiarsitektur.wordpress.com&blog=5046214&post=9&subd=fenomenologiarsitektur&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com/2008/10/03/penelitian-dan-publikasi-arsitektur-dalam-perspektif-fenomenologi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9eaa45ba147dc871c0f03f703cd3059?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">djarotpurbadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Arsitektur dan Fenomenologi</title>
		<link>http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com/2008/10/02/arsitektur-dan-fenomenologi/</link>
		<comments>http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com/2008/10/02/arsitektur-dan-fenomenologi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Oct 2008 03:52:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djarotpurbadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsitektur]]></category>
		<category><![CDATA[Fenomenologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Salam Sejahtera bagi Kita Semua,
Blog ini dimaksudkan untuk menjadi wahana komunikasi lintas disiplin, khususnya yang berminat dalam bidang arsitektur dan fenomenologi. Harapannya, semoga dapat dikumpulkan berbagai pengalaman para pihak yang meminati arsitektur dan/atau fenomenologi sebagai dua dunia yang saling berdialog. Komunikasi dua disiplin ini menarik untuk dikumpulkan supaya terjadi proses pembelajaran dan pengembangan pada kedua [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fenomenologiarsitektur.wordpress.com&blog=5046214&post=3&subd=fenomenologiarsitektur&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Salam Sejahtera bagi Kita Semua,</p>
<p>Blog ini dimaksudkan untuk menjadi wahana komunikasi lintas disiplin, khususnya yang berminat dalam bidang arsitektur dan fenomenologi. Harapannya, semoga dapat dikumpulkan berbagai pengalaman para pihak yang meminati arsitektur dan/atau fenomenologi sebagai dua dunia yang saling berdialog. Komunikasi dua disiplin ini menarik untuk dikumpulkan supaya terjadi proses pembelajaran dan pengembangan pada kedua bidang tersebut yang saling memperkaya dan akhirnya akan menyumbang  bagi kualitas kehidupan manusia secara mendalam.</p>
<p>Selamat bergabung dan menikmati informasi dalam blog ini,</p>
<p>Salam,</p>
<p>Djarot Purbadi</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fenomenologiarsitektur.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fenomenologiarsitektur.wordpress.com&blog=5046214&post=3&subd=fenomenologiarsitektur&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com/2008/10/02/arsitektur-dan-fenomenologi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9eaa45ba147dc871c0f03f703cd3059?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">djarotpurbadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>