Sabtu 24 Maret seharian tadi aku menikmati perjalanan bolak-balik Jogja- Semarang. Kebetulan saja ada undangan dari Unika Soegiyapranata, yang mengundang beberapa orang untuk mendiskusikan unit baru mereka: The Java Institute, sebuah pusat studi yang ingin mengembangkan banyak kajian dan penelitian banyak hal dengan lokus pulau Jawa. Bukan budaya Jawa yang ingin mereka jadikan fokus, tetapi banyak hal yang terjadi di Jawa sebagai teritori. Kesan yang muncul, sangat ambisius dengan program kegiatan yang belum terlalu jelas, namun konon sudah mendapat dukungan beberapa institusi di luar negeri.

Ketika pulang, aku diajak pulang bareng dengan pak Anton (ketua LPPM Sadhar) dan Rm G. Budi Subanar, yang sejauh aku tahu dikenal sebagai biangnya fenomenologi di Universitas Sanata Dharma. Kebetulan sekali, sudah lama aku ingin ngobrol dengan Romo Banar, terutama memverifikasi apakah fenomenologi yang aku terapkan selamam ini sudah benar, sebab biasanya pastur seperti beliau sempat membaca teks langsung dari para filsuf (termasuk Husserl, jika getol di fenomenologi).

Perjalanan berlangsung lancar, sangat menarik sebab menghindari kemacetan di Ambarawa kami lewat Bawen lurus ke arah Solo, sempat ngopi di Kampoeng Kopi Banaran (ngopi tubruk ditemani tahu bandungan, jadah goreng, pisang goreng, sempat diguyur hujan deras disertai angin). Tempat kuliner itu sangat ramai, banyak mobil pengunjung yang parkir di halaman luas. Tempatnya di tepi jalan raya Solo-Semarang, sekelilingnya kebun kopi.

Perjalanan tak terasa melelahkan. Sejak dari Semarang sampai Jogja kami bertiga ngobrol tentang berbagai hal, termasuk fenomenologi. Banyak yang kami perbincangkan tentang fenomenologi, aku belajar banyak dan masih diendapkan. Aku kaget, ternyata Romo Banar punya contoh unik aplikasi fenomenologi dalam seni, yaitu bagaimana sebuah lukisan dilukis dengan cara pandang fenomenologi. Ceritanya, ada sebuah lukisan tentang Yesus yang sedang main gaple, setingnya begitu rupa sehingga kejadian main gaple dalam lukisan itu begitu hidup karena pengamat “disedot” ke dalam lukisan. Jelasnya, lukisan itu mengintegrasikan kejadian di dalam lukisan dengan pengamat yang sedang mengamati. Pelukisnya kenalan Romo Banar, ia termasuk pelukis yang cerdas, dan setiap melukis dilandasi dengan pendekatan fenomenologi.

Dari uraian Romo banar, aku menangkap kesan adanya dua kategori lukisan. Ada lukisan yang dilukis sebagai rekaman atau ungkapan estetika yang “berjarak” terhadap pengamatnya. Lukisan pemandangan atau foto pemandangan yang menampilkan estetika alam “ansich” barangkali termasuk kategori lukisan berjarak. Artinya, ada lukisan yang otonom dan ada pengamat yang otonom juga serta terbentang jarak antar keduanya (subyek dan obyek). Bagaimana dengan lukisan dengan pendekatan fenomenologi ? Jelasnya, lukisan itu dekat dengan pengamatnya, karena pengamat diundang untuk terlibat ke dalam apa yang dilukis. Pengamat bukan orang yang mengamati secara pasif dengan bekal rasionalitas tertentu di kepalanya, melainkan “disedot” (istilah Romo Banar) ke dalam suasana yang ada dalam lukisan, maka ada interaksi dan ada dialog antara subyek di dalam lukisan dengan pengamatnya (biasanya human interest, bukan lukisan pemandangan alam).

Nah, sekali lagi menjadi jelas, fenomenologi terlekat dengan aspek manusia, ada kedekatan jarak subyek-obyek, dan ada dialog-interaksi antara subyek dengan obyek. Saya menduga (karena tidak melihat lukisan itu, hanya dicritain saja), dialog antara pengamat dan lukisan akan sampai pada dimensi abstrak-transenden, yang melampaui keduniawian bahkan kejiwaan pengamat.

Malam ini, masih terngiang-ngiang diskusi sepanjang jalan tadi….semoga masih ada yang tersisa untuk dibagikan.

Semangaaaat….mumpung gede rembulane, mumpung jembar kalangane….

Salam,

Djarotp

Oleh: djarotpurbadi | April 20, 2011

Memandang Arsitektur

JP Bonta di satu bukunya bercerita ttg tanaman obat aneh di suatu pulau terpencil. Orang lokal melihat tanaman obat tsb sbg benda sakral, sesuai dng alam pemikiran mereka. Ilmuwan “modern” melihatnya sebagai sekumpulan unsur kimia. Dia mengisyaratkan, cara yg sama terjadi ketika kita memandang obyek arsitektur. Obyeknya sama, cara pandang berbeda, keduanya saling melengkapi menuju pemahaman yg lebih kaya.

Bagi arsitek yg berpikiran arsitektur adalah sebentuk karya seni, arsitektur diposisikan sbg karya tektonika, mirip seni plastis yg lain. Bagi arsitek yg menghayati arsitektur sbg ungkapan jiwa-pemikiran manusia (maka sarat dengan dimensi transenden), arsitektur adalah fenomena kemanusiaan. Dilthey mengatakan: itu fenomena kemanusiaan, masuk dlm Geisteswissenschaften; ungkapan roh manusia.

Arsitektur adalah ruang. Sebelumnya, ruang jadi obyek refleksi para filsuf, berlanjut jadi obyek kajian ilmuwan, lalu ruang jadi bahan mainan para arsitek. Sejak revolusi industri, arsitek yg semula kekasih orang kaya baru, mulai masuk ke permukiman manusia akibat dari degradasi kualitas oleh ulah industrialisasi. Kini arsitektur jadi keprihatinan para arsitek dan pejuang lingkungan. Arsitektur adalah Lebenswelt !!!

Sejarah ilmu mengajarkan, arsitektur itu fenomena multi-dimensi. Obyek formal yang sama bisa dipandang dng sudut pandang berbeda-beda. Dalam fenomenologi, semua progil-profil yg dihasilkan oleh sudut pandang berbeda-beda akan menghasilkan KONSTITUSI obyek yg semakin kaya. Dalam fenomenologi dikenal cara memahami (vertehen) melalui multi-perspektif. Semuanya bermuara pada pemahaman mendalam !!!

15 Desember 2010

Seharian tadi ikut meramaikan diskusi di Studium Generale di Pascasarjana Universitas Sanata Dharma tentang “Penelitian Fenomenologi dalam Ilmu-ilmu Sosial Humaniora”. Menarik banget diskusinya, bintangnya pak St. Sunardi (mantan pastur) yang mendongeng sejarah dan keunikan fenomenologi dan kemudian menjalar kemana-mana. Diskusinya inspiratif, menambah knowledge dan memantapkannya.

Pidato Romo Rektor USD sangat menarik: berfenomenologi bagi USD adalah meneruskan rintisan Romo Dijkstra, yaiitu menelusuri-menemukan fenomena kehidupan yang amat kaya (dulu kasus kehidupan petani), kemudian diteruskan ke arah transformasi kehidupan. Berfenomenologi adalah bertransformasi bagi penelitinya, dan penerapan temuannya dalam praktek mendorong transformasi kehidupan masyarakat.

St. Sunardi mengatakan, Husserl “menciptakan” fenomenologi memang bermaksud membangun ilmu baru. Mengapa? Pada waktu itu, ilmu-ilmu sosial-humaniora di Eropa mengalami krisis, dan yang dituduhnya menjadi sumber bencana adalah karena dasar keilmuannya diambil dari positivisme. Bagi Husserl, fenomenologi menggarap “fenomena mental”, sedangkan fenomena alam, psikis, sosial ada sudah ilmunya masing-masing !!!

Pak Sunardi bercerita, Husserl itu doktor matematika yang akhirnya menemukan-merumuskan filsafat fenomenologi. Ia mengamati fenomena kehidupan sehari-hari, akhirnya berkesimpulan, matematika lahir dari kehidupan sehari-hari. Artinya, kehidupan sehari-hari hakekatnya melahirkan cara berpikir matematika. Melalui bukunya “Logical Investigation” itulah Husserl membidani lahirnya filsafat fenomenologi.

Ceritanya dari Husserl lalu pindah ke Heidegger, yang berbasis pada konsep ADA (Sein), sebagai cara beradanya manusia. Benda-benda (meja,kursi, TV dll) dan manusia itu ADA (SEIN), dan keberadaan manusia berbeda dengan keberadaan benda-benda. Manusia ada dengan dunianya, itulah uniknya. Manusia lahir langsung terletak di dalam dunia tertentu yg unik, dan itu disebut berada, DASEIN (istilah kunci ciptaan Heidegger).

Ketika dogeng sejarah fenomenologi sampai Heidegger dan konsep DASEIN (ADA) sebagai kuncinya, aku jadi teringat pak Galih WP yang datang Kamis minggu lalu. Dia mengingatkan kaitan ilmu arsitektur dengan huruf Jawa. Alfabet Jawa dimulai dengan HANA yang artinya ADA. Aku membayangkan, tampaknya orang Jawa sejak memiliki huruf Jawa sudah merasuk filsafat Heidegger, bahkan sebelum filsafat itu dirumuskan di Eropa !!!

Ada contoh mengesankan dari pak Sunardi tentang filsafat Heidegger dalam budaya Jawa. Ungkapan “menungso nggendong luput” yang muncul setiap silaturahmi di bulan Ramadhan tidak muncul tiba-tiba, melainkan memiliki akar dalam konteks kehidupan. Itu artinya, orang Jawa mendefinisikan kemanusiaan dirinya dengan dan melalui pengalaman kehidupan sehari-hari. Artinya lagi, manusia Jawa hakekatnya Heidegger banget deh !!!

Dari Heidegger berlanjut ke Merleau Ponti. Konon, deskripsi fenomenologis Husserl dianggap sangat esoteris, sedangkan Heidegger melayang di awang-awang, lha Ponti dianggap lebih membumi (bau tanah, bau badan). Ponti berbasis pada pemahaman subyek yang bisa mempersepsi, maka dia cenderung filsuf yang “to rediscover the perceived world”. Filsafat fenomenologi Ponti adalah tentang dunia persepsi manusia.

Ada penanya ingin tahu apa itu filsafat yang berbau tanah. Pak Sunardi menjelaskan dengan contoh: panasnya wedus gembel itu 900 derajat C. Siapa pernah mengukurnya? Alatnya apa? Bagaimana mengukurnya? Nah itulah, manusia membuat ungkapan “panas 900 derajat C” melalui pembandingan dengan kehidupan sehari-hari atau peristiwa, misalnya ditemukan tubuh manusia yang hangus jadi arang di sungai Gendol.

Ketika cerita sampai Merleau Ponti ini, aku teringat pada Romo Mangunwijaya dan bukunya Wastu Citra. Romo memulai paparannya buku monumental itu dengan menulis “Buku ini ditulis untuk menghormati para tukang dan karyawan/ti lapangan, … guru dan mahaguru bagiku”. Artinya, Romo dituntun pandangan Ponti: pengalaman sehari-hari adalah mahaguru bagi para arsitek !!!

Landasan filosofis Romo Mangun yang Ponti banget muncul pada tema Bahasa Ungkapan. Ia mengutip Metz: “agar menjadi roh manusiawi yang sempurna, ia (manusia) harus semakin menjadi badan”, lalu diteruskan ke Serat Dewa Ruci. Dari Ponti ia menulis: tubuh dalam arti mulia adalah ruang yang mengungkapkan diri. Ungkapan ini jelas-jelas diambil dari A. Merleau Ponty (hal. 13, edisi baru/2009).

Menurut pak Sunardi, jejak fenomenologi di Indonesia ditemukan pada Driyarkara (bukunya Percikan Filsafat). Ia dinilainya sudah menjalankan tugas Husserl dengan merumuskan “Ilmu Jiwa Agama” (sebuah fenomenologi agama). Artinya, fenomenologi Husserl sudah eksis sejak tahun 1960-an di Indonesia melalui kehadiran pemikiran Romo Driyarkara !!!

Saat sampai Driyarkara aku membayangkan rantai fenomenologi dalam arsitektur. Husserl masuk ke dalam pemikiran Driyarkara, dan Driyarkara minimal menginspirasi Mangunwijaya & Sindhunata. Aku ingat, sampul buku disertasi Profesor Sudaryono diberi gambar “gerbang permukiman Code” di dekat jembatan, beliau suka cerita tulisan Sindhunata. Artinya, Prof Sudaryono menerima inspirasi dari Mangunwijaya dan Sindhunata !!!

Pak Sunardi mengungkapkan konsep-konsep kunci fenomenologi: erlebnis, lebenswelt, kesadaran intensional, epoche, deskripsi fenomenologis, metoda reduksi dalam fenomenologi (hanya 2 yang dijelaskan, padahal ada tiga). Dari diskusi yang aku ikuti sampai selesai, tampaknya penelitian berbasis fenomenologi di USD masih awal, padahal di arsitektur UGM sudah ada minimal 6 disertasi berbasis fenomenologi !!!

Catatan dibuat oleh: Djarot Purbadi

Oleh: djarotpurbadi | September 13, 2010

CATATAN LAMA

Kemarin malam, Jumat 2 Maret 2007 dari pukul 19.30 s.d. 22.30 aku mengikuti acara BEDAH BUKU yang diadakan oleh para mahasiswa Jurusan Arsitektur – Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota dari UGM. Aku tahu ada kegiatan itu berkat sms dari Pak Sudaryono siang hari, khususnya tentang acara bedah buku itu. Aku memang berpikir, buku itu mau dibedah apalagi wong dulu pernah dibedah di Jakarta oleh para pakar yang piawai. Bahkan salah satu pembedahnya kala itu adalah DR Budi Hardiman, doktor filsafat lulusan Jerman dan pengajar Driyarkara, yang tahun 1995-an sama-sama aku mengurus bea siswa KAAD di Katedral Jakarta. Dia lolos aku macet !

Sms Pak Dar menyadarkan aku pada pemahaman dan pencerahan, bahwa ketika membaca teks selalu muncul teks baru di benak para pembacanya. Mumpung aku belum membacanya, maka kesempatan ini sangat bagus, sebab penulisnya juga hadir, ada harapan dapat memahami teks itu secara lebih mendalam, juga dibantu para pembahas. Ya benarlah, ilmu iku kelakone memang kanthi laku ! Bedah buku di Jakarta itu murni promosi sedangkan di Jogja malam ini murni refleksi kritis ! Itu kesanku, jadi aku harus ikut !

Kegiatan diskusi itu merupakan salah satu mata acara rangkaian kegiatan mahasiswa berjudul PLANO ZONE, yang dimeriahkan dengan suasana musik mahasiswa dan pameran foto mahasiswa, dilaksanakan di Beteng Vredeburg. Ini baru pertama kali mereka unjuk gigi di tengah kota, sebab tahun sebelumnya hanya pameran di kampus. Perjalanan ke tempat itu sempat memberi “pemanasan” tentang suasana kota Jogja terkini, sebab aku harus bersusah payah masuk jalan Malioboro yang ramai dan gerimis petang hari itu. Badan jalan Malioboro sudah menurun kualitasnya, jalan tidak mulus lagi melainkan banyak terasa jendhulan-jendulan. Bahkan ada polisi tidur di jalan Malioboro, jadi sudah turun statusnya menjadi jalan kampung ! atau jalan perumahan yang dijaga polisi sambil tiduran leyeh-leyeh ! Ooooh jalan Malioboro, riwayatmu kini …… Oooo kampung Malioboro…..!!!

Jadilah aku datang dan parkir kendaraan di area depan beteng kuno itu dengan leluasa. Ketika memasuki gerbang beteng aku merasa seperti mau memasuki suasana retret. Saat itu rasanya mirip suasana masuk ke tempat sepi di tengah suasana ramai. Mungkin karena bangunan kuno itu terkesan seperti biara atau karena memang tidak terlalu bising di tempat itu. Suasana remang-remang dan sepi di dalam kompleks beteng memang memberi masukan timbulnya kesan retret. Dari pintu gerbang hingga dekat ruang diskusi aku hanya berjalan sendirian, tidak bertemu dengan orang lain.

Area diskusi ada di dalam bangunan yang terletak di sisi selatan beteng. Di depannya ada area yang terbuka menghadap ke selatan, sehingga orang dapat menikmati suasana ruang luar sambil leluasa memandang siluet gedung Bank BNI 1946 malam hari yang tampak klasik dan angkuh. Pada saat ditempat itu, aku jadi ingat ketika sekolah di SMP PL jaman tahun 1971 dan 1972. Waktu itu dari selasar depan kelas kami selalu ke utara dan melihat beteng. Nah pada tembok beteng sisi selatan itu selalu ada banyak orang yang melihat kearah kami. Konon mereka adalah para napi PKI yang dijinakkan di dalam beteng, sebab kala itu beteng adalah markas tentara. Sekarang bahkan dari tempat di beteng itu SMP PL tidak tampak lagi, sebab telah ditutupi bangunan megah nan angkuh Bank BNI 1946. Oooooo…SMP ku yang malang…….

Pilihan para mahasiswa PWK Arsitektur UGM ini tidak salah sebab sangat baguslah membicarakan kota di tengah kota, bahkan di sebuah bangunan bersejarah, bukan di sebuah hotel mewah yang jauh dari realitas nyata sehari-hari. Ya, sebuah pilihan yang cerdas, merefleksikan tentang kota di tengah kota ! Tentu ini berbeda dengan momen merefleksikan kampusku di Bandungan atau Tawangmangu…..

Seorang mahasiswa menjelaskan bahwa kegiatan ini diadakan dalam rangka mempertanggung-jawabkan aktivitas kuliah kerja lapangan yang telah mereka lakukan Nopember 2006 dalam wujud nyata. Mereka sebelumnya melakukan kunjungan lapangan ke Surabaya dan Bali selama enam hari kerja termasuk perjalanan. Kunjungannya singkat-singkat saja namun menghasilkan pameran foto yang sangat menarik. Saat itu aku ingat pada guru imajinerku Levi Strauss yang memamerkan foto-foto etnik dan pernik-pernik etnik yang dikumpulkannya dari suku-suku Indian yang tinggal di hutan Amazone. Ia memamerkan kepada dunia barat bahwa di hutan Amazone ada kehidupan yang unik. Barangkali pameran foto mahasiswa itu maunya begitu juga, bahwa ditempat yang mereka kunjungi ada peristiwa yang unik juga !

Mengapa pameran foto mereka menarik ? Ya, foto-foto yang mereka pamerkan itu mengungkapkan keprihatinan dan kepekaan mereka terhadap kehidupan nyata, relasi manusia dan ruang hidupnya. Mahasiswa memang makhluk yang sedang belajar mengasah kepekaannya terhadap sisi-sisi detil kehidupan. Acara itu termasuk sebuah model yang smart ! Jikalau selama ini orang seolah-olah hanya terpancang pada semacam konvensi bahwa sebuah perjalanan mesti diakhiri dengan pembuatan laporan berwujud buku, mereka maunya berbeda. Dari sisi dosen ada gagasan, sangatlah membebani jika para mahasiswa diminta membuat tulisan laporan yang biasanya ketat. Sebab membuat tulisan laporan perjalanan itu lebih berat daripada pameran foto ….. yang penting dosen melihat bahwa mereka telah mengalami dan mampu menceriterakan pengalamannya itu kepada orang lain dengan media yang komunikatif ! Substansinya bukan bentuknya !

Kegiatan semacam ini betul-betul smart sebab mengajak mahasiswa dan khalayak warga kota untuk ikut mencicipi dan berbincang tentang kota dalam forum yang diskusif. Mereka mengundang warga kota, jadi terbuka untuk umum. Mereka ingin melaporkan perjalanan dulu itu secara lain, yaitu dengan cara memamerkan substansinya melalui pameran foto. Orang diajak langsung memahami spot-spot yang dikunjungi melalui foto-foto tematik yang diungkapkan dengan selera estetika lumayan ! Foto tidak sekadar mengungkapkan estetika melainkan ingin menukik langsung pada substansinya yang sarat dengan pesan, kesan, refleksi dan tantangan bagi kalangan perencana kota !

Foto tentang panorama di sekitar lumpur Lapindo Brantas, misalnya, ditampilkan secara estetik untuk menantang rasa kemanusiaan siapapun bahwa dibalik estetika fotografis itu tersimpan diam membisu segala penderitaan rakyat kecil yang tak berdaya ketika kampung halamannya digenangi lumpur pekat panas. Ketidakberdayaan mereka semakin menggunung ketika negara-pun tidak berdaya memberikan jalan keluar ! Lengkap lah penderitaan mereka, digenangi lumpur dan dikungkung negara yang rontok kekuatannya dibawah telapak kaki kepentingan yang tidak pro-people. Pilihan yang masih tersisa hanyalah menerima nasib atau takdir.
Foto arsitektur memang dapat mengundang refleksi dan kontemplasi untuk menangkap pesan – pesan kemanusiaan yang disergap oleh sang fotografer. Ia bukan sekedar berbicara fakta, melainkan sesuatu di belakang fakta itu, yang hampir selalu mampu menyentuh hati nurani yang peka pada sentuhan-sentuhan nilai kemanusiaan ! Ya, fotografi arsitektur menantang hati dan logika transenden kita untuk mampu membacanya secara transenden pula …..

Buku yang dibedah adalah “Menyasati Kota Tanpa Warga”, ditulis oleh Jo Santoso, seorang doktor lulusan Jerman (Fakultas Arsitektur di Hochschule der Kunste, Berlin) dan saat ini sedang menjabat sebagai Ketua Program Magister Pengembangan Kota dan Real Estate di Universitas Tarumanegara, Jakarta. Konon, belajar di Jerman konotasinya adalah ”kontinental” dan berbeda dengan belajar di USA yang berkonotasi ”the new world”. Belajar di lingkungan kontinental cenderung mencari hal-hal yang dasariah dan filsafati, sedangkan di lingkungan new world cenderung pada hal-hal yang dianggap lawannya alias serba baru. Bahkan dalam khasanah filsafat, dikenal bahwa filsafat pragmatisme berkembang di Amerika. Kontinentalism memang terlihat jelas pada bukunya Pak Jo (baca: Pak Yo) tersebut. Dia berusaha menawarkan diagnosa penyakit kota bertolak dari dalam tubuh kota itu sendiri, tidak menggunakan model-model ideal dan romantis yang tersebar ratusan jumlahnya dalam khasanah ilmu perencanaan ! Ada kebutuhan untuk mengenali apa yang ada di dalam kota itu secara historikal dan kritis sebelum menyimpulkan penyakitnya apa, obatnya yang mana serta bagaimana prosesnya. Ia memang seorang yang idealis namun praktis, disitu posisinya dalam khasanah ilmu perencanaan, begitu kata Pak Retno Widodo tentang Pak Jo pada akhir diskusi itu.

Diskusi dimulai dengan paparan Pak Leks (Leksono Probosubanu) yang menjelaskan kesannya tentang buku tersebut. Katanya, ini buku yang laris karena membicarakan kota di Indonesia dalam bahasa Indonesia, sebab jarang ada buku semacam ini sampai saat ini. Ia bahkan menegaskan, bahwa buku tersebut harus menjadi bacaan wajib bagi setiap mahasiswa atau siapapun yang ingin belajar tentang perencanaan kota di Indonesia. Pak Leks mengatakan juga bahwa hampir 100% ia setuju dengan apa yang dipaparkan Pak Jo dalam bukunya itu. Katanya, belum ketemu yang ia tidak setuju !

Pak Leks juga bilang, kalangan perencana sampai saat ini kurang peka terhadap fenomena kampung (kuarter, key world dalam buku itu), bahkan semua kampung dianggap sama. Ini celaka sebab ternyata setiap kampung itu unik. Kampung adalah enclave orang-orang yang sesama jenis, ada kampung Musikanan bagi para pemusik kraton, ada kampung yang didasarkan jenis pekerjaan atau patron-klien. Ia adalah struktur yang otokthon, menurut bukunya Pak Jo. Masalahnya, seringkali unsur-unsur asli yang membentuk keunikan kampung luput dari mata para perencana !

Aku jadi ingat kata teman milisku, bagaimana Bas Suebu dulu berkampanye untuk jabatan gubernur Papua yang sekarang setelah dia menjadi doktor. Slogannya bilang ”Kak Bas pulang kampung”, yang diartikan bahwa Bas Suebu ingin membangun Papua dari membangun kampung – kampung ! Ia tidak memulai dari kota, melainkan dari kampung-kampung. Wah apakah ini trend mode dalam dunia ilmiah dan dunia praktisi yang kebetulan bertemu ? Diskusi kami di milis itu meluas, ternyata kampung di Indonesia Timur bahkan merupakan agregasi suku-suku, seperti yang aku temui di Kaenbaun, Timor. Jaringan kekerabatan di kampung sangat sarat, boleh dikatakan orang sangat mengenal silsilah kekerabatannya secara sangat lekat dan detil. Ya, sebab kekerabatan berperan setiap hari dalam kehidupan sehari-hari, ia bukan sesuatu yang berada di luar kemanusiaan mereka.

Pak Leks juga mengatakan bahwa kota-kota di Indonesia saat ini dalam masa transisi, berada di tengah tradisionalisme dan modernisme. Tidak modern juga tidak tradisional, gojag-gajeg alias pancaroba, padahal menurut para orang tua jaman dulu musim pancaroba itu penuh dengan penyakit. Ada situasi dualisme yang mengikat keseharian setiap warga kota, cara berpikirnya campuran tradisional dan modern. Hal itu menarik, sebab bisa saja keduanya sejalan tetapi bisa juga konflik. Dia mencontohkan, masa kecil dulu di halaman rumahnya ada pohon mangga yang enak dan lebat buahnya. Setiap kali para tetangganya dengan seenaknya mengambil buah mangga itu bak milik bersama. Tetapi kakeknya yang pendeta dan bertradisi holland spreken sangat keras melarang para tetangga itu mengambili mangga. Apa yang terjadi ? Para tetangga dilarang sang Kakek, bahkan salah satu kakaknya terkenal sebagai orang yang rajin menghalau tetangga ! Isinya apa ? Para tetangga itu menggunakan cara pikir tradisional, bahwa mangga itu milik komunal, sementara sang kakek menghayati cara pikir barat yang rasional (mengedepankan kepemilikan privat). Hal-hal semacam itu banyak terjadi di lingkungan kota, di dekat keseharian kita. Artinya, kota atau negara maunya modern tetapi masyarakatnya masih tradisional. Padahal, banyak kejadian yang menunjukkan bahwa kita ini cerdas menggunakan modernitas atau tradisionalitas kita dalam rangka berkelit untuk memperoleh keuntungan dari situasi yang mengelilingi diri kita …..

Pandangan Pak Leks itu bermuara pada sebuah pertanyaan besar: apakah kita bisa merekayasa budaya sehingga kota-kota kita lantas menjadi lebih tangguh, seperti dikatakan Pak Jo itu ? Ya merekayasa budaya, sebab wadahnya akan berubah jika isinya berubah, mungkin begitu logika yang digunakan. Lantas, berapa lama hal itu bisa terjadi ? Pada akhir paparannya, Pak Leks mengatakan bahwa paparannya yang membahas buku Pak Jo itu ia beri judul ”Membina Kota Bersama Warga”. Tampaknya gagasan Pak Jo dan Pak Leks sejalan.

Pembahas berikutnya muncul dari Pak Bambang yang ada di wilayah antropologi dan dunia LSM. Ia mengatakan, menjadi pembahas saat ini merupakan sebuah cobaan. Mengapa ? Ya sebab ia merasa berhadapan dengan komunitas yang berbeda. Sebagai antropolog ia terlatih untuk selalu berpikir ragu-ragu, menemukan kebenaran selalu disikapi sebagai hal tentatif atau relatif. Nah, kini ia berhadapan dengan para perencana yang selalu berpikir serba pasti, jika dibeginikan akan terjadi seperti ini. Bagi dia, itu sikap yang terlalu berani, dan ini menarik untuk dipertemukan dalam diskusi, antara si peragu dengan si serba-pasti !

Bagi dia, Pak Jo ini sangat berani sebab menantang bahkan melawan paradigma elitis yang disetir kapitalisme, modernisme dll. Ia melihat bahwa pembangunan kota lebih bersifat partisipatif. Ia mengatakan, Pak Jo sedang menyindir pembangunan kota yang elitis dan non-partisipatif. Padahal kota berkembang karena kekuatan dan keunikan warganya, tidak semata-mata dari gagasan ideal para perencananya yang sarat dengan kepentingan tertentu.

Bagi Pak Bambang, Oikos sebagai konsep kunci dan generator pengembangan kota yang disebut Pak Jo itu romantis banget namun perlu dikritisi juga. Sebab setiap peradaban selalu ada yang dikorbankan dan yang menjadi korban selalu mereka yang paling lemah ! Jakarta itu megah tetapi ia parasit bagi kawasan sekitarnya, semua tersedot ke Jakarta. Jakarta megah tetapi sebagian besar warganya miskin. Kemegahan Borobudur yang dikagumi dunia itu menyimpan ceritera tersembunyi tentang berapa banyak korban manusia telah dilupakan. Jika batu-batu candi itu bisa berbicara maka mereka akan berceritera sangat banyak, tinta sebanyak lautan tidak cukup untuk menuliskan. Ceriteranya bisa lebih panjang dari epos Ramayana dan Maha Bharata sekaligus. Ingat, selalu ada piramida korban manusia !

Aku juga ingat pelajaran sejarah di SMP, bagaimana kaisar Chin Shih Huangti dan para kaisar Cina lainnya bertahun-tahun lamanya berhasil mengorbankan ribuan rakyatnya untuk menjadi tumbal keberhasilan pembangunan the Great Wall of China itu. Masa kini, kita bisa berwisata ria ke tempat neraka itu dengan membawa pulang sertifikat; yang menandai bahwa aku pernah disitu. Bahkan Pak Sas (kok Pak Sas maneh ya ?) dalam sebuah artikel KR pernah mengingatkan, ketertiban kota Yogyakarta yang berhati nyaman dan ingin diwujudkan setiap pemerintah kota janganlah dengan fondasi bertumbal darah di kalangan PKL, yang berdarah-darah sampai habis untuk membangun kemegahan Malioboro ! Nah, apakah Singapura yang tertib dan kita kagumi hingga hari ini juga tanpa korban ? Tragis sekaligus ironis !

Cara pikir perencana itu berbeda dengan cara pikir warga kota. Ia mencontohkan, bahwa ada sekelompok orang sekitar 100 an orang dari Bantul yang berangkat ke Jakarta ketika Jakarta kebanjiran baru-baru ini. Kenapa ? Mereka mengatakan, inilah saat yang tepat bagi kami ke Jakarta ! Untuk apa ? Jualan Teplok ! Lho kok ? Ya, teplok kami akan sangat berguna bagi rakyat kecil yang tidak kebagian jatah listrik ! Kelompok kami yang lain sudah di Jakarta, ada sekian puluh orang ! Hal ini juga pernah terjadi saat Jogja digoyang gempa Mei 2006 lalu. Pada akhir paparannya, pak Bambang menyimpulkan, kota tidak harus kaya tetapi haruslah manusiawi. Lho yang bagaimana toh manusiawi itu Pak ?

Berikutnya tampil sang penulis buku, Pak Jo. Beliau mengatakan bahwa benar yang dikatakan Pak Leks, pembangunan kota yang diusulkan buku itu adalah mulai dari apa yang kita punya. Disitulah bedanya manusia dengan macan. Lho kok manusia versus macan ? Ya, seekor macan tidak mempunyai memori untuk hidupnya, maka ketika ia bangun pagi ia merasa dialah macan pertama hari itu di tempat itu. Kekemarinan hilang bersama terbukanya hari dan merekahnya sinar matahari. Hewan bukan makhluk historikal, yang memahami di dalam memorinya bahwa apapun yang ada hari ini selalu ada proses sebelumnya, begitu catatanku. Kata Pak Jo, manusia itu beda, ia memiliki memori dan bisa belajar dari masa lalu untuk memperbaiki hidupnya. Jadi, punya kita mesti dikenali agar bisa memperbaiki kota-kota kita yang semakin rusak !

Menurut Pak Jo, telah banyak model ideal selama ratusan tahun ini dimunculkan dalam khasanah pengetahuan perencanaan, bahkan model-model itu sudah dicoba, namun semuanya kandas alias mengalami kegagalan. Keprihatinan Pak Jo, ternyata model-model ideal itu tidak berhasil. Model teoritis semacam itu tetap perlu dan ada gunanya. Alhasil, sebenarnya Pak Jo sudah tidak percaya lagi pada model-model ideal semacam itu jika akan digunakan untuk mengobati penyakit kota-kota di Indonesia. Lantas menggunakan apa ? Katanya, mundur sedikit dan kenalilah jatidiri kota yang sakit ! Jadi mulai dari kondisi nyata namun disikapi secara kritis, begitu barangkali.

Katanya lagi, kita harus mengenali value dari milik kita itu. Pembangunan kota akan berhasil jika value tersebut menjadi kebutuhan semua orang, sehingga dapat diterima maka didukung. Setiap perjuangan akan berhasil jika semua memperjuangkan value yang telah diterima itu. Riset tentang peradaban urban mengerucut pada ujung kesimpulan bahwa perubahan yang signifikan pada pembangunan kota hanya berhasil jikalau didukung oleh warganya ! Wah ini pelajaran penting juga…..

Soal dualisme yang disinggung Pak Leks, dikatakannya, itu memang ada. Urban itu rasional dan rural itu relasi-relasi yang kadang tidak rasional. Kontradiksi kita berlapis-lapis. Orang kita menyatukan antara bekerja dan tinggal di satu wadah. Bagaimana itu dapat dibayangkan akan terjadi di seribu rumah susun yang akan dibangun pemerintah sekarang (lihat foto Kompas hari ini yang memuat Presiden dan Wapres berdiri di depan maket rumah susun). Pembangunan semacam itu sarat dengan interest pribadi untuk menarik simpati populis. Tebar Pesona ? Apakah terkait dengan pemilu yang akan datang ? Ya nggak tahulah ! Bahkan Pak Leksono menambahkan, rumah susun yang digagas pemerintah itu mau dinamai Rumah Rakyat !

Pak Leks meneruskan, masyarakat kita itu aneh. Kita dapat bertoleransi ketika jalan Kaliurang ditutupi separohnya dengan tenda untuk mantenan, karena pikiran kita juga dihinggapi kontradiksi itu. Prinsip apa yang kamu buat akan dikenakan padamu juga ternyata berjalan dengan baik. Siapa yang belum pernah melanggar lampu merah angkat tangan ! Ternyata tidak ada satupun peserta forum malam itu yang mengangkat tangan. Artinya semua pernah melanggar lampu merah. Kenapa perlu berhenti saat lampu merah lalu lintas menyala, sementara jalan sepi dan tidak ada polisi. Ya jalan aja, toh peraturan untuk manusia, bukan untuk peraturan itu sendiri. Nah kita menggunakan kontradiksi untuk kepentingan kita, begitu katanya.

Pak Jo meneruskan. Kita harus mulai dari cirikhas kita, bukan membebek orang lain, mulai dengan orijinalitas kita ! Jangan jadi peniru ! Kita tidak mulai dari nol, sebab warisan-warisan budaya urban kita harus dikenali. Kota yang tangguh perlu mulai dari membangun keunggulan ekonomi dengan basis warganya memiliki keunggulan ekonomi juga. Jadi perlu penelitian tentang heritages kita secara serius. Sebab apa yang kita punya itu mengandung local values dan hasil dari proses historis, maka bernilai. Saat itu aku jadi ingat perdebatan dalam ilmu hukum yang terus berlangsung yaitu persoalan INTENSI ORISINAL, yang kadang dibelokkan menjadi INTENSI BIAS oleh kepentingan-kepentingan lain dalam proses LEGAL DRAFTING. Apakah dunia arsitektur dan perencanaan juga mengalami hal yang sama ? Pasti ada, tinggal kita peka atau tidak dalam melihatnya !

Pak Jo meneruskan. Coba lihat, elemen-elemen kota digunakan untuk kampanye pilpres atau pilkada dengan kebijakan yang tampaknya pro people ! Tebar Pesona, begitu kata Megawati ! Jangan begitulah, kata Pak Jo. Kita perlu mundur sedikit dan mendalami values dari peradaban urban di Indonesia khususnya keunikan konsepnya. Cek dengan dokumen dan telusuri di lapangan orisinalitas peradaban urban kita. Menurut penelitian Pak Jo, tradisi urban di Indonesia hanya sampai level neighborhood, nggak nyampai ke kota. Ooo begitu ya, gumamku, jadi hanya ada setingkat kampung, maka pantaslah Pak Jo menjuduli bukunya ”kota tanpa warga” ! Lha Iya lah, kota sebagai wadah memang ada tetapi peradaban urbannya hanya sampai neighborhood ! Ada gap disitu !

Pak Jo bereaksi terhadap reaksinya Pak Leks soal membangun budaya untuk membangun kota. Aku kaget sekali atas jawaban Pak Jo ini. Ada perencana yang mengatakan bahwa untuk membangun kota yang baru perlu berangkat dari NOL. Caranya, babat habis semua permukiman tradisional, lalu bangun dengan tangan besi. Contohnya Beijing dan Singapur telah melakukan mekanisme tebang habis itu ! Hasilnya bisa disaksikan hari ini. Weleh-weleh, ternyata Singapur yang tertiiiiiiib sekali dan dibanggakan oleh beberapa temanku jebul menyimpan ceritera menyedihkan dengan membabat habis masa lalu ! Bayangkan ! Ketertiban Singapur dengan mekanisme denda yang dibanggakan itu ternyata sebuah contoh sejarah yang berdarah-darah dalam perencanaan kota ! Apakah dengan adanya kognisi denda di dalam kepala ala Singapur itu membuat hidup menjadi penuh dengan sukacita ? Apakah Malioboro yang tertib seperti Singapur akan menjadi kebanggaan, sementara sisi gelapnya yang berdarah-darah serta mematikan dilupakan ? Ya kita memang bangsa yang cenderung pelupa …… eee pemaaf kok …. bersyukurlah …..

Pak Jo meneruskan, mereka (Singapur dan Beijing) bilang bahwa cirikhas baru harus dibangun dengan konsep baru. Katanya lagi, ada penguasa Vietnam yang begitu (Lon Nol ?): membangun negara harus mulai dari nol. Orang yang lebih kaya dibunuh, orang yang lebih pintar dibunuh, supaya semua mulai dari NOL. Terjadilah pembunuhan para industriawan, para pemilik modal, dan tragisnya juga para ilmuwan termasuk pembakaran buku-bukunya ! Semua harus start dari kondisi yang sama….sama-sama nol puthul ! Padahal yang terjadi adalah, setelah membuang semua jatidiri lantas menjadi pengikut setia dari modernisasi. Menjadi pembebek model pembangunan yang ditawarkan oleh budaya lain !

Nah ini, membebek itu selalu tidak ada dalam kamus Pak Jo, kita harus selalu ingin unggul. Pak Yoyok nambahi, bahwa kita orang Jawa itu nggak punya keinginan untuk menjadi nomer satu. Coba lihat saat ini, siapa yang berani atau mau duduk di deretan kursi nomer satu. Lihat juga setiap kali kita kuliah, adakah yang mau duduk di deretan kursi paling depan ? Ooo begitu ya, itu fenomena yang mengungkapkan sikap batin toh …. minderwardigkeit ya …. Padahal aku biasanya presensi nomer satu, seperti juga waktu bedah buku ini aku datang nomer satu, itu kadang hanya karena kesadaran protokoler saja jeee ….. wah sokurlah kalau begitu, mentalitasku nggak salah-salah banget untuk masuk ke era globalisasi ….. tetapi barangkali nggak tepat lagi untuk tetap hidup di dalam budaya Jawa yang adiluhung itu …. Apakah merekayasa budaya harus mulai dengan memaknai ”duduk di nomer satu” kemudian mempaktekkan secara konsisten …. seperti itu ? Bisa jadi iya ! Ooo jadi kalau orang nggak mau duduk di deretan depan itu indikasi kalau nggak siap maju … gitu kah ?

Intinya adalah menghormati jaditiri kita secara kritis, begitu kira-kira kata Pak Jo. Perlu ada usaha untuk mencari, mengenali dan menghormati jatidiri itu supaya the originals muncul dan menjadi basis bagi pengembangan atau mengobati kota kita yang sakit. Pada akhir uraiannya Pak Jo mengatakan, kita ini baru sampai tahap MENGKOTA dan belum tiba pada BERKOTA. Lho kenapa ? Iya, bakat hidup menjadi warga kota tidak berasal dari rahim ibu, orang harus berlatih dan belajar untuk menjadi warga kota ! Kita harus berubah dari mengkota menjadi berkota ! Bahkan, dalam BERKOTA sebenarnya kita membangun BERKITA ! Keberkitaan kita menjadi dasar keberkotaan kita !

Waaah gongnya hebat banget ! plok plok plok tepuk tangan meriah ……

Secara spontan, sejak awal diskusi, sebenarnya pikiranku melayang-layang jauh menuju kepada komunitas Fakultas Teknik UAJY. Bolak – balik sampai benak ini panas (rambut brodol) ! Banyak gagasan ku yang muncul dipicu oleh paparan dan diskusi hari ini ! Soal kontradiksi, misalnya, kita seringkali menyatukan dalam praktek keseharian kita. Soal membangun FT mulai dari jatidiri kita, terus menggaung di dalam benakku, mulai dari nol dengan tangan besi tentu amat ditentang, tetapi harus mulai dari mana ? Ada harapan, kita bisa mulai dari ”belajar kembali” untuk membangun Keberkitaan kita dengan menghormati keunikan jatidiri kita ! Yah, bakat hidup di dalam komunitas Fakultas Teknik tidak ada dari rahim ibu, tetapi berkat memori dan jatidiri sebagai manusia yang bisa belajar dari masa lalu, keberkitaan kita akan menjadi landasan untuk membangun FT yang semakin berkembang ….. kita perlu belajar berkita ….. ooohh ini hanya letupan-letupan pikiran yang spontan saja ….. membangun seperti Singapur atau Beijing atau yang berbasis warga ?

Oh ya ….. Tadi ada kritik soal welfare state yang sangat mencekam. Konon dalam sebuah welfare state itu rakyat tahu bahwa negara selalu menyediakan apapun bagi rakyatnya. Rakyat bak dimanja oleh negara, sampai-sampai …….. orang miskin di depan mata kita-pun secara spontan dilihat sebagai INI URUSAN NEGARA ! Lanjutannya, JADI BUKAN URUSANKU ! Rasa kemanusiaan kita kalah oleh kognisi modernitas kita yang mengunggulkan keadidayaan negara yang keropos !

Payung welfare state seperti itu tidak cocok untuk kondisi Indonesia seperti saat ini. Ide Welfare state seperti itu mematikan peluang rakyat untuk belajar menjadi manusia yang aktif dan berkepedulian pada persoalan ideal yang muncul pada persoalan sehari-hari secara kasat mata. Mengapa ? Ya, di dalam benak selalu tergiang gagasan-gagasan: negara akan urus itu ! Pemerintah akan urus itu ! Para pejabat akan urus itu ! Itu bukan urusan hati nuraniku! Bukan urusan rasa sosialku ! Bahkan relijiusitasku !!!!!

Salam,
Djarot

Oleh: djarotpurbadi | Februari 26, 2010

Gus Dur seorang Fenomenolog

Gus Dur sebagai “Orang Asing”

Kompas: Jumat, 8 Januari 2010 | 02:57 WIB

Oleh Wildan Pramudya

Gelar kehormatan sebagai pahlawan nasional, Guru Bangsa dan Bapak Pluralisme, sungguh layak diberikan kepada mendiang Gus Dur. Namun, penulis ingin menghormati Gus Dur bukan dengan gelar-gelar kehormatan semacam itu, melainkan hanya dengan mengenangnya sebagai orang asing.

Mengenang Gus Dur sebagai orang asing akan bisa lebih dipahami kalau diletakkan dalam kerangka pemikiran sosiolog Jerman, Georg Simmel. Dalam salah satu tulisannya, The Stranger, Simmel memberikan pengertian yang kompleks, khas, dan unik atas konsep orang asing.

Bagi Simmel, orang asing bukan sebuah tifikasi identitas (orang yang tidak dikenali asal-usulnya), melainkan suatu tifikasi relasi tertentu seseorang dalam suatu komunitas. Tipe relasi yang dimaksud adalah relasi interseksi yang dibangun atas dasar kedekatan (nearness), tetapi sekaligus berjarak (remoteness).

Dalam relasi interseksi, orang asing menjadi bagian dari komunitas, tetapi tidak sepenuhnya menjadi bagian dari komunitas tersebut karena ia tetap mampu mengambil jarak dengannya. Orang asing adalah orang yang berada di dalam sekaligus di luar komunitas.

Gus Dur tepat disebut sebagai orang asing karena selama ini Gus Dur mengembangkan relasi interseksi tersebut tidak saja di dalam komunitas NU, tetapi juga dengan kekuasaan dan berbagai komunitas lain yang lebih luas.

Kritik pedas

Terlahir sebagai cucu pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari; dididik secara kultural di dalam tradisi NU, memulai dan memantapkan karier politik di NU merupakan bukti bahwa Gus Dur adalah elemen penting dan tak terpisahkan dari komunitas NU. Namun, pada saat yang sama, tidak jarang sikap Gus Dur berseberangan dengan tokoh-tokoh penting lainnya di NU dan secara terbuka kerap melancarkan kritik pedas terhadap beberapa kiai nahdliyin, seolah-olah ia tidak sedang menjadi bagian dari NU.

Begitu pula relasi Gus Dur dengan kekuasaan. Pada era Orde Baru, Gus Dur kerap mengkritik kebijakan pemerintahan Soeharto, tetapi—pada saat yang sama—”mengambil” dan menerima Pancasila, yang menjadi kebijakan politik resmi Orde Baru itu, sebagai asas NU.

Hal ini berlanjut saat Gus Dur sendiri berada dalam pusat kekuasaan, yaitu sebagai presiden ke-4 RI. Saat itu Gus Dur secara sinikal menyebut para anggota DPR ibarat murid taman kanak-kanak. Padahal, DPR saat itu diisi oleh banyak anggota yang berasal dari partai koalisi yang justru mendukung dan memilihnya sebagai presiden. Dengan sikapnya itu, Gus Dur dianggap tidak konsisten, mencla-mencle, dan berkhianat pada ikatan koalisi besar partai politik yang mendukungnya. Klimaksnya, Gus Dur pun dilengserkan dari kekuasaan oleh orang-orang yang dulu pernah mendukungnya.

Kendati begitu, dari situ kita bisa memetik pelajaran. Pertama, dengan relasi interseksi sejatinya Gus Dur berupaya untuk tetap (ber)independen terhadap segala bentuk ikatan, sekalipun itu ikatan dengan komunitas paling primordial baginya: NU, ataupun kekuasaan yang sesungguhnya bisa sangat menguntungkan dirinya. Kedua, Gus Dur berusaha mene- rapkan suatu perspektif sosial yang lebih obyektif dalam memandang individu, kelompok, atau institusi.

Obyektivitas

Persis dijelaskan Simmel bahwa orang asing adalah orang dengan pandangan yang obyektif. Obyektivitas orang asing adalah suatu pandangan yang hanya mungkin diperoleh dalam suatu relasi interseksi, yaitu kedekatan dan keberjarakan. Ini berbeda dengan obyektivitas kaum ilmiah positivistik yang hanya memandang sesuatu dengan mengambil jarak dari obyek.

Pembelaan Gus Dur terhadap kelompok minoritas, seperti umat Konghucu dan Ahmadiyah, misalnya, bisa dipahami dalam kerangka obyektivitas orang asing ini. Gus Dur membela keberadaan mereka atas dasar pandangan obyektif dengan meneropong keberadaan mereka tidak hanya dari kejauhan, tetapi juga dari dekat. Dengan cara ini, Gus Dur mampu memahami cara hidup dan berkeyakinan mereka secara adil dan apa adanya. Maka, dengan cara pandang ini, tidak heran jika kemudian Gus Dur bisa diterima dan dikagumi oleh banyak orang dari berbagai kelompok dan golongan.

Terhadap lawan-lawan politiknya sekalipun, Gus Dur taat menerapkan pandangan obyektif semacam ini dan sangat piawai menjalin relasi interseksi dengan mereka. Dengan demikian, di mata Gus Dur, secara obyektif keberadaan lawan politik adalah sekaligus kawan politik. Sungguh ini sebuah estetika politik yang mungkin tidak mudah dilakukan tokoh politik lainnya.

Wildan Pramudya Aktif di LP3ES

Oleh: Djarot Purbadi, Sudaryono dan Achmad Djunaedi

Penulis lain yang membahas tentang fenomenologi Husserl adalah Harry Hamersma. Uraiannya tidak terlalu panjang atau mendalam, sebab tema yang digarap buku tersebut sangat luas, sehingga hanya sedikit kunci yang dapat ditemukan dalam bukunya. Menurut Hamersma (1983) ada tiga kunci yang harus dipahami untuk mengenal fenomenologi Husserl, yaitu (1) fenomenologi transendental, (2) kesadaran dan intensionalitas, dan (3) tiga reduksi versi Husserl. Uraian Hamersma ini melengkapi pemahaman kita tentang fenomenologi Husserl yang sangat rumit. Berikut uraiannya tentang tiga kunci untuk memahami fenomenologi Husserl.

FENOMENOLOGI TRANSENDENTAL. Husserl yang terinspirasi Brentano pada awalnya mengenal Fenomenologi Psikologis, kemudian lebih mengembangkan Fenomenologi Transendental, bukan Fenomenologi Eksistensial Heidegger (Hamersma, 1983: 116- 117). Fenomenologi transendental Husserl dikembangkan setelah tahun 1908 (Hamersma, 1983: 116). Melalui deskripsi fenomenologis ingin ditemukan (diciptakan) hakekat obyek; sesuatu yang tidak berubah dari berbagai macam gejala- gejala (Hamersma, 1983: 116).

Uraian Hamersma pada alinea diatas ini menjelaskan perubahan pemikiran Husserl tentang fenomenologi yang dikembangkannya. Artinya, fenomenologi Husserl pada hakekatnya dikaitkan dengan logika transendental, bukan lagi dengan logika psikologis. Hamersma dalam bukunya tidak menjelaskan tentang transendentalitas dalam fenomenologi Husserl, maka seolah-olah menjadi tidak ada dasarnya menyebut fenomenologi Husserl adalah fenomenologi transendental. Namun, jika logika transendental yang menjadi landasan dari fenomenologi Husserl adalah seperti yang dipaparkan oleh van Peursen (1988), maka menjadi agak jelas bahwa fenomenologi transendental adalah fenomenologi yang berusaha meraih pemahaman tentang obyek-obyek melalui pengenalan yang terus menerus dan semakin mendalam.

Hamersma dalam uraiannya berusaha menunjukkan bahwa deskripsi fenomenologis merupakan sendi penting dalam fenomenologi Husserl, sebab dengan mendiskripsikan fenomena maka pemahaman mendalam tentang obyek yang diamati menjadi semakin jelas. Bahkan dikatakannya, dengan mendiskripsikan obyek secara fenomenologis maka obyek diciptakan, bukan sekedar dipaparkan. Artinya, pada saat pengamat melakukan deskripsi, maka hakekatnya ia sedang menciptakan obyek menurut kesadaran dan pengamatan yang dilakukannya.

Jika dikaitkan antara logika transendental dengan deskripsi fenomenologis, maka dapat dikatakan bahwa seseorang dapat mendiskripsikan obyek secara fenomenologi transendental sampai pada hakekatnya jika ada kedekatan yang terus-menerus dengan obyek yang diamati. Artinya, kedekatan dan pengamatan yang intensif menjadi syarat diraihnya hakekat obyek yang diamati. Bahkan, menurut Hamersma, mendiskripsikan obyek adalah menciptakan obyek sekaligus menjelaskan hakekat obyek, asalkan dilakukan dengan pengamatan yang intensif dengan kedekatan yang sangat erat.

Jika kita menggunakan kunci pertama ini, segera jelas bahwa untuk bisa melakukan praktek fenomenologi Husserl yang bersifat transendental, maka kedekatan dan pengamatan yang intensif terhadap obyek merupakan langkah kunci pertama yang disyaratkan. Pengamat dari jarak pengamatan yang jauh hampir tidak mungkin mampu menemukan hakekat obyek secara mendalam. Kunci pertama ini menunjuk langsung pada pengertian, perjumpaan secara langsung dengan obyek yang diamati menjadi syarat mutlak yang harus dilakukan. Kata perjumpaan dalam uraian ini adalah perjumpaan yang sangat dekat sehingga pengamat mampu mengamati secara intensif; terus menerus dengan intensitas yang tinggi.

Langkah kunci yang kedua adalah melakukan deskripsi fenomenologis tentang obyek yang diamati disertai kesadaran bahwa ketika mendiskripsikan obyek maka sang pengamat sedang menciptakan obyek menurut kedekatan yang digunakannya. Artinya, kemampuan mendekati dan mendiskripsikan obyek menjadi syarat kunci yang sangat menentukan ditemukannya hakekat obyek yang diamati. Dengan demikian, pencapaian hakekat obyek sangat tergantung pada kemampuan pengamat dalam melakukan pendekatan, pengamatan dan pendiskripsian tentang obyek yang diamatinya. Beberapa orang yang mengamati obyek yang sama akan menemukan bermacam-macam hahekat dari obyek yang sama, dan hal itu menurut Hamersma ditentukan oleh kedekatan, intensitas pengamatan dan deskripsi fenomenologis yang dikerjakan oleh para pengamat.

Praktek dengan pengertian fenomenologi tansendental seperti ini dapat dilakukan untuk melihat obyek ruang kota di jalan Malioboro. Pengamat harus berusaha memiliki relasi yang sangat dekat dengan ruang Malioboro. Ia juga harus melakukan pengamatan yang intensif terhadap ruang Malioboro. Kedua langkah tersebut akan menentukan bagaimana deskripsi pengamat tentang ruang Malioboro. Ketika mendiskripsikan itulah hakekat ruang Malioboro berhasil diciptakan dan ditemukan. Dengan demikian, esensi hakekat tentang ruang Malioboro dekat dengan pengetahuan subyektif, bukan pengetahuan obyektif.

Persoalan pengetahuan subyektif ini sebenarnya tidak menjadi masalah besar, sebab pengetahuan subyektif yang diperoleh dapat disikapi sebagai pengetahuan ”sementara” yang menemukan ”sepotong profil” dari sisi tertentu dalam kerangka proses konstitusi obyek dalam kesadaran pengamat (Bertens, 1990). Jika kita sepakat dengan Hamersma dan Bertens, maka menemukan hakekat obyek memerlukan kedekatan, pengamatan intensif, kesadaran subyektivitas merupakan bagian dari proses konstitusi yang menciptakan obyek di dalam kesadaran pengamat. Subyektivitas dapat ditekan menuju kepada obyektivitas jika terjadi proses dialog – intersubyektif dengan pengamat yang lain, sebab di dalam proses dialog terjadi proses konstitusi kolektif (istilah kami) tentang obyek yang sama dan akhirnya menghasilkan temuan hakekat obyek yang relatif mendekati obyektif dalam lorong inter-subyektivitas.

KESADARAN DAN INTENSIONALITAS. Kesadaran bukanlah bagian dari kenyataan melainkan asal dari kenyataan; kesadaran tidak menemukan obyek-obyek melainkan menciptakannya (Hamersma, 1983: 116). Kesadaran selalu terkait dengan sesuatu yang disadari karena ada subyek, subyek terbuka pada obyek, dan ada obyek (Hamersma, 1983: 117). Kesadaran selalu terarah kepada obyek-obyek; kesadaran intensional. Kesadaran tidak pernah pasif melulu karena menyadari sesuatu selalu berarti mengubah sesuatu (Hamersma, 1983: 117). Kesadaran (noesis) selalu berinteraksi dengan obyek kesadaran (noema) dan akhirnya menciptakan obyek yang disadari (noema)( Hamersma, 1983: 117).

Sama dengan Bertens, Hamersma menekankan pada pentingnya kesadaran dan intensionalitas. Bahkan menurut Hamersma, kesadaran adalah asal-muasal realitas yang menciptakan realitas itu sendiri. Kesadaran dalam fenomenologi Husserl adalah kesadaran yang aktif dan selalu terbuka serta terarah kepada obyek-obyek yang diamati. Ada interaksi aktif antara kesadaran aktif pengamat dengan obyek yang diamati. Alinea ini menegaskan bahwa pengamat yang menggunakan fenomenologi adalah pengamat yang menggunakan kesadaran aktifnya untuk menciptakan realitas yang diamatinya. Pengamat secara aktif menciptakan realitas melalui pengamatan yang menggunakan kesadaran aktifnya.

Pengamat yang sedang mengamati ruang Malioboro, misalnya, harus selalu aktif melakukan pengamatan sehingga aktif menciptakan relitas dalam kesadarannya. Ia harus mampu mengarahkan pengamatannya yang dituntun dengan kesadaran aktif untuk menciptakan realitas ruang Malioboro. Kesadarannya yang aktif akan menuntunnya untuk menyentuh semua aspek yang menciptakan realitas ruang Malioboro. Pengamatan menyeluruh yang dituntun oleh kesadaran aktif akan menjadi syarat kunci terciptanya realitas ruang Malioboro. Jelas bahwa dalam uraiannya, Hamersma melihat bahwa kesadaran aktif merupakan kunci penting dalam menjalankan fenomenologi transendental Husserl.

TIGA REDUKSI. Agar mencapai hakekat obyek, diperlukan tiga tahap reduksi yang fungsinya adalah menyingkirkan semua hal pengganggu (Hamersma, 1983: 117). Reduksi pertama, menyingkirkan semua hal yang subyektif; reduksi kedua menyingkirkan seluruh pengetahuan yang diperoleh dari sumber lain (semua teori dan hipotesis yang ada); dan reduksi ketiga menyingkirkan seluruh tradisi pengetahuan (Hamersma, 1983: 117). Ketiga reduksi akan menghasilkan gejala yang menampakkan diri; fenomin (Hamersma, 1983: 117).

Uraian pada alinea diatas ini memperjelas bagaimana cara kerja kesadaran aktif, yaitu pengamatan secara aktif adalah melakukan tiga tahapan reduksi. Reduksi pertama adalah penggunaan kesadaran aktif untuk melihat bahwa unsur subyektif harus dilepaskan dari pengamatan terhadap obyek. Husserl tampaknya mencurigai bahwa subyektivitas manusia potensial mengaburkan pengamatan. Artinya, hal-hal yang subyektif perlu dilepaskan supaya obyek menampakkan diri sejujur-jujurnya. Husserl secara tegas menunjukkan bahwa kecenderungan pribadi perlu disikapi secara kritis. Dengan demikian menjadi jelas, kesadaran aktif tertuju kepada dua arah, yaitu aktif melakukan penciptaan obyek (orientasi ke luar) dan aktif melakukan kontrol terhadap subyektivitas pribadi (orientasi ke dalam).

Reduksi kedua menegaskan bahwa pengamatan fenomenologis harus murni dan tidak tercemari oleh pengetahuan yang ada dalam pikiran pengamat, sebab pengetahuan tersebut akan mengganggu terciptanya obyek secara apa adanya. Kecurigaan Husserl yang kedua adalah terhadap peran pengetahuan yang telah mengendap dalam benak pengamat sepanjang hidupnya. Kecurigaan ini sejalan dengan pemikirannya bahwa pengamatan harus dilakukan secara murni, yang artinya pengamat dapat mengontrol dirinya secara sadar terhadap pengaruh dari pengetahuan yang sudah dimilikinya.

Reduksi ketiga semakin ekstrim sebab Husserl mencoba melakukan pembersihan kesadaran pengamat dari seluruh tradisi pengetahuan. Orang diharuskan memurnikan dirinya sendiri ketika melakukan pengamatan fenomenologis sebab yang ingin dicapai adalah pengetahuan yang murni. Bagi Husserl sangat penting bahwa selama proses pengamatan tidak boleh ada hal-hal yang mengganggu supaya pengetahuan yang dihasilkan tentang obyek bersifat murni.

Dengan demikian, reduksi mirip proses mengupas bawang merah, selapis demi selapis hingga akhirnya sampai kepada inti paling dalam yaitu hakekat obyek. Selain itu, Husserl dengan reduksi juga menegaskan bahwa pengetahuan murni tentang realitas hanya dimungkinkan jika manusia juga melakukannya dengan kesadaran murni, yang tidak dicemari oleh subyektivitas dirinya, pengetahuan yang pernah dimilikinya, dan seluruh tradisi pengetahuan yang pernah ada. Proses reduksi, selain menunjukkan proses aktifnya kesadaran juga menjelaskan sikap Husserl yang paling dasar yaitu pengetahuan yang murni hanya dapat diperoleh melalui pengamatan yang murni, bebas dari pengaruh subyektivitas manusia dan pengetahuan yang pernah dimilikinya.

Sumber: Hamersma, Harry, 1983, Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern, Jakarta: Gramedia.

Oleh: Djarot Purbadi, Sudaryono dan Achmad Djunaedi

Dari tulisannya, terlihat jelas bahwa cara Van Peursen melihat fenomenologi berbeda jika dibandingkan dengan Bertens (1990). Selain itu, elemen-elemen yang dibahas juga berbeda. Dalam membahas fenomenologi Husserl, Van Peursen menekankan relasi yang khas antara obyek yang diamati dengan subyek yang melihat. Adapun kunci-kunci fenomenologi Husserl menurut Van Peursen adalah (1) relasi subyek dan obyek, (2) transendensi, (3) pemahaman melalui pengamatan bertahap, dan (4) horison-horison, (5) logika transendental, dan (6) cakrawala kenyataan. Bagaimanapun juga, pandangan van Peursen melengkapi gambaran kita tentang fenomenologi versi Husserl yang dikupas oleh Bertens (1990).

Menurut an Peursen (1988: 59) fenomenologi adalah meneliti data menurut bentuk penampakannya, sebab setiap fenomen menunjuk sesuatu di luar dirinya. Van Peursen tidak menjelaskan secara detil dan formal tentang pengertian fenomen seperti yang dilakukan oleh Bertens (1990), yang memberikan pengertian fenomen – noumen menurut Kant dan Husserl yang berbeda. Ia lebih melihat fenomen dalam kaitan dengan relasi subyek-obyek, yaitu data. Bagi van Peursen, fenomen adalah sesuatu yang di luar subyek, yaitu dunia obyek-obyek. Tampaknya van Peursen ingin mendekati fenomenologi dengan cara yang praktis dan tidak terjebak pada definisi yang ketat (filosofis), meskipun menyadari adanya resiko atas sikapnya itu.

Kunci pertama, relasi subyek dan obyek. Relasi SUBYEK – OBYEK mendapat tekanan khusus pada Husserl, khususnya struktur subyek yang mengetahui (Peursen, 1988: 59). Dalam penjelasannya, van Peursen menekankan aspek relasi yang khas subyek dengan obyek dan mengacu pada pandangan bahwa subyek memiliki struktur pengamatan yang unik. Subyek memiliki cara tertentu dalam menangkap dan memahami obyek, dan obyek-pun memiliki hakekat yang khas berkaitan dengan semesta realitas. Bagi van Peursen (1988: 59) obyek tidak sekedar dirinya sendiri, melainkan ia mewakili kelompok obyek yang lain. Artinya, jika kita melihat sebuah obyek, maka sebenarnya kita melihat ”dunia obyek sejenis” yang lebih luas. Jika ia menghadapi seorang tukang becak yang sedang berceritera tentang kehidupan pribadinya, tidak berhenti di situ. Menurut van Peursen kita melihat dunia kehidupan tukang becak yang lebih luas. Dalam hal ini ada pandangan bahwa bagian mewakili keseluruhan di dalam proses pengamatan, meskipun pengetahuan nir-kasat mata itu dianggap sebagai kenyataan sementara. Nah, pengertian nir-kasat mata ini tidak ditemukan dalam penjelasan Bertens (1990).

Seorang arsitek yang mengamati obyek tertentu, misalnya fenomena ruang Malioboro, ia memasuki suatu relasi yang erat antara dirinya (subyek = pengamat) dengan obyek ruang Malioboro (obyek = yang diamati). Ruang Malioboro tidak sekedar mengungkapkan dirinya, melainkan ia mewakili ruang-ruang kota sejenis. Ia juga memberi penjelasan beberapa hal pokok tentang ruang sejenis, yang ada di tempat lain. Artinya, mengetahui Malioboro sebenarnya juga mengetahui ruang kota yang sejenis dengan Malioboro di lain tempat (kota-kota lain). Ketika kita melihat tugu atau alun-alun, maka kita sebenarnya juga melihat ”dunia tugu dan alun-alun” yang lebih luas.

Kunci kedua, penyeberangan atau transendensi. Menurut van Peursen, manusia mengamati sebuah benda dalam ruang, maka hanya salah satu aspeknya yang tertangkap; misalnya melihat sisi atas, samping atau depan (Abschatung)( Peursen, 1988: 59). Setiap melihat salah satu sisi kubus, misalnya, sebenarnya pengamat juga “melihat” sisi bawah yang berupa segi empat (sudah diandaikan), maka dalam situasi ini terkandung aspek penyeberangan (transendensi)( Peursen, 1988: 60). Van Peursen menjelaskan bahwa menurut Husserl, di dalam pengamatan “obyek khusus” terkandung juga “obyek pada umumnya”; jadi muncul juga pengetahuan tersirat yang lebih banyak (Peursen, 1988: 60). Jika manusia mengamati sebuah kubus, maka ia juga mengetahui kubus pada umumnya, atau jika mengamati warna merah pada suatu benda maka juga mengetahui warna merah pada umumnya. Artinya, yang bersifat umum (eidos) tidak berdiri di luar, melainkan terkandung di dalam pengamatan benda kongkrit yang dihadapi. Jadi sambil mengamati obyek tertentu, pengamat telah melangkah lebih jauh. Jika seorang pengamat menemukan tugu sebagai salah satu ujung jalan Malioboro, maka secara otomatis ia sudah mengandaikan bahwa ada ujung lain dari obyek yang diamatinya itu. Kebetulan saja di lapangan ditemukan adanya panggung Krapyak sebagai ujung yang lain itu. Artinya, jika kita sudah memegang sebuah titik dari fenomena yang kita amati, maka di dalam benak kita ada titik lain yang menjadi pasangannya. Jadi pengamatan yang bersifat transendensi ini memacu timbulnya gagasan atau hipotesis baru tentang pasangan dari obyek yang kita amati.

Kunci ketiga, pemahaman melalui pengamatan bertahap. Menurut van Peursen, pengamatan terjadi secara bertahap dan terus menerus dari berbagai sisi, maka pengetahuan tentang obyek dikembangkan dan disempurnakan. Dalam proses pengamatan bertahap itulah SUBYEK hadir pula; subyek dan obyek hadir bersama-sama. Van Peursen tidak menjelaskan secara rinci tahapan-tahapan dalam proses pengamatan bertahap ini. Tekanannya bahwa di dalam proses pemahaman dan pengamatan bertahap itulah subyek dan obyek hadir secara semakin tegas dan bersama-sama. Tekanan relasi yang erat subyek-obyek ini memang menonjol dalam pikiran van Peursen, namun proses pengamatan bertahap justru jelas pada gambaran Bertens yang menggunakan konsep konstitusi. Menurut Bertens, pemahaman lengkap dan absolut diperoleh melalui proses konstitusi atas profil-profil obyek.

Kunci keempat, horison-horison. Menurut van Peursen, Husserl berpendapat bahwa setiap obyek selalu didekati dengan horison tertentu, sehingga ia selalu berada dalam jalinan dengan sesuatu di luar dirinya. Sebuah obyek tidak pernah dalam keadaan terisolir (Peursen, 1988: 60). Melihat sebuah rumah terkait dengan kesadaran bahwa ia terletak di suatu jalan, di sebuah kota; ada horison lahiriah (Peursen, 1988: 60). Rumah tersebut juga terkait dengan kesadaran akan waktu (umurnya, dsb); ada horison waktu (Peursen, 1988: 60). Jadi pada waktu mengamati rumah seperti ada dimensi-dimensi yang tidak terlihat namun dialami dan terkandung dalam proses pengamatan. Dimensi-dimensi itu terbentang ke berbagai arah. Pengamatan terhadap sebuah obyek juga selalu terkait dengan pengamat-pengamat lain; ada dimensi intersubyektif (Peursen, 1988: 61). Proses pengamatan ternyata tidak sederhana, sebab melibatkan horison-horison dan pengamat-pengamat lain. Kepekaan dan kekritisan terhadap situasi pengamatan yang rumit semacam ini akan menolong pemahaman yang semakin dalam terhadap obyek yang diamati.

Kunci kelima, logika transendental. Menurut van Peusen, fenomenologi Husserl mengandung logika transendental. Segala sesuatu (obyek) selalu menunjuk sesuatu di luar dirinya, baik cakrawala-cakrawala maupun subyek-subyek, maka setiap pengamatan selalu mengenal lebih banyak (tidak hanya yang dilihat). Kata van Peursen, kebenaran tak dapat dipetik demikian saja bagaikan buah- buah jambu, sebab jumlah relasi yang terkandung di dalam suatu obyek tak ada batasnya (Peursen, 1988: 61). Kebenaran adalah sebuah ide yang cakrawalanya tidak kunjung teraih. Proses mengetahui selalu menghadirkan subyek-obyek secara bersama-sama dan di dalam lingkungan cakrawala-cakrawala yang terus-menerus menampakkan diri. Subyek dan obyek saling berkaitan dan saling menentukan, obyek dibentuk melalui proses pengamatan yang terus menerus: obyek semakin lama semakin dikenal (Peursen, 1988: 62). Dengan demikian, pengamatan tidak berhenti pada proses sekali jalan melainkan proses-proses lain yang lebih rumit.

Kunci keenam, cakrawala kenyataan. Van Peursen menyatakan bahwa cakrawala pengamat (subyek) selalu berada dalam kaitan dengan lingkungan kebudayaan (Peursen, 1988: 62). Artinya, cakrawala seseorang dipengaruhi oleh lingkungan kebudayaannya. Ada kebudayaan yang memandang warna putih sebagai tanda kesedihan, atau warna jingga sebagai warna sakral (Budhis). Hal itu berarti bahwa fakta tidak pernah obyektif semata-mata, karena selalu diteropong oleh subyek yang menduduki tempat tertentu, hidup di jaman tertentu, di dalam lingkungan budaya tertentu, sambil berkontak dengan pengamat-pengamat lain. Meskipun demikian, subyek- subyek tidak terjebak di dalam cakrawala masing- masing, sebab selalu terjadi dialog dalam hubungan intersubyektivitas untuk menghasilkan penilaian bersama.

Kunci keenam ini menuntun pada pemahaman bagaimana peran penting dari lingkungan kebudayaan di dalam proses pengamatan. Orang tidak dapat lepas bebas dari hal-hal yang melingkupi kehidupannya selama hidupnya dalam menjalankan proses pengamatan. Atas dasar kunci-kunci fenomenologi Husserl menurut van Peursen tersebut tampak dengan jelas bahwa proses memahami melalui pengamatan fenomenologis itu rumit, khususnya melibatkan kerumitan pada subyek pengamat maupun obyek yang diamatinya. Akibatnya, proses penampakan obyek terhadap subyek dapat sangat bervariasi, meskipun tidak jarang terjadi pemahaman yang sama (overlapping) antara pengamat yang satu terhadap yang lain. Pemahaman yang sama tersebut muncul dari proses pemahaman intersubyektif.

Sumber: Peursen, C.A. van., 1988, Orientasi di Alam Filsafat, terjm. Dick Hartoko, Jakarta: Gramedia.

———–

Ir. Y. Djarot Purbadi, MT, kandidat doktor Arsitektur pada Program Pasca-sarjana Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada

Ir. Sudaryono, M.Eng.PhD, asisten profesor pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada

Ir. Achmad Djunaedi, MUP, Ph.D, profesor pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada

Oleh: Djarot Purbadi, Sudaryono dan Achmad Djunaedi

Minimal ada enam kunci penting untuk memahami fenomenologi versi Husserl yang dapat ditemukan dalam tulisan Bertens (1990), yaitu: (1) pemahaman terhadap obyek mengikuti proses tertentu yang tidak bersifat garis lurus, (2) fenomenologi mempelajari apa yang tampak oleh kesadaran manusia dan itu adalah realitas, bukan kabut atau tirai realitas, (3) penampakan obyek melalui proses konstitusi oleh kesadaran yang intensional dan aktif, (4) pemahaman yang sungguh-sungguh tentang obyek dapat diperoleh secara mendalam jika melibatkan aspek proses terbentuknya obyek, (5) sikap fenomenologi sangat berhati-hati terhadap profil-profil penampakan sebagai bagian dari penampakan obyek yang total dan absolut, dan (6) dunia (realitas) selalu terkait dengan kesadaran, maka kesadaran selalu intensional, terarah kepada sesuatu.

PEMULA ABADI “ein ewige Anfaenger” adalah sebutan untuk Husserl dirinya sendiri, maksudnya: jika ia terbentur kesulitan baru, ia tidak membuang pemikiran sebelumnya melainkan seluruh permasalahan diselidiki kembali secara lebih mendalam (Bertens, 1990: 100). Dengan ungkapannya itu ingin dikatakan bahwa bagi Husserl proses memahami obyek bukan berjalan menurut garis lurus (seperti faham Descartes), melainkan memiliki proses yang berbeda. Gagasan Husserl ini tampaknya terkait dengan proses konstitusi dalam menemukan pemahaman yang erat kaitannya dengan cara penampakan obyek kepada subyek lewat profil-profil.

Dalam praktek, jika ingin mengetahui sungguh-sungguh tentang obyek arsitektur, misalnya, realitas ruang di Jalan Malioboro, pengamat tidak dapat hanya melakukan proses pengamatan ”sekali jalan” melainkan harus dilakukan proses-proses pengamatan yang berkali-kali dan berulang (iteratif). Dalam strategi tertentu, dapat dilakukan proses pengamatan secara menjelajah (grandtour) yang dipadukan secara intensif dengan proses pengamatan terfokus (minitour). Jadi tidak berjalan dengan pola proses garis lurus melainkan iteratif dengan strategi tertentu.

FENOMENOLOGI adalah ilmu yang mempelajari apa yang tampak atau apa yang menampakkan diri (fenomena)(Bertens, 1990: 100). Tetapi perlu dipahami bahwa fenomena versi Husserl berbeda dari fenomena versi Kant. FENOMENA menurut Kant, manusia hanya mengenal FENOMENON bukan NOUMENON (realitas), manusia hanya mengenal fenomen-fenomen dan bukan realitas itu sendiri. Bagi Kant, yang tampak ialah semacam tirai selubung realitas, jadi bukan realitas itu sendiri (Bertens, 1990: 100). Manusia hanya mengenal pengalaman batinnya sendiri yang diakibatkan oleh realitas, bukan realitas itu sendiri (ibid). Fenomena bukanlah realitas (noumena). Fenomena menurut Husserl adalah realitas itu sendiri yang tampak, sebab tidak ada selubung atau tirai yang memisahkan manusia dari realitas (Bertens, 1990: 101). Kesadaran manusia selalu terarah kepada realitas, maka bersifat intensional, jadi “kesadaran akan sesuatu” (ibid). Pengalaman estetis selalu terkait dengan obyek estetis (ibid) di dalam kesadaran pengamat.

Jika menerapkan kunci ini, pengamat harus bersikap tegas bahwa apa yang ditemui di lapangan adalah realitas yang dijumpai. Artinya, tidak ada realitas lain di luar apa yang diamati dan dijumpai di lapangan. Ketika pengamat menjumpai bahwa di Malioboro banyak pedagang kaki lima, maka harus disimpulkan bahwa realitas PKL memang sungguh ada di Malioboro.

KONSTITUSI adalah proses tampaknya fenomen-fenomen kepada kesadaran, jadi suatu aktivitas kesadaran yang memungkinkan tampaknya fenomena (Bertens, 1990: 101); dunia real dikonstitusi oleh kesadaran (ibid). Kesadaran harus ada di dunia supaya penampakan dunia dapat berlangsung (Bertens, 1990: 102). Kesadaran bersifat aktif. Proses persepsi dapat menjelaskan arti konstitusi yang dimaksudkan oleh Husserl (102). Bagi persepsi, gunung yang saya lihat adalah sintesis semua perspektif (pandangan atau penampakan dari segala arah), maka gunung itu telah mengalami konstitusi (ibid).

Pengamat yang menerapkan kunci ini sangat sadar bahwa fenomena kehidupan di Jalan Malioboro harus diamati berkali-kali dan dari berbagai sudut pengamatan. Jika mengikuti kunci ini, maka proses grandtour dapat dilakukan berkali-kali, demikian juga proses minitour. Pengamat akan melakukan proses pengamatan menjelajah berkali-kali untuk mendapatkan hasil atau gambaran kehidupan di Malioboro yang bersifat garis besar. Nah, proses pengamatan berkali-kali juga dapat dan perlu dilakukan juga pada proses minitour, yaitu mengamati berkali-kali obyek tertentu, misalnya: parkir, toko kain, toko obat, atau lainnya yang dibatasi spesifikasinya.

PROSES HISTORIS atau KESADARAN SEJARAH merupakan kunci terakhir dalam pemikiran Husserl tentang fenomenologi, yaitu bahwa segala hal yang tampak saat ini hanya dapat dipahami sungguh-sungguh jika dikaitkan dengan sejarah terbentuknya (Bertens, 1990: 102). Terbentuknya suatu kota atau desa hanya dapat diterangkan dengan menyelidiki perkembangannya (ibid).

Jika pengamat ingin menerapkan kunci ini, maka perlu digali informasi yang mendalam tentang proses terjadinya obyek. Fenomena ruang kota di jalan Maliboro saat ini dilihat lebih cermat dengan informasi tentang proses terjadinya elemen-elemen di dalamnya. Keberadaan pedagang makan lesehan di Malioboro yang sekarang terkenal dapat dipahami dengan sungguh-sungguh jika dapat diperoleh informasi yang ditelusuri menembus waktu sejarah. Artinya, informasi tentang proses terbentuknya suatu obyek di jalan Malioboro perlu digali dengan proses iteratif sehingga diperoleh tingkat kemantapan informasi yang kokoh.

REDUKSI FENOMENOLOGIS atau REDUKSI TRANSENDENTAL (Bertens, 1990: 103). Reduksi merupakan batu sendi bagi seluruh filsafat Husserl. Ia membedakan adanya sikap natural dan sikap fenomenologis. Sikap natural adalah meyakini bahwa dunia sungguh-sungguh ada sebagaimana diamati dan dijumpai, sedangkan sikap fenomenologis ”menetralkan” (bukan menyangsikan, seperti Descartes) keberadaan dunia yang diyakini oleh sikap natural. Husserl tidak mempercayai keberadaan dunia jika sekedar apa yang diamati dan dijumpai sebab ia punya keyakinan bahwa setiap penampakan selalu bersifat profil-profil. Ia yakin bahwa cara penampakan obyek selalu bersifat sepotong-sepotong, sehingga diperlukan proses pengamatan yang berkeluasan dalam ruang. Setiap penampakan kepada subyek tidak pernah menurut semua profilnya, secara total dan absolut.

Pengamat yang mempraktekkan kunci ini akan berusaha tenang dan kritis terhadap apapun yang ditemui di lapangan. Jika yang diperoleh adalah informasi verbal, misalnya tentang sejarah PKL di Malioboro, maka ia akan berhati-hati. Informasi dari seorang informan akan diletakkan sebagai sepotong informasi yang perlu dilihat kaitannya dengan informasi dari informan lain. Sikap ini lahir dari pemikiran, bahwa yang dilihat atau didengar adalah ”profil-profil” realitas yang masih perlu ”dikonstitusi” oleh kesadaran pengamat. Informasi itu bukan realitas yang total dan absolut, melainkan informasi sebagian-sebagian yang masih perlu dijahit (dikonstitusi) oleh ksadaran pengamat yang akhirnya akan membentuk realitas yang utuh.

INTENSIONALITAS KESADARAN merupakan konsep kunci dalam fenomenologi Husserl (Bertens, 1990: 104). Kesadaran selalu terarah kepada dunia, sebagai intensional. Dunia dalam pandangan Husserl selalu terkait dengan kesadaran manusia, sebab dunia selalu merupakan korelat bagi kesadaran; dunia sebagai fenomen. Pengamat yang menerapkan kunci ini selalu sadar bahwa obyek yang diamati adalah obyek yang dikenai kesadarannya, sedangkan obyek yang luput dari kesadarannya tidak termasuk dalam fenomena yang diamatinya.

Dalam praktek di lapangan, sebuah obyek akan digali informasinya jika masuk dalam bidang kesadaran pengamat. Misalnya, pengamat mengarahkan kesadarannya pada fenomena lesehan di Malioboro, maka hanya obyek itulah yang tampak dan digali informasinya. Obyek lain barangkali untuk sementara disimpan dan akan menjadi sasaran penggalian informasi jika kesadaran diarahkan kepadanya.

Pustaka: Bertens, K., 1990, Filsafat Barat Abad XX Inggris-Jerman, Jakarta: PT Gramedia

————–

Ir. Y. Djarot Purbadi, MT, kandidat doktor Arsitektur pada Program Pasca-sarjana Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada

Ir. Sudaryono, M.Eng.PhD, asisten profesor pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada

Ir. Achmad Djunaedi, MUP, Ph.D, profesor pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada

Salam Sejahtera,

Blog ini secara khusus ingin menghimpun dan menyajikan berbagai kajian tentang arsitektur yang didekati dengan cara kerja para fenomenolog. Dalam pandangan kami, fenomena arsitektur pada skala mikro (bangunan) maupun meso (kelompok bangunan) merupakan realitas kehidupan yang sangat kaya dimensi. Ia bukan sekedar fenomena visual, melainkan fenomena yang memiliki berbagai dimensi yang melekat dalam kehidupan dan kemanusiaan secara mendalam. Rentangnya dari dimensi visual hingga transenden, yang menyentuh aspek nilai-nilai kehidupan yang mendalam.

Oleh karenanya, pendekatan dengan pancaindra yang terbatas pada kemampuan mata mengamati tidaklah mencukupi untuk memahaminya secara mendalam. Jika ingin mendapatkan “pengalaman” menghayati dan kemudian dapat menceriterakan kekayaan pengalaman tentang ruang arsitektural, salah satu cara yang digunakan adalah dengan pengamatan khusus. Bukan dengan pengamatan biasa, melainkan dengan sikap fenomenologis. Salah satu cara pendekatan yang memungkinkan kita memahami secara mendalam fenomena dan realitas arsitektur adalah dengan meminjam cara pengamatan dari kalangan fenomenologi, khususnya bisa belajar dari Husserl.

Salam,
Djarot Purbadi

Oleh: djarotpurbadi | Oktober 2, 2008

Arsitektur dan Fenomenologi

Salam Sejahtera bagi Kita Semua,

Blog ini dimaksudkan untuk menjadi wahana komunikasi lintas disiplin, khususnya yang berminat dalam bidang arsitektur dan fenomenologi. Harapannya, semoga dapat dikumpulkan berbagai pengalaman para pihak yang meminati arsitektur dan/atau fenomenologi sebagai dua dunia yang saling berdialog. Komunikasi dua disiplin ini menarik untuk dikumpulkan supaya terjadi proses pembelajaran dan pengembangan pada kedua bidang tersebut yang saling memperkaya dan akhirnya akan menyumbang  bagi kualitas kehidupan manusia secara mendalam.

Selamat bergabung dan menikmati informasi dalam blog ini,

Salam,

Djarot Purbadi

Kategori